BAB 6

BAB 6: Nyamar Jadi Pelayan, Tapi Kok Malah Jadi Target?

BEKU DI ISLANDIA, BONYOK DI MARKAS MAFIA

BAB 6: Nyamar Jadi Pelayan, Tapi Kok Malah Jadi Target?

๐Ÿ—“ 23 Dec 2025 ๐Ÿ‘ 504 Views
๐Ÿ’Ž

Konten Premium

Bab ini khusus pembaca berbayar. Dukung penulis dengan membeli akses penuh.

Masuk untuk Membeli Akses

BAB 6: Nyamar Jadi Pelayan, Tapi Kok Malah Jadi Target?

Wanita itu namanya Ingrid, seorang sosialita asal Swedia yang kayaknya punya masalah penglihatan atau emang selera humornya terlalu tinggi. Dia percaya-percaya aja sama omongan ngaco gue.

"Ya sudah, karena pestanya baru mulai nanti malam, kalian sembunyi dulu di ruang pelayan. Jangan sampai ketahuan Kapten, dia orangnya kaku banget kayak kanebo kering," kata Ingrid sambil melempar tiga seragam pelayan ke arah kami.

Gue, Omen, dan Dika buru-buru ganti baju. Kostum badut legendaris gue akhirnya dipensiunkan di bawah tempat tidur Ingrid. Sekarang kami resmi jadi pelayan kapal pesiar mewah bernama The Golden Whale.

"Oke, dengerin gue," kata gue sambil benerin dasi kupu-kupu yang mencekik leher. "Kita harus cari jalan keluar dari kapal ini begitu sampai di pelabuhan berikutnya. Jangan bertindak aneh-aneh. Omen, lu jangan banyak teori. Dika, lu jangan makan apa pun yang bukan milik lu!"

"Siap, Bos!" sahut Dika sambil mengunyah permen karet yang entah dia dapet dari mana.

Kita keluar ke area dek utama. Suasananya ramai banget. Orang-orang kaya dengan baju yang harganya bisa buat beli ginjal gue lagi asyik minum sampanye. Kami mencoba membaur, membawa nampan berisi minuman berwarna biru yang rasanya kayak sabun cuci piring premium.

"Vin, lihat itu," bisik Omen sambil menunjuk ke arah bar.

Di sana, duduk seorang pria dengan jas putih mengkilap. Wajahnya tidak asing. Itu adalah Sigurd si Penjagal Paus! Bos mafia yang tadi kita kerjain di gudang! Ternyata kapal pesiar ini adalah tempat pertemuan rahasia para mafia internasional.

"Alamakjan! Kita masuk ke kandang macan yang lagi sariawan!" seru gue pelan.

"Tenang, Vin. Dia nggak bakal ngenalin kita kalau kita pake seragam ini," kata Omen menenangkan.

Tapi masalahnya, nasib gue emang udah didesain sama alam semesta untuk selalu sial. Tiba-tiba, seorang kepala pelayan yang mukanya lebih galak dari ibu kos kalau kita nunggak tiga bulan, mendekat ke arah gue.

"Heh, kamu! Pelayan baru! Bawa nampan ini ke Meja Nomor 9. Itu meja Tuan Sigurd. Pastikan minumannya dingin, kalau nggak, dia bakal potong kuping kamu!"

Gue gemeteran. Lutut gue beradu kayak suara clapperboard film. "Tapi, Pak... saya... saya punya trauma sama meja nomor ganjil."

"JANGAN BANYAK ALASAN! JALAN!"

Gue terpaksa jalan menuju meja Sigurd. Omen dan Dika cuma bisa menatap gue dari jauh dengan tatapan "Semoga amal ibadahmu diterima di sisi-Nya".

Gue sampai di meja Sigurd. Dia lagi ngobrol serius sama pria lain yang punya tato tengkorak di lehernya. Tangan gue gemeteran parah pas naruh gelas di atas meja. Klotak! Sedikit minuman tumpah ke jas putih Sigurd.

Sigurd pelan-pelan menatap gue. Matanya tajam banget. Dia menghirup udara di sekitar gue.

"Bau ini..." gumam Sigurd. "Bau ini sangat familiar... Bau roti kadaluwarsa... dan... bau gas beracun yang menghina martabat saya..."

Gue langsung pucat. "Anu, Tuan... ini parfum terbaru dari Paris. Namanya L'Eau de Comberan."

Sigurd berdiri, dia menarik kerah baju gue. "KAU! BADUT SIALAN!"

Bagaimana bab ini menurutmu?

Rate
← Bab Sebelumnya

Diskusi 0

G