BAB 2

BAB 2: Panggilan Alam di Tengah Badai

BEKU DI ISLANDIA, BONYOK DI MARKAS MAFIA

BAB 2: Panggilan Alam di Tengah Badai

🗓 02 Nov 2025 👁 496 Views

BAB 2: Panggilan Alam di Tengah Badai

Setelah tragedi tong sampah, perut gue mendadak melakukan demo masak. Suaranya lebih kencang dari knalpot motor racing di gang sempit. Efek samping makan roti kadaluwarsa tadi pagi mulai terasa. Ini adalah panggilan alam tingkat darurat nasional.

"Men, gue harus ke belakang. Sekarang juga!" ujar gue sambil memegangi perut.

"Ke belakang mana? Ini lapangan terbuka, Vin. Lu mau pup di salju? Nanti disangka fosil purba sama ilmuwan sini," kata Omen sambil sibuk benerin kacamatanya.

"Bodo amat! Gue cari toilet di gedung sebelah!"

Gue lari sekencang mungkin. Bayangkan, seorang badut berpakaian kuning terang, dengan sepatu raksasa yang bunyi toet-toet setiap melangkah, berlari menerjang badai salju Islandia. Ini adalah pemandangan paling menyedihkan sekaligus komedi yang pernah dilihat penduduk Reykjavik.

Gue melihat sebuah gedung tua bergaya Gotik dengan pintu kayu besar. Tanpa pikir panjang, gue dorong pintunya. Krieeek...

"Permisi... ada toilet? Excuse me, toilet please? Perut saya sudah di ujung tanduk!" teriak gue sambil lari masuk ke lorong yang gelap.

Di ujung lorong, ada pintu besi tebal. Gue pikir, "Wah, ini pasti toilet eksklusif." Gue buka pintunya dengan semangat 45.

Tapi, begitu pintu terbuka, bukannya melihat kloset putih yang damai, gue malah melihat pemandangan yang bikin usus gue mendadak melilit karena takut, bukan karena mulas lagi.

Di dalam ruangan luas yang remang-remang itu, ada sekitar dua puluh pria berbadan kekar, tatoan dari leher sampai mata kaki, memakai jas hitam mahal, dan semuanya sedang memegang... senjata otomatis. Di tengah meja besar, ada peta dunia dan tumpukan uang yang banyaknya bisa buat beli satu kelurahan di Bekasi.

Hening.

Semua mata—yang tadinya sangar—sekarang menatap gue dengan bingung. Ya iya lah, bayangkan lagi rapat rahasia tingkat tinggi, tiba-tiba ada badut kuning cebol masuk sambil megangin perut.

"Eh... sorry," kata gue pelan. "Ini... bukan tempat audisi Stand Up Comedy ya?"

Seorang pria paling besar, dengan luka parut di pipinya yang bikin dia kelihatan kayak sosis bakar pecah, berdiri. "Siapa kamu? Berani-beraninya mengganggu rapat Sindikat Paus Hitam?"

Gue menelan ludah. "Saya... saya cuma mau numpang setor, Om. Sumpah, ini sudah di 'pintu keluar'. Kalau nggak dikeluarkan sekarang, bisa terjadi bencana kimia di sini."

Tiba-tiba, dari belakang gue, muncul Dika. Dika ini Sidekick kedua gue yang baru nyusul masuk. Dia itu tipe orang yang loading-nya lama banget. Dia masuk sambil makan es krim, nggak sadar situasi.

"Vin, toiletnya di mana? Eh, rame ya? Lagi ada acara khitanan?" tanya Dika polos sambil menjilat es krimnya.

Gue pengen nangis. "Dik, mending lu diem atau kita semua dikhitamkan permanen sama mereka."

Si Bos Mafia itu mendekat ke arah gue. Mukanya merah padam. "Kalian... mata-mata dari pemerintah ya? Atau dari kartel sebelah?"

"Bukan, Om! Saya cuma badut phobia balon yang lagi kebelet!" teriak gue panik.

"Geledah mereka!" perintah Si Bos.

Dua orang algojo mendekati gue. Mereka merogoh saku kostum badut gue yang kedodoran. Dan tebak apa yang mereka temukan? Sebuah alat peniup balon elektrik yang bentuknya... emang agak mirip pemicu bom jarak jauh.

"Bos! Lihat ini! Dia bawa detonator!" seru salah satu algojo.

"BUSET! ITU BUAT TIUP BALON, OM! BUKAN BUAT MELEDAKKAN NEGARA!" teriak gue histeris. Tapi terlambat, suasana makin kacau.

Bagaimana bab ini menurutmu?

Rate
← Bab Sebelumnya

Diskusi 0

G