BAB 3

BAB 3: Diplomasi Badut dan Mafia Ikan

BEKU DI ISLANDIA, BONYOK DI MARKAS MAFIA

BAB 3: Diplomasi Badut dan Mafia Ikan

๐Ÿ—“ 03 Nov 2025 ๐Ÿ‘ 493 Views

BAB 3: Diplomasi Badut dan Mafia Ikan

Gue, Omen, dan Dika sekarang diikat di kursi kayu. Omen masih sempat-sempatnya menganalisis situasi.

"Menurut perhitungan gue berdasarkan sudut kemiringan lampu dan jumlah orang di sini, peluang kita untuk hidup adalah 0,0001%," bisik Omen ilmiah.

"Makasih ya, Men. Lu bener-bener membantu mempercepat keputusasaan gue," sahut gue sinis.

Sementara itu, Dika malah asyik merhatiin tato di lengan salah satu mafia. "Om, tatonya bagus. Itu gambar naga atau cacing pita kepanasan?"

Si Mafia melotot. Dika langsung nunduk sambil gumam, "Galak amat, nanya doang."

Si Bos Mafia, yang namanya belakangan gue tahu adalah Sigurd si Penjagal Paus, duduk di depan gue. Dia memainkan pisau lipat di tangannya. "Katakan, siapa yang mengirim kalian? Interpol? CIA? Atau tukang martabak depan kantor?"

"Om Sigurd yang ganteng tapi serem," gue mencoba merayu. "Kita ini cuma TKI terlantar. Saya disuruh jadi badut, temen saya yang satu ini (nunjuk Omen) disuruh jadi asisten badut, dan yang satu lagi (nunjuk Dika) sebenarnya cuma beban keluarga yang kebetulan ikut ke Islandia."

Sigurd nggak percaya. Dia mengambil alat peniup balon gue tadi. "Alat ini punya frekuensi aneh. Jangan bohong kamu!"

Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka lagi. Seorang pria paruh baya dengan pakaian necis masuk dengan terburu-buru. "Bos! Microchip rahasia itu hilang! Tadi saya taruh di atas meja di lorong depan toilet!"

Semua mata tertuju pada gue. Gue ingat sesuatu. Tadi pas gue lari-lari kebelet, gue sempat kesrimpet dan tangan gue nyambar sesuatu dari atas meja kecil di lorong. Gue rogoh saku celana kostum gue yang satu lagi.

Glek.

Gue menemukan sebuah benda kecil berbentuk kotak hitam mengkilap.

"Ini... bukan cokelat ya?" tanya gue gemetar sambil menunjukkan benda itu.

Suasana ruangan mendadak jadi lebih tegang dari final Piala Dunia. Semua senjata sekarang mengarah tepat ke jidat gue.

"Kembalikan chip itu, atau aku akan membuatmu jadi isian roti lapis!" teriak Sigurd.

"Sabar, Om! Sabar! Saya kasih, saya kasih! Tapi tolong, jangan tembak! Saya belum nikah, saya belum pernah ngerasain naik haji, saya bahkan belum sempat hapus history browser di laptop saya!"

Gue mencoba memberikan chip itu, tapi karena tangan gue gemetar hebat kayak orang kena parkinson, chip itu malah loncat dari tangan gue, meluncur di lantai yang licin karena salju, dan masuk ke dalam... lubang ventilasi di lantai.

Hening lagi.

"Oops," kata Dika singkat.

"OOPS MATAMU!" teriak gue dan Sigurd barengan.

"AMBIL CHIP ITU! BONGKAR VENTILASINYA!" perintah Sigurd.

Tapi telat. Dari dalam ventilasi terdengar suara sreeet... sreeet... Ternyata itu adalah jalur pembuangan limbah air yang langsung menuju ke laut di bawah gedung. Chip itu sudah berenang bebas bersama ikan-ikan kod.

Sigurd menatap gue dengan tatapan yang bisa bikin es di kutub utara mendadak mencair karena takut. "Kalian... kalian benar-benar cari mati."

"Anu, Om... Kalau saya ganti pake chip kartu perdana yang kuotanya masih banyak, mau nggak?" tawar gue putus asa.

Bagaimana bab ini menurutmu?

Rate
← Bab Sebelumnya

Diskusi 0

G