BAB 5: MANA YANG TERCEMAR
Rune kompleks yang diciptakan Kaelen melayang di atas kepala Void Troll, berputar dengan kecepatan tinggi hingga menciptakan suara dengungan yang menyakitkan telinga. Simbol Gravitas menyala merah darah.
Seketika, area di sekitar Troll itu mengalami anomali gravitasi. Tanah di bawah kakinya amblas sedalam satu meter. Troll itu meraung, bukan karena kesakitan fisik, tapi karena tubuhnya yang seberat beberapa ton tiba-tiba menjadi sepuluh kali lebih berat. Lututnya menghantam tanah dengan suara dentuman keras, meretakkan bebatuan di sekitarnya.
"Sekarang! Serang titik lemahnya! Di tengkuk lehernya!" teriak Kaelen. Pandangannya mulai kabur. Menggunakan manipulasi gravitasi adalah sihir tingkat tinggi yang seharusnya dilakukan oleh tiga penyihir senior, bukan satu pemula yang baru bangun tidur. Pembuluh darah di mata Kaelen pecah, membuat pandangannya memerah.
Bjorne, yang baru bangkit dengan sisa tenaga, melihat kesempatan itu. Ia meraung, melompat ke punggung Troll yang sedang tertahan gravitasi, dan mengayunkan palunya sekuat tenaga ke tengkuk leher makhluk itu, tepat di mana cahaya ungu berpendar paling terang.
CRAAASH!
Suara tulang belakang yang hancur terdengar mengerikan. Kepala Troll itu terkulai lemas. Cahaya ungu di matanya padam. Efek gravitasi Kaelen memudar seiring dengan kesadarannya yang mulai hilang. Tubuh Troll itu ambruk ke tanah, tak bernyawa.
Kaelen jatuh berlutut, terbatuk darah. Dadanya terasa sesak seolah paru-parunya terbakar. Ini adalah efek Mana Burn—kondisi di mana saluran mana dalam tubuh terbakar karena penggunaan berlebihan.
Elara berlari menghampirinya, tangannya bersinar dengan cahaya hijau lembut—sihir penyembuhan. "Bertahanlah. Jangan tidur."
Kaelen merasakan hangat mengalir ke tubuhnya, meredakan rasa sakit itu sedikit demi sedikit. Namun, saat penyembuhan berlangsung, Elara tiba-tiba menarik tangannya dengan kaget. Wajahnya menunjukkan ekspresi horor.
"Mana-mu..." bisik Elara, menatap Kaelen dengan tatapan yang berubah dari khawatir menjadi takut.
"Kenapa?" tanya Bjorne yang berjalan tertatih mendekat, menyeret palunya.
"Mana di dalam tubuhnya... warnanya bukan biru atau emas," kata Elara mundur perlahan. "Mana-nya berwarna abu-abu. Itu warna Chaos. Warna yang sama dengan..."
Dia tidak menyelesaikan kalimatnya, tapi semua orang tahu. Itu adalah tanda-tanda seseorang yang memiliki afinitas dengan Void, atau setidaknya, seseorang yang keberadaannya melanggar hukum alam dunia ini.
Para pengawal yang tersisa kini mengarahkan pedang mereka ke arah Kaelen. Suasana berubah drastis dari rasa terima kasih menjadi kecurigaan yang mematikan.
"Kau..." Bjorne mencengkeram gagang palunya lebih erat. "Apakah kau mata-mata Raja Iblis? Apakah kau sengaja membiarkan kami diserang agar kau bisa terlihat sebagai pahlawan?"
"Apa? Tidak!" Kaelen mencoba bangkit, tapi tubuhnya terlalu lemah. "Aku menyelamatkan kalian!"
"Rune Architect sudah punah," kata Elara dingin, matanya kini menatap Kaelen seperti menatap monster. "Dan mereka yang mencoba membangkitkannya selalu berakhir gila karena bersentuhan dengan Abyss. Kami tidak bisa mengambil risiko."
"Ikat dia," perintah Elara. "Kita akan membawanya ke Winterhold. Biarkan Inkuisisi Menara Tinggi yang memutuskan apakah dia penyelamat... atau iblis yang menyamar."
Dunia gelap menggelayuti pandangan Kaelen saat seseorang memukul belakang kepalanya. Hal terakhir yang ia ingat adalah dinginnya salju di pipinya dan rasa pahit pengkhianatan. Ia baru saja menyelamatkan mereka, dan inilah bayarannya.
Selamat datang di Aethelgard.
Rune kompleks yang diciptakan Kaelen melayang di atas kepala Void Troll, berputar dengan kecepatan tinggi hingga menciptakan suara dengungan yang menyakitkan telinga. Simbol Gravitas menyala merah darah.
Seketika, area di sekitar Troll itu mengalami anomali gravitasi. Tanah di bawah kakinya amblas sedalam satu meter. Troll itu meraung, bukan karena kesakitan fisik, tapi karena tubuhnya yang seberat beberapa ton tiba-tiba menjadi sepuluh kali lebih berat. Lututnya menghantam tanah dengan suara dentuman keras, meretakkan bebatuan di sekitarnya.
"Sekarang! Serang titik lemahnya! Di tengkuk lehernya!" teriak Kaelen. Pandangannya mulai kabur. Menggunakan manipulasi gravitasi adalah sihir tingkat tinggi yang seharusnya dilakukan oleh tiga penyihir senior, bukan satu pemula yang baru bangun tidur. Pembuluh darah di mata Kaelen pecah, membuat pandangannya memerah.
Bjorne, yang baru bangkit dengan sisa tenaga, melihat kesempatan itu. Ia meraung, melompat ke punggung Troll yang sedang tertahan gravitasi, dan mengayunkan palunya sekuat tenaga ke tengkuk leher makhluk itu, tepat di mana cahaya ungu berpendar paling terang.
CRAAASH!
Suara tulang belakang yang hancur terdengar mengerikan. Kepala Troll itu terkulai lemas. Cahaya ungu di matanya padam. Efek gravitasi Kaelen memudar seiring dengan kesadarannya yang mulai hilang. Tubuh Troll itu ambruk ke tanah, tak bernyawa.
Kaelen jatuh berlutut, terbatuk darah. Dadanya terasa sesak seolah paru-parunya terbakar. Ini adalah efek Mana Burn—kondisi di mana saluran mana dalam tubuh terbakar karena penggunaan berlebihan.
Elara berlari menghampirinya, tangannya bersinar dengan cahaya hijau lembut—sihir penyembuhan. "Bertahanlah. Jangan tidur."
Kaelen merasakan hangat mengalir ke tubuhnya, meredakan rasa sakit itu sedikit demi sedikit. Namun, saat penyembuhan berlangsung, Elara tiba-tiba menarik tangannya dengan kaget. Wajahnya menunjukkan ekspresi horor.
"Mana-mu..." bisik Elara, menatap Kaelen dengan tatapan yang berubah dari khawatir menjadi takut.
"Kenapa?" tanya Bjorne yang berjalan tertatih mendekat, menyeret palunya.
"Mana di dalam tubuhnya... warnanya bukan biru atau emas," kata Elara mundur perlahan. "Mana-nya berwarna abu-abu. Itu warna Chaos. Warna yang sama dengan..."
Dia tidak menyelesaikan kalimatnya, tapi semua orang tahu. Itu adalah tanda-tanda seseorang yang memiliki afinitas dengan Void, atau setidaknya, seseorang yang keberadaannya melanggar hukum alam dunia ini.
Para pengawal yang tersisa kini mengarahkan pedang mereka ke arah Kaelen. Suasana berubah drastis dari rasa terima kasih menjadi kecurigaan yang mematikan.
"Kau..." Bjorne mencengkeram gagang palunya lebih erat. "Apakah kau mata-mata Raja Iblis? Apakah kau sengaja membiarkan kami diserang agar kau bisa terlihat sebagai pahlawan?"
"Apa? Tidak!" Kaelen mencoba bangkit, tapi tubuhnya terlalu lemah. "Aku menyelamatkan kalian!"
"Rune Architect sudah punah," kata Elara dingin, matanya kini menatap Kaelen seperti menatap monster. "Dan mereka yang mencoba membangkitkannya selalu berakhir gila karena bersentuhan dengan Abyss. Kami tidak bisa mengambil risiko."
"Ikat dia," perintah Elara. "Kita akan membawanya ke Winterhold. Biarkan Inkuisisi Menara Tinggi yang memutuskan apakah dia penyelamat... atau iblis yang menyamar."
Dunia gelap menggelayuti pandangan Kaelen saat seseorang memukul belakang kepalanya. Hal terakhir yang ia ingat adalah dinginnya salju di pipinya dan rasa pahit pengkhianatan. Ia baru saja menyelamatkan mereka, dan inilah bayarannya.
Selamat datang di Aethelgard.