BAB 3: KEAJAIBAN DI ATAS KERTAS GAMBAR
Kami memutuskan untuk singgah dulu di pos ronda dekat rumah Joni sebelum menuju lapangan. Pos ronda ini adalah markas besar kami. Markas yang strategis karena letaknya di perempatan jalan kompleks, dikelilingi pohon mangga yang rindang, dan—yang paling penting—dekat dengan warung Mbak Yul yang menjual gorengan paling enak se-kecamatan.
Angin sore mulai bertiup, sedikit mengusir hawa panas sisa siang tadi. Di pos ronda yang terbuat dari bambu dan kayu tua itu, Wawan mulai menggelar "peralatannya". Bukan sepatu bola, melainkan buku gambar ukuran A3 milik Rido, pensil 2B, penghapus, dan penggaris.
"Lo yakin mau ngerjain sekarang, Wan? Nggak mau main bola dulu?" tanya Rido, yang kini sudah berganti pakaian dengan jersey bola KW super favoritnya. Dia merasa sedikit bersalah melihat temannya bekerja sementara dia bersiap-siap bersenang-senang.
Wawan menggeleng tanpa mengalihkan pandangan dari kertas putih di hadapannya. "Nggak, Do. Mumpung mood lagi bagus dan cahayanya pas. Kalau ditunda nanti malem, mata gua udah sepet. Lagian, main bolanya kan masih setengah jam lagi nunggu anak-anak lain kumpul. Cukup lah ini waktunya."
"Setengah jam?!" seru Soip yang sedang mengunyah bakwan jagung. "Mana cukup, Wan? Itu Garuda, bukan gambar bebek!"
Wawan hanya tersenyum tipis. Tangannya mulai bergerak. Dan saat itu, kami semua terdiam menyaksikan sebuah pertunjukan sihir.
Tangan Wawan yang besar dan kasar, yang biasa digunakan untuk mengangkat galon atau menggali tanah, kini menari dengan luwes di atas kertas. Goresannya tegas namun halus. Dia tidak membuat sketsa kasar yang berantakan. Dia langsung menggambar kepala Garuda dengan presisi yang menakutkan.
Lengkungan paruhnya, tajamnya sorot mata Garuda, hingga detail bulu-bulu di leher, semuanya muncul begitu saja dari ujung pensilnya. Wawan bekerja seperti mesin fotokopi hidup.
"Gila..." gumam Jojon yang baru datang, matanya tak berkedip melihat kertas gambar itu. "Itu tangan apa printer laser, Wan?"
"Diem, Jon. Jangan ganggu konsentrasi seniman," tegurku pelan, takut memecahkan fokus Wawan.
Wawan sepertinya masuk ke dalam zonanya sendiri. Keringat menetes dari pelipisnya, tapi dia tidak peduli. Matanya menyipit, mengukur proporsi sayap kanan dan kiri tanpa menggunakan penggaris, hanya mengandalkan insting visualnya.
"Bulu sayap, tujuh belas," gumam Wawan pelan, lebih kepada dirinya sendiri. Tangannya bergerak cepat, sret, sret, sret. Garis-garis itu membentuk susunan bulu yang rapi dan simetris. "Ekor, delapan. Pangkal ekor, sembilan belas. Leher, empat puluh lima."
Aku melihat Rido. Dia menatap Wawan dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara rasa kagum, rasa bersalah, dan rasa syukur yang mendalam. Dia tahu, dia berhutang budi besar pada Wawan hari ini.
"Wan, minum dulu," Rido menyodorkan es teh plastik yang baru dia beli.
"Taruh aja di situ," kata Wawan tanpa berhenti mengarsir bagian perisai di dada Garuda. "Dikit lagi kelar."
Waktu berlalu. Suara anak-anak kecil yang bermain sepeda di sekitar pos ronda menjadi musik latar. Langit mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan. Dan tepat saat matahari mulai condong ke barat, Wawan meletakkan pensilnya. Dia meniup remah-remah penghapus dari atas kertas, lalu mengangkat buku gambar itu tinggi-tinggi.
"Selesai," ujarnya puas.
Kami semua mendekat, mengerumuni karya seni itu.
Hasilnya luar biasa. Burung Garuda itu terlihat gagah, seolah-olah siap terbang keluar dari kertas. Arsiran pensilnya memberikan dimensi dan kedalaman, membuat warna emas Garuda seakan terbayang meski hanya hitam putih. Sila-sila Pancasila di perisainya tergambar jelas, bahkan rantai dan kepala bantengnya pun terlihat detail. Tulisan "Bhinneka Tunggal Ika" di pita cengkeraman kaki Garuda tertulis dengan huruf kapital yang rapi dan tegas.
"Wuidih..." Rido melongo. Dia mengambil buku gambar itu dengan tangan gemetar, memperlakukannya seperti benda pusaka keramat. "Ini sih lebih bagus dari contoh di buku paket, Wan! Gila, lo keren banget!"
"Ah, biasa aja," elak Wawan sambil menyeruput es tehnya yang sudah mulai mencair es batunya. "Yang penting Bu Sri nggak marah, kan?"
"Marah? Bu Sri bakal nangis terharu lihat ini!" seru Soip berlebihan. "Nilai lo pasti seratus, Do. Atau malah seratus sepuluh!"
"Udah, udah, simpen dulu itu buku gambarnya. Masukin tas, jangan sampai kegencet atau kena air," perintah Wawan sambil berdiri dan meregangkan otot-ototnya yang kaku. Bunyi krek terdengar dari punggungnya. "Sekarang, waktunya kita urus masalah di lapangan."
Wawan menatap ke arah lapangan bola di ujung jalan. Matanya yang tadi penuh konsentrasi seni, kini berubah menjadi tatapan tajam seorang jenderal perang.
"Rido, lo siap lari?" tanya Wawan.
"Siap, Kapten!" Rido memberi hormat, semangatnya membara kembali.
"Bagus. Anak-anak kompleks sebelah katanya bawa pemain cabutan dari SMP 5. Kita nggak boleh kalah di kandang sendiri," ujar Wawan sambil menyampirkan handuk kecil di lehernya. "Ayo, gerak!"
Kami berbondong-bondong menuju lapangan. Di belakang punggung Wawan yang lebar, aku tersenyum. Hari ini, Wawan bukan hanya menyelamatkan Rido dari amukan Bu Sri, tapi dia juga menyelamatkan sore kami agar tetap penuh tawa.
Namun, kami tidak tahu, bahwa di lapangan nanti, tantangan fisik yang menunggu kami jauh lebih berat daripada sekadar menggambar bulu burung.
Kami memutuskan untuk singgah dulu di pos ronda dekat rumah Joni sebelum menuju lapangan. Pos ronda ini adalah markas besar kami. Markas yang strategis karena letaknya di perempatan jalan kompleks, dikelilingi pohon mangga yang rindang, dan—yang paling penting—dekat dengan warung Mbak Yul yang menjual gorengan paling enak se-kecamatan.
Angin sore mulai bertiup, sedikit mengusir hawa panas sisa siang tadi. Di pos ronda yang terbuat dari bambu dan kayu tua itu, Wawan mulai menggelar "peralatannya". Bukan sepatu bola, melainkan buku gambar ukuran A3 milik Rido, pensil 2B, penghapus, dan penggaris.
"Lo yakin mau ngerjain sekarang, Wan? Nggak mau main bola dulu?" tanya Rido, yang kini sudah berganti pakaian dengan jersey bola KW super favoritnya. Dia merasa sedikit bersalah melihat temannya bekerja sementara dia bersiap-siap bersenang-senang.
Wawan menggeleng tanpa mengalihkan pandangan dari kertas putih di hadapannya. "Nggak, Do. Mumpung mood lagi bagus dan cahayanya pas. Kalau ditunda nanti malem, mata gua udah sepet. Lagian, main bolanya kan masih setengah jam lagi nunggu anak-anak lain kumpul. Cukup lah ini waktunya."
"Setengah jam?!" seru Soip yang sedang mengunyah bakwan jagung. "Mana cukup, Wan? Itu Garuda, bukan gambar bebek!"
Wawan hanya tersenyum tipis. Tangannya mulai bergerak. Dan saat itu, kami semua terdiam menyaksikan sebuah pertunjukan sihir.
Tangan Wawan yang besar dan kasar, yang biasa digunakan untuk mengangkat galon atau menggali tanah, kini menari dengan luwes di atas kertas. Goresannya tegas namun halus. Dia tidak membuat sketsa kasar yang berantakan. Dia langsung menggambar kepala Garuda dengan presisi yang menakutkan.
Lengkungan paruhnya, tajamnya sorot mata Garuda, hingga detail bulu-bulu di leher, semuanya muncul begitu saja dari ujung pensilnya. Wawan bekerja seperti mesin fotokopi hidup.
"Gila..." gumam Jojon yang baru datang, matanya tak berkedip melihat kertas gambar itu. "Itu tangan apa printer laser, Wan?"
"Diem, Jon. Jangan ganggu konsentrasi seniman," tegurku pelan, takut memecahkan fokus Wawan.
Wawan sepertinya masuk ke dalam zonanya sendiri. Keringat menetes dari pelipisnya, tapi dia tidak peduli. Matanya menyipit, mengukur proporsi sayap kanan dan kiri tanpa menggunakan penggaris, hanya mengandalkan insting visualnya.
"Bulu sayap, tujuh belas," gumam Wawan pelan, lebih kepada dirinya sendiri. Tangannya bergerak cepat, sret, sret, sret. Garis-garis itu membentuk susunan bulu yang rapi dan simetris. "Ekor, delapan. Pangkal ekor, sembilan belas. Leher, empat puluh lima."
Aku melihat Rido. Dia menatap Wawan dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara rasa kagum, rasa bersalah, dan rasa syukur yang mendalam. Dia tahu, dia berhutang budi besar pada Wawan hari ini.
"Wan, minum dulu," Rido menyodorkan es teh plastik yang baru dia beli.
"Taruh aja di situ," kata Wawan tanpa berhenti mengarsir bagian perisai di dada Garuda. "Dikit lagi kelar."
Waktu berlalu. Suara anak-anak kecil yang bermain sepeda di sekitar pos ronda menjadi musik latar. Langit mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan. Dan tepat saat matahari mulai condong ke barat, Wawan meletakkan pensilnya. Dia meniup remah-remah penghapus dari atas kertas, lalu mengangkat buku gambar itu tinggi-tinggi.
"Selesai," ujarnya puas.
Kami semua mendekat, mengerumuni karya seni itu.
Hasilnya luar biasa. Burung Garuda itu terlihat gagah, seolah-olah siap terbang keluar dari kertas. Arsiran pensilnya memberikan dimensi dan kedalaman, membuat warna emas Garuda seakan terbayang meski hanya hitam putih. Sila-sila Pancasila di perisainya tergambar jelas, bahkan rantai dan kepala bantengnya pun terlihat detail. Tulisan "Bhinneka Tunggal Ika" di pita cengkeraman kaki Garuda tertulis dengan huruf kapital yang rapi dan tegas.
"Wuidih..." Rido melongo. Dia mengambil buku gambar itu dengan tangan gemetar, memperlakukannya seperti benda pusaka keramat. "Ini sih lebih bagus dari contoh di buku paket, Wan! Gila, lo keren banget!"
"Ah, biasa aja," elak Wawan sambil menyeruput es tehnya yang sudah mulai mencair es batunya. "Yang penting Bu Sri nggak marah, kan?"
"Marah? Bu Sri bakal nangis terharu lihat ini!" seru Soip berlebihan. "Nilai lo pasti seratus, Do. Atau malah seratus sepuluh!"
"Udah, udah, simpen dulu itu buku gambarnya. Masukin tas, jangan sampai kegencet atau kena air," perintah Wawan sambil berdiri dan meregangkan otot-ototnya yang kaku. Bunyi krek terdengar dari punggungnya. "Sekarang, waktunya kita urus masalah di lapangan."
Wawan menatap ke arah lapangan bola di ujung jalan. Matanya yang tadi penuh konsentrasi seni, kini berubah menjadi tatapan tajam seorang jenderal perang.
"Rido, lo siap lari?" tanya Wawan.
"Siap, Kapten!" Rido memberi hormat, semangatnya membara kembali.
"Bagus. Anak-anak kompleks sebelah katanya bawa pemain cabutan dari SMP 5. Kita nggak boleh kalah di kandang sendiri," ujar Wawan sambil menyampirkan handuk kecil di lehernya. "Ayo, gerak!"
Kami berbondong-bondong menuju lapangan. Di belakang punggung Wawan yang lebar, aku tersenyum. Hari ini, Wawan bukan hanya menyelamatkan Rido dari amukan Bu Sri, tapi dia juga menyelamatkan sore kami agar tetap penuh tawa.
Namun, kami tidak tahu, bahwa di lapangan nanti, tantangan fisik yang menunggu kami jauh lebih berat daripada sekadar menggambar bulu burung.