BAB 8

BAB 8: Terjebak di Ruang Kontrol Nuklir? (Eh, Masa Sih?)

BEKU DI ISLANDIA, BONYOK DI MARKAS MAFIA

BAB 8: Terjebak di Ruang Kontrol Nuklir? (Eh, Masa Sih?)

๐Ÿ—“ 25 Dec 2025 ๐Ÿ‘ 504 Views
๐Ÿ’Ž

Konten Premium

Bab ini khusus pembaca berbayar. Dukung penulis dengan membeli akses penuh.

Masuk untuk Membeli Akses

BAB 8: Terjebak di Ruang Kontrol Nuklir? (Eh, Masa Sih?)

Ombak raksasa itu melempar kasur air kita menabrak pintu darurat yang ternyata nggak dikunci. Kita terseret arus air masuk ke dalam sebuah lorong gelap yang menurun tajam.

"AAAAAAAHHHHH! GUE MERASA KAYAK DI WATERBOOM TAPI TANPA TIKET MASUK!" teriak gue sambil meluncur cepat.

BYUURRR!

Kita mendarat di sebuah ruangan teknis yang penuh dengan kabel, pipa uap, dan monitor-monitor besar yang berkedip merah. Air dari kolam tadi perlahan surut lewat lubang pembuangan di lantai.

"Aduh... pinggang gue berasa kayak dipatahin sama pegulat WWE," rintih gue sambil mencoba duduk.

Omen langsung berdiri dan memeriksa monitor di depan kita. Mukanya yang tadi pucat makin jadi transparan. "Vin... kita dalam masalah besar. Lebih besar dari Sigurd, lebih besar dari polisi Islandia."

"Kenapa lagi sih, Men? Kita udah di ruang mesin, kan? Tinggal cari pintu keluar," kata gue santai sambil meres baju gue yang basah kuyup.

"Ini bukan ruang mesin biasa, Vin," bisik Omen gemetar. "Lihat layar itu. Kapal ini ternyata bukan cuma kapal pesiar. Ini adalah kapal penyelundup reaktor nuklir ilegal yang dipasang buat jadi pembangkit listrik berjalan di pasar gelap!"

"Hah? Nuklir? Yang bisa bikin kita jadi Hulk kalau meledak itu?" tanya Dika antusias.

"Bukan jadi Hulk, Dik! Jadi abu gosok!" teriak Omen. "Dan masalahnya adalah... ombak buatan yang lu aktifin tadi kayaknya bikin sistem pendinginnya korslet. Lihat itu!"

Omen menunjuk ke arah sebuah tangki besar di tengah ruangan yang mulai mengeluarkan bunyi ngiiing... ngiiing... kencang dan lampu strobo merah berputar-putar. Di layar utama tertulis besar-besar: CORE OVERHEATING. MELTDOWN IN: 10:00 MINUTES.

"Sepuluh menit?" gue melongo. "Maksud lu, dalam sepuluh menit kapal ini bakal jadi kembang api terbesar di Laut Utara?"

"Secara teoritis... iya," jawab Omen lemas.

Tiba-tiba, dari interkom ruangan, suara Sigurd terdengar. "Heh, para pecundang! Kalian terjebak di ruang reaktor, hah? Bagus! Mati saja di sana! Saya dan anak buah saya sudah menuju sekoci penyelamat terakhir. Selamat menikmati kembang apinya!"

Klik.

"Kurang ajar! Kita dikunci dari luar!" gue menggedor-gedor pintu besi tebal itu.

"Vin," panggil Dika pelan.

"Apa lagi, Dik? Kita lagi sibuk mau mati nih!"

"Itu... ada kabel yang putus kena air tadi. Terus... kabelnya nempel ke gagang pintu besinya..."

Gue menatap gagang pintu. Ada percikan listrik biru yang cantik meloncat-loncat di sana. Kalau gue pegang itu gagang pintu buat dibuka, gue bakal jadi ayam goreng krispi dalam hitungan detik.

"Jadi... kita terjebak di ruangan yang mau meledak, dengan pintu yang dialiri listrik tegangan tinggi, dan nggak ada orang yang bisa nolongin?" tanya gue merangkum situasi.

"Tepat sekali," sahut Omen.

"Wadidaw... Makjang... BUNDAAAA! VINO MAU PULANG!" teriak gue histeris ke arah kamera CCTV.

Di saat genting itu, tiba-tiba gue melihat sebuah kotak kaca di pojok ruangan bertuliskan: IN CASE OF EMERGENCY, BREAK GLASS. Di dalamnya bukan alat pemadam api, tapi... sebuah terompet badut dan satu pak balon karet.

Gue menelan ludah. "Jangan bilang... cara benerin reaktor ini ada hubungannya sama balon?"

Bagaimana bab ini menurutmu?

Rate
← Bab Sebelumnya Tamat / Belum Ada Bab

Diskusi 0

G