CATATAN SI JIN-WOO: PENDEKAR JALUR BELAKANG
Bab 11 : Undangan Pesta Teh yang Salah Alamat
Konten Premium
Bab ini khusus pembaca berbayar. Dukung penulis dengan membeli akses penuh.
Masuk untuk Membeli AksesBab 11 : Undangan Pesta Teh yang Salah Alamat
Kemenangan gue yang absurd itu bikin gue jadi selebriti dadakan di kalangan murid luar. Si Gendut Oh bahkan nawarin mijitin kaki gue (yang gue tolak dengan halus karena tangan dia bau terasi).
Gue lagi duduk leyeh-leyeh di pinggir lapangan sambil ngipasin badan pake daun pisang, ketika wangi bunga melati itu tercium lagi.
Suster Ye-in.
Dia dateng nyamperin gue, matanya berbinar-binar.
"Saudara Han! Selamat ya!" ucapnya tulus. "Pertarungan tadi... unik sekali. Saya tidak tahu kamu menguasai teknik tingkat tinggi seperti itu."
Gue keselek ludah. Tingkat tinggi apanya, Sus. Itu tingkat kepepet.
"Ah, biasa aja, Suster," jawab gue merendah untuk meroket. "Itu cuma... improvisasi. Seni itu kan harus spontan, kayak bersin."
Ye-in ketawa kecil. "Kamu lucu. Oh ya, ini..." Dia menyodorkan botol air minum dari bambu. "Minumlah. Kamu pasti haus."
Dunia rasanya berhenti berputar. Burung-burung bernyanyi lagu soundtrack drama Korea. Ini momen gue! Gue ulurkan tangan mau ngambil botol itu...
"Ehem."
Suara bariton yang nyebelin itu lagi. Dejavu.
Namgung Ryong muncul entah dari mana, berdiri di antara gue dan Ye-in kayak tembok pemisah Berlin. Dia pake jubah sutra biru yang kinclong banget, kontras sama baju gue yang kucel penuh debu.
"Adik Ye-in," katanya sopan tapi tajem. "Jangan berikan air sembarangan pada murid luar. Perut mereka tidak terbiasa dengan air pegunungan murni, nanti sakit perut."
Kurang ajar. Emang perut gue perut rongsokan?!
Ryong menoleh ke gue, tatapannya meremehkan. "Han Jin-woo. Pertunjukan badutmu tadi cukup menghibur. Lumayan untuk selingan sebelum makan siang."
"Makasih, Bos," jawab gue asal. "Sengaja biar Bos nggak ngantuk."
Ryong tersenyum tipis, senyum yang nggak nyampe mata. "Karena kau sudah 'menghibur' kami, aku berbaik hati mengundangmu. Sore ini, aku mengadakan Jamuan Teh di Paviliun Giok Putih. Adik Ye-in juga datang."
Gue bengong. Jamuan Teh? Paviliun Giok Putih? Itu kan markas anak-anak elit murid dalam! Ngapain dia ngundang gue? Pasti mau dipermalukan.
"Wah, maaf nih Kak Ryong," tolak gue halus. "Sore ini gue ada jadwal... ngitung jumlah semut di asrama."
"Ah, sayang sekali," potong Ryong cepet. "Padahal aku ingin membahas soal... 'buku biru' yang kau temukan di perpustakaan."
Jantung gue skip satu ketukan.
Dia tau?! Darimana dia tau soal kitab Kucing Mabuk? Atau dia cuma bluffing?
Gue liat mata Ryong. Licik. Dia megang kartu AS gue.
"Baiklah!" seru gue lantang, bikin Ye-in kaget. "Demi menghormati Kakak Seperguruan, saya akan datang! Jangan lupa siapin gorengan ya, saya nggak suka kue manis."
Ryong menyeringai puas. "Bagus. Pakailah baju yang layak. Jangan bawa bau kandang kuda ke paviliunku."
Dia pergi bareng Ye-in. Ye-in sempet nengok ke belakang dan ngasih senyum semangat, tapi gue udah lemes duluan.
"Mati gue, Oh," keluh gue ke Si Gendut Oh yang baru muncul bawa bakwan. "Gue diundang ke sarang macan. Gue butuh baju. Punya lo ada yang muat nggak?"
Si Gendut Oh ngunyah bakwan. "Ada sih. Jubah kondangan bekas bapak gue. Tapi warnanya pink neon."
"Bodo amat. Sikat!"