BAB 2

BAB 2: RERUNTUHAN PARA DEWA BISU

The Rune Architect: Membangun Ulang Realitas

BAB 2: RERUNTUHAN PARA DEWA BISU

๐Ÿ—“ 28 Sep 2025 ๐Ÿ‘ 434 Views
BAB 2: RERUNTUHAN PARA DEWA BISU

Void Hound itu akhirnya berhenti bergerak setelah Kaelen, dengan sisa tenaga mentalnya, melemparkan satu lagi rune api kecil yang membakar sisa kepalanya. Tubuh monster itu tidak membusuk seperti bangkai biasa, melainkan perlahan menguap menjadi asap hitam berbau belerang, meninggalkan kristal kecil berwarna ungu gelap di lantai.

Kaelen memungut kristal itu. Terasa dingin, namun ada denyutan energi samar di dalamnya. Ia menyimpannya di saku celana kain lusuh yang entah bagaimana sudah ia kenakan saat sadar tadi. Ia harus keluar dari sini. Gua ini terlalu berbahaya.

Ia berjalan menyusuri koridor-koridor raksasa Makam Dewa Bisu. Arsitekturnya megah namun menindas. Patung-patung prajurit setinggi sepuluh meter berbaris di sepanjang dinding, wajah mereka tertutup helm besi yang karatan. Kaelen menyadari bahwa ini bukan sekadar gua, melainkan sebuah nekropolis, kota kematian bawah tanah yang dibangun oleh peradaban yang telah lama punah.

Setelah berjalan selama hampir satu jam, ia menemukan sebuah pintu gerbang raksasa yang terbuat dari logam perunggu yang telah menghijau. Di permukaannya, terukir ribuan rune yang jauh lebih kompleks daripada yang ia buat sebelumnya. Rune-rune ini tidak aktif, mati dan dingin.

"Mekanisme pengunci..." gumam Kaelen. Ia mendekat, matanya menelusuri pola rumit itu. Berkat "bakat" barunya sebagai Rune Architect, ia bisa melihat aliran mana yang terputus. Seperti sirkuit listrik yang kabelnya putus.

"Jika aku menghubungkan node ini ke sini... dan mengalirkan mana melalui sirkuit bypass..." Kaelen berbicara pada dirinya sendiri, jarinya menari di atas permukaan logam tanpa menyentuhnya. Ia mulai menggambar jembatan-jembatan cahaya kecil untuk menyambungkan rune yang rusak.

Keringat dingin mengucur di pelipisnya. Setiap goresan rune memakan stamina mentalnya. Rasanya seperti mengerjakan kalkulus tingkat tinggi sambil berlari maraton. Tapi ia tidak punya pilihan.

KLIK. DENGUNG.

Suara mekanis berat terdengar dari dalam pintu. Garis-garis rune pada pintu itu tiba-tiba menyala biru terang. Tanah bergetar. Debu berjatuhan dari langit-langit saat pintu gerbang setebal dua meter itu perlahan bergeser terbuka.

Angin dingin yang menusuk tulang langsung menerpa wajahnya. Di luar pintu itu bukan lagi lorong gelap, melainkan hamparan putih yang menyilaukan.

Kaelen melangkah keluar, menyipitkan mata melawan terangnya cahaya matahari yang terpantul di salju. Ia berada di lereng sebuah gunung tinggi. Di hadapannya terbentang pemandangan yang membuat napasnya tercekat. Benua Nordgaard. Lautan pegunungan es yang tajam, hutan-hutan konifer raksasa yang tertutup salju, dan di langit... di langit ada dua bulan. Satu berwarna perak pucat, dan satu lagi retak, memancarkan cahaya ungu yang sakit.

"Dunia apa ini?" bisiknya.

Namun, keindahan itu segera terusik. Di kejauhan, di lembah di bawah sana, ia melihat asap hitam membumbung tinggi. Bukan asap dari cerobong asap rumah yang hangat, melainkan asap tebal dari kebakaran. Ia melihat kilatan-kilatan cahaya dan mendengar suara samar benturan logam. Pertempuran.

Kaelen bimbang. Logikanya menyuruhnya lari ke arah berlawanan, mencari tempat aman. Tapi insting barunya, rasa penasaran yang mendorongnya menyentuh buku itu di Bumi, menariknya ke sana. Jika ada pertempuran, berarti ada manusia. Atau setidaknya, makhluk cerdas.

Ia mulai menuruni lereng gunung, salju setinggi lutut menghambat langkahnya. Ia harus tahu siapa yang tinggal di dunia ini, dan bagaimana ia bisa bertahan hidup.

Bagaimana bab ini menurutmu?

Rate
← Bab Sebelumnya

Diskusi 0

G