BAB 3

BAB 3: DARAH DI ATAS SALJU

The Rune Architect: Membangun Ulang Realitas

BAB 3: DARAH DI ATAS SALJU

🗓 29 Sep 2025 👁 444 Views
BAB 3: DARAH DI ATAS SALJU

Perjalanan menuruni gunung memakan waktu lebih lama dari yang diperkirakan Kaelen. Matahari mulai condong ke barat saat ia mendekati sumber asap. Ia bersembunyi di balik bebatuan besar yang tertutup lumut es, mengamati situasi di bawah.

Sebuah karavan dagang sedang disergap. Tiga kereta kuda yang terbuat dari kayu kokoh telah terguling. Kuda-kuda itu—yang memiliki enam kaki dan tanduk melengkung—telah mati terbunuh. Yang menyerang mereka adalah sekelompok makhluk humanoid berkulit hijau pucat dengan taring mencuat dari mulut bawah mereka. Orc. Tapi bukan Orc biasa. Mata mereka bersinar ungu, sama seperti Void Hound di makam tadi. Mereka berteriak dalam bahasa kasar, mengayunkan kapak batu dan gada yang dilapisi energi gelap.

Para pejuang yang melindungi karavan itu tampak kewalahan. Mereka mengenakan zirah kulit tebal dan bulu binatang. Ada sekitar lima orang yang masih berdiri, membentuk lingkaran pertahanan melindungi seorang wanita berjubah putih di tengah.

"Tahan formasi! Jangan biarkan yang Terkorupsi menyentuh Putri!" teriak seorang pria berbadan besar yang memegang palu perang raksasa. Ia menghantamkan palunya ke tanah, menciptakan gelombang kejut yang memukul mundur dua Orc.

Namun jumlah musuh terlalu banyak. Ada sekitar dua puluh Orc Terkorupsi. Salah satu Orc yang lebih besar, mungkin pemimpinnya, melompat tinggi melewati barisan pertahanan dan mendarat tepat di depan wanita berjubah putih itu.

Wanita itu mengangkat tangannya, mencoba merapal mantra perisai es, tetapi Orc itu terlalu cepat. Ia menepis tangan wanita itu dan mengangkat kapaknya tinggi-tinggi.

Kaelen tidak berpikir panjang. Jaraknya sekitar lima puluh meter dari mereka. Terlalu jauh untuk lari, tapi mungkin cukup dekat untuk sihir.

"Aero... Akselerasi... Proyektil..." Kaelen merangkai tiga konsep rune sekaligus di kepalanya. Itu berisiko. Otaknya terasa seperti ditusuk jarum panas. Tapi ia menggambar rune itu di udara, lalu memungut sebuah batu sebesar kepalan tangan.

Ia melempar batu itu melewati lingkaran rune yang ia buat.

ZING!

Batu itu melesat dengan kecepatan supersonik, meninggalkan jejak ledakan sonik di udara. Batu itu menghantam kepala Orc pemimpin tepat sebelum kapaknya turun. Kepala makhluk itu meledak seperti semangka yang dipukul palu godam. Tubuh besarnya ambruk, menimpa wanita yang hendak dibunuhnya.

Medan pertempuran hening sejenak. Semua mata, baik manusia maupun Orc, menoleh ke arah bukit tempat Kaelen berdiri.

"Siapa itu?" teriak pria berpalu.

Kaelen tidak menjawab. Ia merasakan hidungnya berdarah. Menggabungkan tiga rune sekaligus ternyata membebani otak manusianya secara berlebihan. Namun, efek kejut itu memberi kesempatan bagi para pejuang karavan.

"Serang sekarang! Bunuh sisanya!" perintah pria berpalu itu.

Moral mereka bangkit. Pertempuran berlanjut dengan ferositas baru. Kaelen mencoba membantu dari jauh, menembakkan peluru-peluru angin kecil untuk mengganggu keseimbangan para Orc. Satu per satu, Orc Terkorupsi itu jatuh, tubuh mereka menguap menjadi asap hitam.

Ketika Orc terakhir tewas, pria berpalu itu berjalan mendaki ke arah Kaelen. Wajahnya penuh bekas luka, janggutnya merah menyala dikepang dengan cincin besi. Ia memegang palunya dengan waspada.

"Kau bukan dari suku utara," geram pria itu, matanya meneliti pakaian aneh Kaelen. "Sihirmu... aneh. Tidak ada mantra rapalan, hanya tulisan cahaya. Siapa kau?"

"Namaku Kael," jawab Kaelen, mencoba terdengar stabil meski kakinya gemetar kelelahan. "Dan aku... aku tersesat."

Pria itu mendengus, lalu menunjuk ke bawah. "Tersesat atau tidak, kau menyelamatkan nyawa Lady Elara. Turunlah. Kami berhutang padamu, tapi jangan harap kami mempercayaimu sepenuhnya."

Bagaimana bab ini menurutmu?

Rate
← Bab Sebelumnya

Diskusi 0

G