CATATAN SI JIN-WOO: PENDEKAR JALUR BELAKANG
Bab 9 : Tari Ular Kena Injek
Konten Premium
Bab ini khusus pembaca berbayar. Dukung penulis dengan membeli akses penuh.
Masuk untuk Membeli AksesBab 9 : Tari Ular Kena Injek
Zhao Si Kepala Batu natap gue kayak singa laper liat kelinci pincang. Dia nggak bawa senjata, cuma kepalan tangan yang segede panci presto.
"Han Jin-woo," geramnya. "Gue bakal bikin lo jadi bubur ayam!"
"Bubur ayam itu enak, Zhao. Jangan lupa kerupuknya," jawab gue santai, padahal lutut gue gemeteran medley.
Wasit mengangkat bendera. "MULAI!"
"HYAAAT!" Zhao langsung nyerbu. Dia lari kenceng banget, tinjunya mengarah lurus ke muka gue. Gaya tinju standar: 'Pukulan Harimau Lapar'. Kuat, tapi lurus banget kayak jalan tol.
Gue inget kata-kata Tetua Wi di penjara: "Jangan lawan kekuatan. Jadilah malas."
Saat tinju Zhao udah sejengkal dari hidung mancung gue, gue nggak nangkis. Gue malah... nguap.
Iya, gue nguap lebar. Badan gue otomatis condong ke belakang karena nguap itu.
WUSS!
Angin pukulan Zhao lewat di atas muka gue, bikin jambul gue berkibar dramatis.
Karena pukulannya meleset, Zhao kehilangan keseimbangan dan maju selangkah terlalu jauh.
Gue yang lagi posisi condong ke belakang, "secara tidak sengaja" ngangkat kaki kanan gue.
BUK!
Kaki gue nyandung kaki Zhao.
Zhao yang badannya gede itu langsung oleng. Dia berusaha nahan keseimbangan, tapi gue (yang pura-pura mau jatuh juga) nyenggol pinggangnya pake bahu gue yang kurus.
GEDEBUK!
Zhao Si Kepala Batu nyusruk tanah. Mukanya nyium lantai arena dengan mesra.
Hening.
Penonton bengong. Wasit bengong. Namgung Ryong di panggung VIP berhenti ngipas.
"Hoki! Itu pasti hoki!" teriak penonton.
Zhao bangun lagi, mukanya merah padam dan kotor tanah. "DASAR CURANG! JANGAN LARI-LARI AJA LO!"
Dia nyerang lagi. Kali ini pake tendangan memutar. 'Tendangan Sapu Jagat'.
Gue liat kakinya muter. Gue inget Halaman 4 Kitab Kucing Mabuk: Saat badai datang, merunduklah cari koin.
Gue jongkok mendadak. "Eh, ada duit gopek!" seru gue sambil nunjuk tanah.
Kaki Zhao lewat di atas kepala gue. Karena dia nendang sekuat tenaga dan nggak kena sasaran, dia muter terus kayak baling-baling bambu.
Pas dia lagi pusing muter, gue berdiri pelan-pelan (sambil pura-pura kecewa nggak nemu duit), lalu dengan santai menyodorkan pantat gue ke arah dia yang lagi sempoyongan mundur.
DUG.
Pantat gue nyenggol pantat dia.
Daya dorong minimal, hasil maksimal. Zhao meluncur keluar garis arena, jatuh terjun bebas ke parit kecil di pinggir lapangan.
BYUR!
"PEMENANG: HAN JIN-WOO!" teriak wasit, nadanya masih nggak percaya.
Sorak sorai meledak. Bukan sorak kagum, tapi sorak ketawa.
"Gila! Dia menang pake jurus pantat!"
"Pendekar Pantat Sakti!"
Gue berdiri di tengah arena, ngangkat tangan sambil nyengir lebar. Gue liat ke arah panggung VIP.
Suster Ye-in tersenyum! Dia nutup mulutnya menahan tawa, tapi matanya natap gue! Yes!
Tapi senyum gue pudar pas liat Namgung Ryong. Dia nggak ketawa. Dia natap gue tajem banget. Matanya kayak bilang: "Menarik. Mainan baru buat gue geprek."
"Pertandingan Selanjutnya!" Wasit berteriak lagi.
Gue mau turun panggung, mau ngerayain kemenangan pake es teh manis. Tapi Wasit nahan bahu gue.
"Tunggu, Han. Karena jumlah peserta ganjil, dan kamu menang terlalu cepat... kamu harus lawan satu orang lagi untuk masuk babak final murid luar."
"Hah? Siapa, Pak Wasit? Jangan yang badannya gede lagi dong, kasian pantat saya."
Wasit nyengir licik. "Bukan. Lawanmu adalah tamu kehormatan dari Sekte Pengemis yang kebetulan sedang berkunjung. Murid muda berbakat mereka."
Seorang cowok kumel melompat ke arena. Dia bawa tongkat bambu hijau. Senyumnya lebih miring daripada gue. Bajunya penuh tambalan warna-warni.
"Salam kenal, Kakak," katanya sopan tapi matanya nyalang. "Namaku Guk Dog-gu (Si Anjing Racun). Kudengar kau punya gaya bertarung unik. Mari kita lihat, apakah Kucing bisa melawan Anjing?"
Gue nelen ludah.
Ini beda level. Kalau Zhao itu preman pasar, si Dog-gu ini real deal. Aura tenaga dalamnya kerasa banget, bau araknya juga lebih kenceng dari Tetua Wi.
Sial. Gue belum baca Bab 'Kucing Dikejar Anjing Gila'.