CATATAN SI JIN-WOO: PENDEKAR JALUR BELAKANG
Bab 13 : Maling Teriak "Lunas!"
Konten Premium
Bab ini khusus pembaca berbayar. Dukung penulis dengan membeli akses penuh.
Masuk untuk Membeli AksesBab 13 : Maling Teriak "Lunas!"
Suasana di Paviliun Giok Putih beku seketika, kontras banget sama teh panas yang baru aja gue semburin. Wajah Namgung Ryong yang biasanya mulus bak porselen Dinasti Ming, sekarang basah kuyup, lengket, dan dihiasi daun teh nyangkut di alis kirinya.
"Han... Jin... Woo..."
Suaranya rendah, bergetar, kayak mesin diesel mau meledak. Aura membunuh (Killing Intent) mulai menguar dari badannya, bikin air di kolam ikan koi mendidih. Ikan-ikannya pada loncat ke darat, mending mati kering daripada direbus hidup-hidup.
"Tunggu dulu, Kak Ryong!" gue buru-buru angkat tangan, berusaha negosiasi walau kaki udah siap lari marathon. "Secara teknis, cangkirnya pecah ke arah Kakak. Jadi... gue menang, kan? Mana pedangnya? Lumayan buat ngerujak."
"KAU PIKIR INI WAKTUNYA MEMBAHAS TARUHAN?!" Ryong meledak. Dia menggebrak meja sampai hancur berkeping-keping. "Hancurkan dia! Patahkan semua tulang rusuknya, sisakan satu buat dia napas!"
Para murid elit yang tadi cuma jadi penonton bayaran langsung berdiri serentak. Mereka menghunus pedang masing-masing. Kilatan logam di mana-mana.
"Waduh, main keroyokan. Mental kerupuk kalian!" teriak gue sambil melompat mundur.
Gue liat pedang taruhan—Pedang Baja Biru—tergeletak di meja samping yang belum hancur.
Kesempatan dalam kesempitan.
Dengan gerakan 'Kucing Nyolong Ikan Asin', gue meluncur di lantai (memanfaatkan kelicinan tumpahan teh), menyambar pedang itu, terus lanjut meluncur ke arah jendela.
"Hutang lunas ya, Bos! Pedangnya gue bawa! Jangan kangen!"
"KEJAR!!!"
Gue loncat keluar jendela. PRANG! Keren sih, kayak di film action, tapi ternyata di bawah jendela itu ada semak mawar berduri.
NYESS! Pantat gue rasanya kayak didudukin landak.
"Aduh! Sakit woi! Siapa yang nanem mawar di sini?!"
Gue nggak punya waktu buat ngelus pantat. Gue langsung lari sekencang-kencangnya. Bukan lari biasa, tapi lari pake gaya 'Kucing Mabuk'. Gue lari zig-zag, kadang merangkak, kadang loncat pagar.
Di belakang gue, sepasukan murid elit berbaju putih mengejar sambil teriak-teriak.
"BERHENTI KAU SAMPAH!"
"KEMBALIKAN PEDANG TUAN MUDA!"
"Enak aja sampah!" balas gue sambil ngos-ngosan. "Sampah tuh didaur ulang, bukan dikejar-kejar!"
Gue lari ke arah asrama murid luar, tapi dicegat.
Gue lari ke arah gerbang utama, dijaga satpam.
Gue lari ke arah dapur, pintunya dikunci.
Satu-satunya jalan yang terbuka cuma jalan setapak menuju hutan di belakang gunung. Hutan yang ada plang gede bertuliskan: "DILARANG MASUK. BAHAYA. ADA HANTU DAN TETUA GALAK."
Namanya Hutan Bambu Hitam.
"Yah, daripada mati digebukin fansclub Namgung Ryong, mending gue uji nyali," batin gue.
Gue menerobos masuk ke dalam hutan yang gelap dan berkabut itu. Suara teriakan pengejar makin lama makin jauh, sampai akhirnya hilang ditelan suara gesekan daun bambu yang bikin merinding. Krek... Krek...
Gue berhenti di balik pohon bambu raksasa, nyandar sambil megang dada. Jantung gue diskotik parah. Pedang Baja Biru masih gue peluk erat.
"Aman... kayaknya aman..."
Tapi tiba-tiba, perut gue bergejolak lagi.
Energi Teh Daun Emas itu belum ilang. Dia malah makin ngamuk di perut gue, nyampur sama hawa dingin hutan.
HIK!
Gue cegukan lagi. Dan kali ini, bukan cuma angin yang keluar.
Dari mulut gue keluar api kecil.
HIK-PHUU!
"Anjir! Gue jadi naga?!" Gue nepuk-nepuk bibir gue yang panas. "Gawat, gue bisa bakar hutan ini kalau nggak berhenti cegukan!"