CATATAN SI JIN-WOO: PENDEKAR JALUR BELAKANG
Bab 10 : Anjing Menggonggong, Kucing Mengeong
Konten Premium
Bab ini khusus pembaca berbayar. Dukung penulis dengan membeli akses penuh.
Masuk untuk Membeli AksesBab 10 : Anjing Menggonggong, Kucing Mengeong
Arena pertarungan makin panas, bukan karena semangat juang, tapi karena matahari udah tepat di atas ubun-ubun. Gue, Han Jin-woo, berdiri berhadapan dengan Guk Dog-gu, utusan Sekte Pengemis yang baunya kayak campuran arak fermentasi dan got mampet.
"Siap-siap, Kucing Manja!" seru Dog-gu sambil memutar tongkat bambu hijaunya. Wush-wush-wush! Putarannya kenceng banget, bikin angin ribut lokal. "Jurus Tongkat Pemukul Anjing: Anjing Gila Menggali Tanah!"
Dia nyerbu. Ujung tongkatnya nyodok ke bawah, ngincer kaki gue. Licik! Ini orang mau bikin gue cacat permanen biar nggak bisa ikut lomba lari 17-an.
Gue panik. Kitab Kucing Mabuk belum ngajarin cara lawan tongkat. Gue cuma inget satu prinsip: Kalau nggak tau mau ngapain, bikin lawan bingung.
"Eits! Ada koin emas jatoh!" teriak gue sambil loncat kodok ke kiri.
Tongkat Dog-gu menghantam tanah tempat gue berdiri tadi. BRAK! Debu ngebul.
"Jangan nipu, Kampret!" Dog-gu marah. Dia mengubah arah serangan. Tongkatnya menyapu horizontal, ngincer pinggang.
Gue reflek kayang. Iya, kayang. Punggung gue melengkung ke belakang, tangan nyentuh tanah. Tongkat itu lewat tipis di atas pusar gue.
"Gila, pinggang gue mau putus!" batin gue menjerit.
Dog-gu nggak kasih napas. Dia nyerang bertubi-tubi. Tak! Tak! Tak! Gue cuma bisa menghindar kayak cacing kepanasan. Loncat sana, guling sini, merayap dikit. Napas gue udah senin-kamis.
"Hahaha! Habis kau!" Dog-gu melompat tinggi, siap menghantam batok kepala gue dengan jurus pamungkas: 'Anjing Meloncat Pagar'.
Gue pasrah. Gue merem. Maafkan aku, Ibu. Anakmu gagal jadi pendekar, cuma jadi perkedel.
Tiba-tiba...
PLETAK!
Terdengar suara kecil tapi nyaring.
Di udara, tubuh Dog-gu tiba-tiba kejang. Matanya melotot kaget. Dia kayak kesandung angin.
Gerakan jatuhnya jadi kacau balau. Bukannya mendarat dengan tongkat menghantam kepala gue, dia malah mendarat dengan wajah duluan.
GEDEBUK!
Dog-gu mencium tanah dengan penuh nafsu. Tongkat bambunya mental, muter-muter di udara, lalu jatoh nimpuk pantatnya sendiri. PLAK!
Hening lagi.
Gue buka mata pelan-pelan. Dog-gu udah pingsan dengan posisi sujud syukur. Di dekat kakinya, gue liat benda kecil yang familiar.
Sebiji kacang rebus.
Gue nengok cepet ke arah kerumunan. Di pojok yang agak gelap, di bawah pohon beringin, gue liat sekilas bayangan orang tua dengan rambut gimbal lagi nyengir kuda sambil ngacungin jempol. Tetua Wi! Si Tua Bangka itu nonton!
Wasit nyamperin Dog-gu, nyolek-nyolek badannya. "Saudara Dog-gu? Saudara?"
Nggak ada respon. Cuma suara ngorok halus.
"PEMENANGNYA... HAN JIN-WOO!"
Sorak sorai kali ini lebih heboh.
"Hebat! Dia pake Ilmu Tenaga Dalam Tanpa Wujud!"
"Dog-gu sampe sujud minta ampun!"
Gue berdiri, kibasin debu di celana, pasang muka sok misterius.
"Yah, begitulah," kata gue cool. "Dia tertekan oleh aura kegantengan gue."
Padahal dalem ati gue teriak: MAKASIH KEK! HUTANG BUDI GUE DIBAYAR PAKE APA NIH? GINJAL?!