BAB 12

Bab 12 : Etika Minum Teh ala Warung Kopi

CATATAN SI JIN-WOO: PENDEKAR JALUR BELAKANG

Bab 12 : Etika Minum Teh ala Warung Kopi

๐Ÿ—“ 27 Jun 2025 ๐Ÿ‘ 732 Views
๐Ÿ’Ž

Konten Premium

Bab ini khusus pembaca berbayar. Dukung penulis dengan membeli akses penuh.

Masuk untuk Membeli Akses

Bab 12 : Etika Minum Teh ala Warung Kopi

Paviliun Giok Putih itu tempatnya para Crazy Rich Murim. Lantainya marmer, tiangnya diukir naga, dan ada kolam ikan koi yang ikannya lebih gemuk daripada gue.

Gue dateng dengan percaya diri (palsu) pake jubah pink neon punya bapaknya Oh. Kegedean banget, lengan bajunya harus gue gulung lima kali, dan bagian bawahnya nyapu lantai. Gue kelihatan kayak permen karet raksasa yang lagi jalan-jalan.

Semua mata tertuju ke gue pas gue masuk. Ada sekitar sepuluh murid elit di sana, duduk rapi mengelilingi meja rendah. Namgung Ryong duduk di ujung sebagai tuan rumah, dan Ye-in di sebelahnya.

"Selamat datang, Han Jin-woo," sapa Ryong, suaranya nahan ketawa liat kostum gue. "Pilihan warna yang... berani."

"Ini namanya Fashion Statement, Kak," jawab gue sambil duduk bersila di satu-satunya bantal kosong. "Warna ini melambangkan jiwa muda yang membara. Kalian semua pake putih-biru, suram amat kayak rumah sakit."

Beberapa murid elit menutup mulut menahan tawa, atau jijik. Entahlah.

Di depan gue ada cangkir keramik kecil banget. Ukurannya lebih kecil dari sloki jamu.

"Silakan," kata Ryong. "Ini Teh Daun Emas dari Puncak Berkabut. Harganya satu ons setara gaji setahun murid luar. Nikmati aromanya dulu, rasakan chi-nya..."

Gue liat orang-orang pada nyium asep tehnya, merem melek kayak orang sakaw.

Gue? Gue haus, Bro. Abis berantem lawan anjing, belum minum.

Sruput! GLUK!

Gue langsung tenggak abis sekali teguk. Panas banget, lidah gue melepuh, tapi gue telen aja biar cepet.

"Hah..." gue naruh cangkir kasar ke meja. "Kurang manis, Bos. Ada gula batu nggak? Atau susu kental manis?"

Keheningan melanda paviliun. Murid di sebelah gue melotot ngeri. "Itu... itu teh pusaka! Cara minumnya harus disesap perlahan! Kau meminumnya seperti minum air comberan!"

"Teh ya teh," bela gue. "Masuk perut juga nyampur sama nasi uduk tadi pagi."

Ryong tersenyum dingin. "Biarkan saja. Lidah orang biasa memang tidak bisa membedakan emas dan loyang."

Tiba-tiba, perut gue bergejolak.

Bukan sakit perut. Tapi panas.

Teh Daun Emas itu ternyata mengandung energi murni (Qi) yang kuat banget. Buat murid elit yang udah biasa melatih tenaga dalam, ini tonik bagus.

Tapi buat gue? Saluran tenaga dalam gue kan mampet dan berantakan! Ditambah lagi gue baru belajar Kucing Mabuk yang alirannya nyeleneh.

Energi teh itu bertabrakan sama energi Kucing Mabuk di perut gue.

HIK!

Gue cegukan kenceng.

Setiap kali gue cegukan, keluar asep tipis dari mulut gue.

"Maaf... HIK!"

"Kau tidak apa-apa, Saudara Han?" tanya Ye-in cemas.

"Gapapa, Sus... cuma agak... HIK!... bergas."

Ryong menatap gue tajam. "Menarik. Reaksi tubuhmu terhadap Qi murni sangat... kacau. Mari kita lihat seberapa kacau."

Ryong meletakkan tangannya di atas meja. "Han Jin-woo, mari kita main permainan kecil. Adu Tekanan. Kita salurkan tenaga dalam ke cangkir teh di tengah meja. Kalau cangkir itu pecah ke arahmu, kau kalah. Kalau pecah ke arahku, aku kalah."

Ini jebakan! Tenaga dalam Ryong itu sekuat badai. Gue cuma sepoi-sepoi angin knalpot.

"Nggak usah deh, Kak... HIK!"

"Takut?" Ryong memprovokasi. "Kalau kau menang, aku berikan pedang bajaku padamu. Tapi kalau kau kalah... kau harus serahkan 'buku' itu padaku."

Sialan. Dia beneran ngincer kitab Tetua Wi.

Semua orang natap gue. Ye-in natap gue khawatir.

Harga diri gue sebagai cowok (dan sebagai pemilik kitab Kucing Mabuk) dipertaruhkan.

"Oke!" Gue gebrak meja (sakit sih sebenernya). "Siapa takut! HIK!"

Gue tempelin tangan gue ke meja. Ryong juga.

Ryong mulai nyalurin tenaga. Aura biru menyelimuti tangannya. Cangkir di tengah meja mulai bergetar. Gue ngerasa ada tekanan berat kayak truk tronton nabrak tangan gue.

Gue nyoba ngelawan. Ayo, Kucing! Bangun! Jangan tidur mulu!

Tapi tenaga gue nggak mau keluar. Cangkir itu makin geser ke arah gue. Tinggal dikit lagi pecah di muka gue.

Ryong senyum kemenangan. "Lemah."

Saat itulah, energi teh di perut gue bereaksi liar karena tekanan dari Ryong.

Perut gue bunyi KRIUK kenceng banget.

Dan tenaga 'Kucing Mabuk' itu mendadak loncat. Bukan lewat tangan, tapi lewat...

HIK-CUH!

Gue bersin. Bersin yang nggak tertahankan.

Tapi ini bukan bersin biasa. Energi teh + Kucing Mabuk meledak lewat hidung dan mulut gue bersamaan dengan bersin itu.

Ledakan angin dahsyat keluar dari muka gue, menghantam cangkir itu.

PYAR!

Cangkir itu nggak cuma pecah. Pecahannya melesat kayak peluru ke arah Ryong, bersama dengan semburan teh (dan sedikit ingus, sori Ryong).

Wajah ganteng Namgung Ryong... basah kuyup dan penuh serpihan keramik.

Hening.

Lagi-lagi hening.

"Wah," kata gue polos sambil ngusap idung pake lengan baju pink. "Maaf Kak, saya alergi orang sok ganteng. HIK!"

Bagaimana bab ini menurutmu?

Rate
← Bab Sebelumnya

Diskusi 0

G