The Rune Architect: Membangun Ulang Realitas
BAB 4: HARGA SEBUAH NYAWA
π 30 Sep 2025
π 438 Views
BAB 4: HARGA SEBUAH NYAWA
Malam turun dengan cepat di Nordgaard. Angin malam membawa butiran es yang tajam seperti silet. Kaelen kini duduk di dekat api unggun yang dibuat oleh sisa-sisa anggota karavan. Mereka mendirikan kemah darurat di balik tebing untuk berlindung dari angin.
Wanita yang diselamatkan Kaelen, Lady Elara, duduk di seberangnya. Dia adalah seorang Elfβatau setidaknya ras yang mirip Elf di dunia ini. Telinganya runcing, kulitnya seputih pualam, dan matanya berwarna biru kristal tanpa pupil. Dia mengenakan jubah sutra yang dilapisi rune pertahanan, menunjukkan statusnya yang tinggi.
"Terima kasih, Tuan Kael," katanya. Suaranya merdu namun dingin, seperti lonceng di tengah badai salju. "Sihir yang kau gunakan tadi... itu Rune Architect kuno. Seni yang sudah hilang selama tiga ratus tahun sejak Jatuhnya Ikaris. Dari mana kau mempelajarinya?"
Kaelen menelan ludah. Ia tidak bisa bilang 'aku baru saja bangun di makam dan bisa melakukannya'. Ia harus berbohong, atau setidaknya membiaskan kebenaran. "Aku menemukannya di sebuah reruntuhan. Ingatanku... agak kabur setelah itu."
Pria berpalu besar, yang memperkenalkan dirinya sebagai Bjorne, mendengus sambil mengasah kapaknya. "Hilang ingatan. Alasan klasik para penjahat atau orang gila."
"Bjorne, jaga bicaramu," tegur Elara lembut tapi tegas. "Dia menyelamatkan nyawaku."
Elara kemudian menjelaskan situasi dunia ini. Aethelgard sedang sekarat. Wabah Kehampaan (Void Blight) menyebar dari selatan, mengubah makhluk hidup menjadi monster tak berakal. Kerajaan-kerajaan bersatu dalam Aliansi Cahaya, tapi mereka kalah jumlah. Mata uang yang berlaku adalah Sol (Emas) dan Luna (Perak).
"Kami sedang membawa artefak penting ke Ibukota Winterhold," kata Elara, melirik ke arah peti logam yang terikat rantai di salah satu kereta yang selamat. "Sesuatu yang bisa membantu kita melawan Wabah."
Tiba-tiba, tanah di bawah mereka bergetar pelan. Kerikil-kerikil di tanah melompat-lompat.
Bjorne langsung berdiri, tangannya mencengkeram palu. "Gempa?"
"Bukan," wajah Elara memucat. "Pola getarannya ritmis. Sesuatu yang besar sedang berjalan menuju kita."
Kaelen merasakan sensasi dingin di tengkuknya. Bukan karena angin, tapi karena insting sihirnya menjerit. Ada konsentrasi mana yang sangat besar dan korup mendekat.
Dari kegelapan malam di luar lingkaran cahaya api unggun, muncul sepasang mata kuning raksasa. Setinggi pohon pinus. Itu adalah Troll Gunung, tapi kulit batunya telah retak dan memancarkan cahaya ungu. Mulutnya menganga lebar, memperlihatkan barisan gigi yang mampu mengunyah baja.
"Void Troll!" teriak salah satu pengawal.
Troll itu meraung, suaranya mematikan api unggun seketika. Dalam kegelapan, gada batu raksasa di tangan Troll itu berayun, menghantam kereta yang berisi artefak.
PRAAAK!
Kereta itu hancur berkeping-keping. Peti logam terlempar dan terbuka. Dari dalamnya, menggelinding sebuah bola kristal yang memancarkan cahaya biru murni.
Mata Troll itu terfokus pada bola kristal tersebut. Ia mengabaikan para manusia dan melangkah untuk mengambilnya.
"Jangan biarkan dia menyentuh Jantung Musim Dingin!" teriak Elara, merapal sihir es yang menembakkan tombak-tombak beku ke arah Troll. Namun tombak itu hancur saat mengenai kulit batu yang diperkuat energi Void.
Bjorne menyerbu maju, menghantam lutut Troll itu dengan palunya. Tulang retak terdengar, tapi Troll itu hanya sedikit goyah dan menendang Bjorne hingga terpental sepuluh meter menabrak tebing.
"Kael!" Elara menatap Kaelen dengan putus asa. "Lakukan sesuatu! Jika benda itu dimakan oleh Void, musim dingin di dunia ini tidak akan pernah berakhir!"
Kaelen berdiri, otaknya berputar cepat. Serangan fisik tidak mempan. Serangan elemen es tidak berguna. Dia butuh sesuatu yang absolut. Dia butuh gravitasi.
Dia mulai menggambar. Bukan satu rune, tapi rangkaian. Dia menumpuk rune pemberat (Gravitas) di atas rune pengikat (Vinculum). Hidungnya kembali berdarah, kali ini mengucur deras. Telinganya berdenging.
"Jatuhlah!" teriak Kaelen, menghempaskan tangannya ke arah Troll.
Malam turun dengan cepat di Nordgaard. Angin malam membawa butiran es yang tajam seperti silet. Kaelen kini duduk di dekat api unggun yang dibuat oleh sisa-sisa anggota karavan. Mereka mendirikan kemah darurat di balik tebing untuk berlindung dari angin.
Wanita yang diselamatkan Kaelen, Lady Elara, duduk di seberangnya. Dia adalah seorang Elfβatau setidaknya ras yang mirip Elf di dunia ini. Telinganya runcing, kulitnya seputih pualam, dan matanya berwarna biru kristal tanpa pupil. Dia mengenakan jubah sutra yang dilapisi rune pertahanan, menunjukkan statusnya yang tinggi.
"Terima kasih, Tuan Kael," katanya. Suaranya merdu namun dingin, seperti lonceng di tengah badai salju. "Sihir yang kau gunakan tadi... itu Rune Architect kuno. Seni yang sudah hilang selama tiga ratus tahun sejak Jatuhnya Ikaris. Dari mana kau mempelajarinya?"
Kaelen menelan ludah. Ia tidak bisa bilang 'aku baru saja bangun di makam dan bisa melakukannya'. Ia harus berbohong, atau setidaknya membiaskan kebenaran. "Aku menemukannya di sebuah reruntuhan. Ingatanku... agak kabur setelah itu."
Pria berpalu besar, yang memperkenalkan dirinya sebagai Bjorne, mendengus sambil mengasah kapaknya. "Hilang ingatan. Alasan klasik para penjahat atau orang gila."
"Bjorne, jaga bicaramu," tegur Elara lembut tapi tegas. "Dia menyelamatkan nyawaku."
Elara kemudian menjelaskan situasi dunia ini. Aethelgard sedang sekarat. Wabah Kehampaan (Void Blight) menyebar dari selatan, mengubah makhluk hidup menjadi monster tak berakal. Kerajaan-kerajaan bersatu dalam Aliansi Cahaya, tapi mereka kalah jumlah. Mata uang yang berlaku adalah Sol (Emas) dan Luna (Perak).
"Kami sedang membawa artefak penting ke Ibukota Winterhold," kata Elara, melirik ke arah peti logam yang terikat rantai di salah satu kereta yang selamat. "Sesuatu yang bisa membantu kita melawan Wabah."
Tiba-tiba, tanah di bawah mereka bergetar pelan. Kerikil-kerikil di tanah melompat-lompat.
Bjorne langsung berdiri, tangannya mencengkeram palu. "Gempa?"
"Bukan," wajah Elara memucat. "Pola getarannya ritmis. Sesuatu yang besar sedang berjalan menuju kita."
Kaelen merasakan sensasi dingin di tengkuknya. Bukan karena angin, tapi karena insting sihirnya menjerit. Ada konsentrasi mana yang sangat besar dan korup mendekat.
Dari kegelapan malam di luar lingkaran cahaya api unggun, muncul sepasang mata kuning raksasa. Setinggi pohon pinus. Itu adalah Troll Gunung, tapi kulit batunya telah retak dan memancarkan cahaya ungu. Mulutnya menganga lebar, memperlihatkan barisan gigi yang mampu mengunyah baja.
"Void Troll!" teriak salah satu pengawal.
Troll itu meraung, suaranya mematikan api unggun seketika. Dalam kegelapan, gada batu raksasa di tangan Troll itu berayun, menghantam kereta yang berisi artefak.
PRAAAK!
Kereta itu hancur berkeping-keping. Peti logam terlempar dan terbuka. Dari dalamnya, menggelinding sebuah bola kristal yang memancarkan cahaya biru murni.
Mata Troll itu terfokus pada bola kristal tersebut. Ia mengabaikan para manusia dan melangkah untuk mengambilnya.
"Jangan biarkan dia menyentuh Jantung Musim Dingin!" teriak Elara, merapal sihir es yang menembakkan tombak-tombak beku ke arah Troll. Namun tombak itu hancur saat mengenai kulit batu yang diperkuat energi Void.
Bjorne menyerbu maju, menghantam lutut Troll itu dengan palunya. Tulang retak terdengar, tapi Troll itu hanya sedikit goyah dan menendang Bjorne hingga terpental sepuluh meter menabrak tebing.
"Kael!" Elara menatap Kaelen dengan putus asa. "Lakukan sesuatu! Jika benda itu dimakan oleh Void, musim dingin di dunia ini tidak akan pernah berakhir!"
Kaelen berdiri, otaknya berputar cepat. Serangan fisik tidak mempan. Serangan elemen es tidak berguna. Dia butuh sesuatu yang absolut. Dia butuh gravitasi.
Dia mulai menggambar. Bukan satu rune, tapi rangkaian. Dia menumpuk rune pemberat (Gravitas) di atas rune pengikat (Vinculum). Hidungnya kembali berdarah, kali ini mengucur deras. Telinganya berdenging.
"Jatuhlah!" teriak Kaelen, menghempaskan tangannya ke arah Troll.