BAB 1

BAB 1: WAJAH KRIMINAL, HATI MALAIKAT

TEMAN YANG BISA DIANDALKAN

BAB 1: WAJAH KRIMINAL, HATI MALAIKAT

🗓 25 Jul 2025 👁 743 Views
BAB 1: WAJAH KRIMINAL, HATI MALAIKAT

Langit di atas SMPN 13 Konniha siang itu warnanya bukan lagi biru, melainkan putih menyilaukan saking teriknya. Matahari seakan-akan punya dendam pribadi pada kami, para siswa yang baru saja dibubarkan oleh bel pulang sekolah. Panasnya bukan main, jenis panas yang bikin aspal jalanan menguap dan menciptakan fatamorgana di ujung jalan. Namun, bagi kami—aku, Rido, Soip, Jojon, dan tentu saja sang legenda hidup kami, Wawan—panas ini hanyalah bumbu penyedap kehidupan remaja yang keras tapi jenaka.

Kalian harus tahu dulu di mana kami berpijak. Konniha. Namanya memang terdengar seperti plesetan desa ninja di anime Naruto yang sering kami tonton secara maraton saat liburan semester. Tapi percayalah, ini bukan Konoha. Tidak ada Hokage di sini, yang ada hanya Pak Kepala Sekolah yang rambutnya sudah memutih karena memikirkan kenakalan kami, dan tentu saja, Ibu Sri yang aura membunuhnya bisa menyaingi killing intent Orochimaru. SMPN 13 Konniha adalah tempat di mana legenda-legenda kecil lahir dari hal-hal sepele, dan di pusat segala legenda itu, berdiri seorang remaja bernama Wawan.

Mari kita bicara soal Wawan.

Jika kau melihat Wawan untuk pertama kali tanpa mengenalnya, insting pertamamu pasti adalah mengamankan dompet, lalu mundur perlahan, dan lari sekencang-kencangnya. Wawan adalah anomali genetika yang membingungkan. Dia anak dari Ibu Komkom yang ramah dan Pak Basuki yang murah senyum, tapi entah bagaimana, alam semesta memutuskan untuk memberinya wajah yang... bagaimana mengatakannya ya... artistik dalam nuansa kriminal.

Rahangnya tegas dan keras, alisnya tebal menukik tajam seperti sedang marah permanen, dan tatapan matanya tajam menusuk, seolah dia sedang menghitung dosa-dosamu. Kulitnya sawo matang yang agak terlalu matang karena sering terpanggang matahari saat main layangan atau bola. Kalau dia diam saja di pojokan kelas, adik kelas pasti akan memilih jalan memutar lewat kantin daripada harus melewati mejanya. Julukan "muka preman" sudah melekat padanya seperti stiker caleg di tiang listrik—susah dilepas.

Tapi, pepatah "don't judge a book by its cover" sepertinya diciptakan khusus untuk Wawan. Di balik wajah yang bisa membubarkan tawuran hanya dengan satu kali dehem itu, tersimpan hati yang terbuat dari kapas, gula aren, dan segala hal yang manis di dunia ini.

"Woi, minggir! Panas nih!" teriak seorang siswa kelas lain yang sedang berdesakan di koridor.

Aku melihat Wawan menoleh. Alih-alih marah, dia justru tersenyum—yang jujur saja, malah membuatnya terlihat sedikit lebih mengerikan, seperti penjahat film yang baru saja menemukan mangsanya.

"Sabar, Bro. Gerbangnya nggak bakal lari," ucap Wawan dengan suara baritonnya yang tenang. Tangannya yang besar dan kasar justru dengan lembut menarik tas seorang siswi kecil yang terjepit di antara kerumunan, memberinya ruang untuk bernapas. "Lewat dulu, Dek. Kasihan kegencet."

Siswi itu mendongak, matanya membesar melihat wajah Wawan, tapi kemudian dia mengangguk pelan, "M-makasih, Kak Wawan."

Itulah Wawan. Si Spider-Man lokal kami. Dia tidak punya jaring laba-laba, dia tidak bisa memanjat dinding (kecuali pagar sekolah kalau telat), dan dia pasti tidak punya kostum ketat berwarna merah-biru. Tapi, kemampuannya untuk hadir di saat yang tepat dan menyelesaikan masalah—mulai dari masalah remeh temeh duniawi sampai krisis eksistensial remaja—membuatnya menjadi aset paling berharga di tongkrongan kami.

Kami sering menyebutnya "Sang Penyelesai Masalah Duniawi". Multitalenta adalah kata yang terlalu sederhana untuk mendeskripsikannya. Dia bisa memperbaiki kipas angin kelas yang mati, dia bisa menggiring bola melewati tiga bek lawan, dia bisa memasak nasi goreng yang rasanya bikin lidah bergoyang, dan dia bahkan bisa menenangkan guru BK yang sedang ngamuk.

Siang itu, kami sedang berjalan menuju gerbang sekolah yang padatnya sudah tidak masuk akal. Rasanya seperti sarden yang dikemas paksa dalam kaleng yang terlalu kecil. Keringat bercucuran, bau parfum murah bercampur bau matahari menguar di udara.

"Gila, ini gerbang apa lubang hidung? Sempit amat," keluh Soip sambil mengipas-ngipas wajahnya dengan buku tulis yang sudah lecek.

"Namanya juga bubaran, Ip. Nikmatin aja prosesnya," sahut Wawan santai. Dia berjalan di depan kami, membelah kerumunan seperti Nabi Musa membelah Laut Merah. Orang-orang secara naluriah menepi saat melihat bahu tegap Wawan mendekat.

Aku berjalan di belakangnya, merasa aman dalam bayang-bayang sang raksasa berhati lembut ini. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Dari kejauhan, di antara riuh rendah suara klakson motor penjemput dan teriakan tukang cilok, aku melihat sesuatu—atau lebih tepatnya seseorang—yang sedang berlari dengan kecepatan tidak wajar.

Itu Rido.

Dia berlari memecah kerumunan, menabrak bahu kiri dan kanan, wajahnya pucat pasi seolah baru saja melihat hantu penunggu toilet sekolah. Napasnya memburu, matanya melotot liar.

"Minggir! Minggir woi!" teriak Rido.

Aku menepuk bahu Wawan. "Wan, itu si Rido kenapa? Kesurupan?"

Wawan menyipitkan matanya, menahan silau matahari. "Bukan. Itu lari bukan karena takut setan. Itu lari orang yang baru inget kalau hidupnya dalam bahaya."

Dan benar saja, Rido sampai di hadapan kami dengan napas yang putus-putus, seperti ikan mas koki yang ditaruh di daratan. Dia membungkuk, memegangi lututnya, mencoba meraup oksigen sebanyak-banyaknya.

"Gawat... Hah... Gawat, Cuk... Hah..." Rido terengah-engah.

"Kenapa, Do? Dikejar anjing pak satpam lagi?" tanya Soip, setengah mengejek.

Rido menggeleng panik, keringat sebesar biji jagung menetes dari pelipisnya. Dia menatap kami satu per satu dengan tatapan putus asa, lalu matanya terkunci pada Wawan, satu-satunya harapan yang dia miliki.

"Bukan... Hah... Ini lebih parah dari anjing..."

Wawan menatap Rido dengan tenang, tangannya bersedekap di dada. "Tarik napas dulu, Do. Santai. Dunia belum kiamat. Kenapa?"

Kalimat Rido selanjutnya membuat kami semua, kecuali Wawan, menahan napas. Masalah baru saja datang, dan kali ini, nama masalah itu adalah Bu Sri.

Bagaimana bab ini menurutmu?

Rate
Kembali ke Depan

Diskusi 0

G