BAB 5

BAB 5: Sekoci Maut dan Atraksi Akrobatik Terpaksa

BEKU DI ISLANDIA, BONYOK DI MARKAS MAFIA

BAB 5: Sekoci Maut dan Atraksi Akrobatik Terpaksa

🗓 22 Dec 2025 👁 494 Views

BAB 5: Sekoci Maut dan Atraksi Akrobatik Terpaksa

Gue, Omen, dan Dika masih bergelantungan di sekoci yang talinya putus sebelah. Posisi kita sekarang sudah kayak jemuran yang lupa diangkat pas badai: miring, basah, dan penuh kepasrahan. Di bawah, polisi Islandia teriak-teriak pakai bahasa yang bunyinya kayak orang keselek biji salak, sementara di atas, kapal pesiar raksasa ini mulai bergerak pelan meninggalkan dermaga.

"Men! Lakukan sesuatu! Lu kan pinter teori fisika!" teriak gue sambil memeluk pinggiran sekoci kuat-kuat. Kostum badut gue yang kuning sekarang udah berubah warna jadi abu-abu kusam kena lendir ikan kod.

Omen, yang kacamata tebelnya tinggal nangkring di ujung hidung, mencoba berpikir keras. "Menurut hukum gravitasi Newton dan teori peluang... kalau kita tetap di sini, dalam lima menit tali satunya akan putus dan kita bakal menghantam air dengan kecepatan 80 km/jam. Itu rasanya kayak dipukul pake kasur busa tapi isinya batu bata, Vin!"

"GUE NGGAK BUTUH ANALISIS LO, GUE BUTUH SOLUSI!" raung gue.

"Loncat ke dek bawah! Cepat!" perintah Omen sambil menunjuk sebuah balkon kamar di kapal pesiar yang posisinya tepat di bawah sekoci kita.

"Lu gila? Itu jauh, Men!" sela Dika yang daritadi sibuk ngeluarin duri ikan dari sela-sela giginya. "Gue belum siap ketemu Tuhan, gue belum sempat minta maaf sama tetangga yang mangganya gue curi tahun lalu."

"Nggak ada pilihan, Dik! Satu... dua... TIGA!"

KRAK!

Tepat saat hitungan ketiga, tali sekoci itu beneran putus. Kita bertiga meluncur bebas. Rasanya jantung gue naik ke kerongkongan, muter-muter sebentar di amandel, baru balik lagi ke tempatnya.

GUBRAK! BRAKKK!

Kita mendarat dengan tidak estetik sama sekali di atas balkon sebuah kamar mewah. Gue mendarat di atas tumpukan handuk, Omen mendarat di atas kursi santai, sementara Dika... dia mendarat tepat di atas nampan berisi sarapan pagi seseorang.

"Waduh, telurnya setengah matang, kesukaan gue nih," gumam Dika sambil menatap roti bakar yang sekarang nempel di jidatnya.

Gue buru-buru berdiri dan menarik mereka berdua masuk ke dalam kamar sebelum polisi di dermaga sempat membidik kita. Begitu masuk, gue langsung melongo. Kamarnya gede banget, lebih gede dari kontrakan gue di Jakarta yang kalau mau selonjoran aja harus izin sama kecoa penunggu pojokan.

"Busyet, ini kamar apa lapangan futsal? Mewah bener!" bisik gue sambil mengagumi lampu kristal yang harganya pasti cukup buat bayar utang pinjol gue seumur hidup.

Tiba-tiba, suara air terdengar dari kamar mandi. Seorang wanita dengan jubah mandi keluar sambil mengeringkan rambutnya. Begitu dia melihat tiga makhluk aneh—satu badut kuning lecek, satu kutu buku pucat, dan satu bocah penuh kuah telur—dia bukannya teriak. Dia malah diam sebentar, lalu bertanya:

"Kalian... penari striptis pesanan teman saya untuk pesta ulang tahun ya? Tapi kok... temanya 'Gembel Laut'?"

Gue nyengir kuda. "Anu, Mbak... ini konsep baru. Experimental Performance Art. Namanya 'Tragedi Ekonomi di Tengah Laut'."

Bagaimana bab ini menurutmu?

Rate
← Bab Sebelumnya

Diskusi 0

G