BAB 14

Bab 14 : Bom Waktu Beraroma Teh Mahal

CATATAN SI JIN-WOO: PENDEKAR JALUR BELAKANG

Bab 14 : Bom Waktu Beraroma Teh Mahal

๐Ÿ—“ 01 Jul 2025 ๐Ÿ‘ 720 Views
๐Ÿ’Ž

Konten Premium

Bab ini khusus pembaca berbayar. Dukung penulis dengan membeli akses penuh.

Masuk untuk Membeli Akses

Bab 14 : Bom Waktu Beraroma Teh Mahal

Hutan Bambu Hitam itu vibe-nya suram abis. Kabutnya tebal, udaranya lembab, dan tanahnya licin. Kalau ini seting film horor, gue pasti karakter pertama yang mati konyol karena penasaran sama suara aneh.

"Halo? Ada orang? Atau hantu yang ramah lingkungan?" panggil gue pelan.

HIK-PHUU! Api kecil nyembur lagi dari mulut gue, nyaris mbakar daun kering.

"Bocah Tolol! Jangan berisik!"

Suara itu dateng dari atas. Gue mendongak.

Bergelantungan di batang bambu dengan posisi kaki di atas kepala di bawah (posisi kelelawar), ada si kakek gimbal, Tetua Wi Gwang. Dia lagi nyemil tebu.

"Kek! Turun Kek! Tolongin saya!" rengek gue. "Saya nelen kompor gas kayaknya!"

Tetua Wi melompat turun, mendarat tanpa suara. Dia nyamperin gue, nempelin telinganya ke perut gue.

"Hmm... Bunyinya kayak mesin cuci rusak," diagnosisnya profesional.

"Ini gara-gara Teh Daun Emas punya Si Ryong, Kek. Terus saya pake jurus Kucing Mabuk pas adu tenaga dalem. Sekarang rasanya mau meledak!"

Tetua Wi ketawa ngakak. "Ya iyalah mau meledak! Dasar bego! Jurus Kucing Mabuk itu sifatnya Yin (dingin/pasif), sedangkan Teh Daun Emas itu Yang (panas/aktif) murni! Kau mencampur minyak dan api di dalam perutmu yang nggak ada ototnya itu!"

Gue pucet. "Terus gimana dong? Saya bakal mati?"

"Mati sih enggak," kata Tetua Wi santai. "Paling cuma lumpuh total, terus sisa hidupmu cuma bisa ngedip sama ngiler."

"ITU SAMA AJA MATI, KEK!" teriak gue histeris. "Sembuhin dong! Katanya penulis best-seller!"

Tetua Wi menyeringai. Gigi ompongnya kelihatan bersinar di kegelapan hutan.

"Ada satu cara. Kau harus menyatukan dua energi itu. Kalau berhasil, tenaga dalammu bakal naik drastis. Kalau gagal... ya jadi sayur."

"Caranya?"

"Ikut aku."

Tetua Wi jalan masuk makin dalem ke hutan. Gue ngikutin dia sambil nahan cegukan api. Kami sampai di sebuah danau kecil yang airnya item pekat. Di tengah danau, ada satu batang bambu kecil yang nancep sendirian.

"Liat bambu itu?" tunjuk Tetua Wi.

"Liat. Kenapa? Saya disuruh manjat?"

"Bukan. Kau harus tidur di ujung atas bambu itu."

Gue bengong. "Hah? Bambu itu kecil banget, Kek! Diameternya cuma sejempol kaki! Mana bisa tidur di situ? Ketiup angin dikit juga patah!"

"Itulah intinya, Dodol!" Tetua Wi ngejitak kepala gue. "Untuk menyeimbangkan energi panas dan dingin, tubuhmu harus mencapai titik Nol. Rileks total. Seringan kapas. Kalau kau tegang dikit aja, bambu patah, kau nyebur ke air."

"Emang kenapa kalau nyebur?" tanya gue polos.

"Oh, di dalem air itu banyak Piranha Sungai. Mereka suka banget sama daging pantat yang empuk."

Gue nelen ludah.

Ini bukan latihan. Ini percobaan pembunuhan berencana.

"Waktumu cuma sampai matahari terbit, Bocah. Kalau sampai besok pagi energi di perutmu belum stabil... BOOM. Ususmu bakal jadi dekorasi hutan ini."

Tetua Wi kemudian melompat ke atas pohon, duduk santai sambil nonton. "Ayo mulai. Anggap aja lagi kemping."

Gue natap danau item itu. Gue natap bambu tipis itu. Gue natap perut gue yang makin panas.

"Nasib... nasib... Mau jadi pendekar kok ribet amat."

Dengan modal nekat (dan takut jadi sayur), gue make ilmu meringankan tubuh seadanya buat loncat ke arah bambu.

HUP!

Kaki gue napak di ujung bambu.

Bambunya melengkung parah.

"WAAAA!"

BYUR!

Gue nyebur.

Dingin!

Dan tiba-tiba gue ngerasa ada yang nyigit celana gue.

"IKAN SETAN! LEPASIN!"

Gue berenang panik ke tepian, celana bagian bokong udah robek digigit ikan.

"Ulangi!" teriak Tetua Wi dari atas pohon sambil ketawa seneng.

Bagaimana bab ini menurutmu?

Rate
← Bab Sebelumnya

Diskusi 0

G