BEKU DI ISLANDIA, BONYOK DI MARKAS MAFIA
BAB 4: Pelarian Paling Konyol dalam Sejarah
BAB 4: Pelarian Paling Konyol dalam Sejarah
"Eksekusi mereka!" perintah Sigurd tanpa ampun.
"Tunggu! Tunggu dulu!" teriak Omen tiba-tiba. "Bos, kalian nggak bisa bunuh kita sekarang. Menurut hukum gravitasi dan tekanan udara Islandia, kalau kalian nembak di ruangan tertutup ini dengan kaliber sebesar itu, plafonnya yang sudah tua ini bakal runtuh dan kita semua bakal mati tertimbun beton!"
Para mafia itu saling pandang. Mereka melihat ke atas. Memang sih, plafonnya kelihatan agak rapuh, ada bekas bocornya juga.
"Bener juga kata si kacamata," gumam salah satu anak buah Sigurd.
"Gue nggak peduli! Seret mereka ke dermaga, ceburkan ke laut biar dimakan hiu!" teriak Sigurd.
Gue, Omen, dan Dika diseret keluar. Angin dingin Reykjavik langsung menampar muka gue. Di dermaga, ombak besar menghantam bebatuan. Gue merasa ini adalah akhir dari petualangan gue sebagai badut.
"Ada pesan terakhir?" tanya Sigurd sambil menodongkan pistol ke arah gue.
Gue menarik napas dalam-dalam. "Ada, Om. Sebenernya... dari tadi saya pengen bilang..."
"Apa?!"
"SAYA SUDAH NGGAK TAHAN LAGI!"
BROOTTTTTTT!
Gue mengeluarkan "gas beracun" hasil fermentasi roti kadaluwarsa tadi pagi dengan kekuatan penuh. Aromanya begitu dahsyat, sampai-sampai burung camar yang lewat di atas kita langsung jatuh pingsan di tempat.
Para mafia itu terhuyung-huyung. Mereka menutup hidung. "GILA! SENJATA KIMIA APA INI?!" teriak mereka.
"SEKARANG, LARI!" teriak gue.
Dalam kondisi tangan masih terikat sebagian (karena ikatan Dika lepas duluan gara-gara dia terlalu kurus), kita bertiga lari tunggang langgang.
"Ke mana, Vin?!" tanya Omen panik.
"Ke arah sana! Ada truk ikan!"
Kita melompat ke belakang sebuah truk yang penuh dengan tumpukan ikan kod segar. Truk itu kebetulan baru mau jalan.
"Dahhh Om Sigurd! Makasih ya kenang-kenangannya!" teriak Dika sambil melambai ke arah para mafia yang masih sibuk muntah-muntah di dermaga.
Truk itu melaju kencang, membawa kami menjauh dari markas mafia. Tapi masalah belum selesai. Ternyata truk ini bukan menuju ke pusat kota, melainkan ke arah pelabuhan kapal kargo yang lebih besar.
"Vin, kok jalannya makin sepi ya?" tanya Omen sambil memeluk ikan kod besar supaya hangat.
"Gue nggak tahu, Men. Yang jelas, kita aman dari mafia..."
Tiba-tiba, truk itu berhenti mendadak. CIIIITTTT!
Pintu belakang truk dibuka dengan kasar dari luar. Tapi yang membukanya bukan supir truk, melainkan pasukan polisi bersenjata lengkap dengan seragam khusus.
"TANGAN DI ATAS! KALIAN DIKEPUNG!"
Gue menatap Omen. Omen menatap Dika. Dika menatap ikan kod.
"Lho, Pak? Kita korban penculikan!" teriak gue.
"Jangan bohong! Kami menerima laporan bahwa ada sindikat internasional yang mencoba menyelundupkan narkoba dalam bentuk... BADUT!"
Gue melihat ke bawah. Ternyata di bawah tumpukan ikan yang kita duduki, ada bungkusan-bungkusan putih mencurigakan.
"WADIDAW! GUBRAK! APA LAGI INI?!" teriak gue frustasi.
Polisi-polisi itu mendekat. Salah satu dari mereka membawa... Balon. Rupanya itu adalah unit K-9 yang menggunakan sensor balon (oke, ini ngaco, tapi di dunia ini apa sih yang nggak ngaco?).
Melihat balon itu mendekat, jantung gue berdetak kencang.
"Jangan... jangan dekat-dekat... BALONNNNN!" teriak gue histeris.
Gue mencoba lari, tapi kaki gue licin kena lendir ikan. Gue terpeleset, meluncur keluar dari truk, dan jatuh tepat ke dalam sebuah sekoci penyelamat yang sedang dikerek naik ke sebuah kapal pesiar mewah yang mau berangkat.
"VINO!" teriak Omen dan Dika ikut melompat menyusul gue.
KRETEK... KRETEK...
Sekoci itu goyang hebat, talinya putus sebelah, dan kita tergantung miring 45 derajat di ketinggian 20 meter di atas permukaan laut. Di bawah kita, polisi siap menembak. Di atas kita, kapal pesiar mulai membunyikan klakson raksasanya.
"Men... Dik... kayaknya kita bakal mati konyol jadi martil laut," bisik gue pasrah.
STATUS: Cliffhanger Detected!
Batch 1 Selesai.
Apakah Vino, Omen, dan Dika akan selamat dari gantungan maut sekoci? Ataukah mereka akan berakhir jadi menu sarapan hiu Islandia?
Mau tahu kelanjutannya? Ketik "Lanjut" dong! Penulis mau urut pinggang dulu nih habis ngetik 4 bab sekaligus!