BAB 1

BAB 1

WINTER DAN PULAU DI ATAS BINTANG

BAB 1

🗓 18 Jul 2025 👁 874 Views
BAB 1

Musim dingin di usiaku yang ketujuh belas bukanlah tentang salju atau jaket tebal, melainkan tentang bagaimana dunia tiba-tiba terasa menyusut. Seperti kemeja flanel tua yang salah dimasukkan ke dalam mesin pengering, dunia ini menjadi terlalu sempit, serat-seratnya menekan kulit, membuat napas terasa sesak. Namaku Winter Calestina, sebuah nama yang terdengar seperti judul lagu balada yang sedih, dan mungkin begitulah hidupku berjalan belakangan ini.

Dulu, aku membayangkan usia tujuh belas tahun adalah gerbang menuju kebebasan yang megah. Aku membayangkan petualangan, mungkin perjalanan tanpa peta ke kota-kota asing atau menemukan pintu rahasia di balik lemari perpustakaan. Namun, realitas memiliki cara kerja yang aneh dan mengecewakan. Tidak ada petualangan. Yang ada hanyalah ruang kelas dengan cat dinding berwarna krem pucat yang mengelupas, suara guru matematika yang berdengung seperti lalat yang terperangkap di jendela, dan persaingan tanpa akhir yang terasa seperti perlombaan tikus di dalam labirin yang tidak memiliki pintu keluar.

Aku duduk di barisan belakang, tempat di mana kau bisa mengamati punggung orang-orang tanpa harus terlibat dalam percakapan mereka. Di depanku, teman-teman sekelasku sibuk membicarakan universitas, nilai ujian, dan siapa yang berkencan dengan siapa. Mereka tampak begitu yakin dengan peran mereka, seolah-olah naskah hidup mereka sudah dicetak rapi dan dijilid dengan sampul keras. Sementara aku? Aku merasa seperti pemeran figuran yang lupa naskahnya, atau mungkin masuk ke set film yang salah.

Dunia bukan seperti yang kubayangkan ketika aku masih kecil. Dulu, setiap bayangan di bawah tempat tidur adalah potensi monster yang ramah, dan setiap kilatan cahaya di langit malam adalah pesan dari galaksi lain. Sekarang, bayangan hanyalah ketiadaan cahaya, dan kilatan itu hanyalah lampu pesawat terbang komersial yang membawa orang-orang sibuk ke tempat-tempat sibuk lainnya. Tidak ada dongeng. Tidak ada naga yang tidur di dasar danau. Hanya ada kenyataan yang menggigit, dingin dan tanpa ampun.

Malam harinya, rutinitas itu berulang seperti piringan hitam yang rusak. Dulu, malam adalah waktu untuk buku-buku tebal tentang putri kerajaan yang menyelamatkan diri mereka sendiri atau penyihir yang bisa memutarbalikkan waktu. Sekarang, malam-malamku dihabiskan dengan mata yang perih, menatap layar ponsel yang menyala biru di kegelapan kamar. Jempolku bergerak mekanis, menggulir layar ke atas, melihat potongan-potongan kehidupan orang lain yang tampak sempurna, diedit dengan filter yang menyembunyikan pori-pori dan kesedihan.

Aku meletakkan ponsel itu di atas meja nakas. Cahayanya mati, meninggalkan ruangan dalam kegelapan total. Namun, di dalam keheningan itu, ada sesuatu yang tidak pernah benar-benar mati. Itu adalah suara bisikan kecil, sangat pelan, seperti suara hujan yang mengetuk kaca jendela dari kejauhan. Itu adalah suara diriku yang berusia tujuh tahun.

Anak kecil itu masih ada di sana, duduk bersila di sudut hatiku, masih keras kepala mempercayai hal-hal yang tidak masuk akal. Dia percaya pada peri yang bersembunyi di balik kelopak bunga. Dia percaya pada penyihir yang meramu obat dari embun pagi. Dan yang paling konyol, dia percaya bahwa bintang-bintang di langit bukan sekadar bola gas panas yang terbakar jutaan tahun cahaya jauhnya, melainkan entitas yang bisa mendengar dan mengabulkan permintaan.

"Kau bodoh," bisikku pada diriku sendiri, atau mungkin pada anak kecil di dalam diriku itu. "Dunia tidak bekerja seperti itu."

Tapi anak tujuh tahun itu tidak peduli. Dia hanya tersenyum, senyum ompong yang polos, dan menunjuk ke arah jendela. Di luar sana, angin malam mulai menderu, membawa aroma hutan pinus yang tumbuh tak jauh dari rumahku. Ada sesuatu di udara malam ini. Sesuatu yang terasa basah dan berat, namun juga anehnya mengundang.

Aku bangkit dari tempat tidur. Lantai kayu terasa dingin di telapak kakiku. Tanpa menyalakan lampu, aku berjalan menuju jendela, membukanya sedikit. Udara dingin langsung menyeruak masuk, menampar wajahku dengan lembut. Di luar sana, langit terlihat berbeda. Tidak ada bintang, hanya awan tebal yang bergulung-gulung. Tapi intuisiku—atau mungkin imajinasi liarku yang belum sepenuhnya mati—mengatakan bahwa aku harus naik ke atap.

Mengapa ke atap? Aku tidak tahu. Mungkin karena di sana adalah tempat yang paling dekat dengan langit yang bisa kucapai tanpa harus melompat. Atau mungkin karena aku hanya ingin melarikan diri dari kotak beton bernama kamar tidur ini, meski hanya beberapa meter ke atas.

Aku mengenakan sweter rajutku yang sudah agak longgar, memanjat keluar melalui jendela yang terhubung ke tangga darurat kecil di samping rumah. Besi tangga itu terasa licin dan dingin. Langkah demi langkah, aku naik menuju kehampaan di atas sana, meninggalkan dunia kamarku yang penuh dengan buku pelajaran dan ekspektasi yang tidak terpenuhi. Malam itu, di atap rumah yang menghadap hutan gelap, aku merasa benar-benar sendirian, namun anehnya, aku merasa itulah tempat di mana aku seharusnya berada.

Bagaimana bab ini menurutmu?

Rate
Kembali ke Depan

Diskusi 0

G