BAB 15

Bab 15 : Tidur Adalah Koentji (Dan Harta Karun Ilegal)

CATATAN SI JIN-WOO: PENDEKAR JALUR BELAKANG

Bab 15 : Tidur Adalah Koentji (Dan Harta Karun Ilegal)

๐Ÿ—“ 03 Jul 2025 ๐Ÿ‘ 731 Views
๐Ÿ’Ž

Konten Premium

Bab ini khusus pembaca berbayar. Dukung penulis dengan membeli akses penuh.

Masuk untuk Membeli Akses

Bab 15 : Tidur Adalah Koentji (Dan Harta Karun Ilegal)

Sudah lima puluh kali gue nyebur. Badan gue basah kuyup, bau amis, dan pantat gue perih digigitin ikan piranha (untungnya gigi mereka kecil-kecil, jadi rasanya kayak dicubit tante-tante gemes, tapi tetep aja sakit).

Matahari udah mulai mau nongol di ufuk timur. Langit udah agak abu-abu.

Perut gue rasanya makin sakit. Panasnya nyebar ke dada.

"Gue nggak kuat, Kek..." rintih gue, tergeletak di pinggir danau. "Susah banget. Gimana caranya badan enteng kalau pikiran berat mikirin cicilan utang?"

Tetua Wi turun dari pohon. Mukanya kali ini agak serius.

"Masalahmu adalah kau masih mencoba. Kucing tidak pernah mencoba untuk tidur. Kucing hanya tidur. Mereka percaya kalau mereka jatuh, mereka tetap akan mendarat dengan kaki. Percaya sama instingmu, bukan otakmu yang lemot itu."

Percaya sama insting.

Jangan mikir.

Jadilah males.

Gue merem. Gue bayangin gue adalah jemuran. Jemuran basah yang pasrah ditiup angin. Nggak ngelawan, cuma ngikutin arus.

Gue bangkit lagi. Kali ini gue nggak mikir soal keseimbangan. Gue nggak mikir soal piranha. Gue cuma mikir: Gue ngantuk. Gue mau bobok cantik di ujung bambu.

Gue loncat. Wush.

Kaki gue nempel di ujung bambu.

Bambunya melengkung... tapi nggak patah. Bambunya goyang... tapi gue ngikutin goyangannya.

Gue pelan-pelan nurunin badan, terus rebahan.

Iya, rebahan di ujung bambu seluas koin. Punggung gue entah gimana caranya nempel seimbang.

Angin bertiup. Gue goyang kiri, gue goyang kanan.

Rasanya... damai.

Panas di perut gue mulai muter, ketemu sama dinginnya angin malam, terus nyatu jadi anget-anget kuku yang nyaman.

Gue ketiduran. Beneran tidur.

...

"Woi! Bangun! Udah siang!"

Sebuah batu nimpuk jidat gue.

Gue kaget, reflek bangun, dan keseimbangan gue ilang.

BYUR!

Gue jatoh lagi ke danau. Tapi kali ini seger. Badan gue enteng banget! Tenaga gue rasanya full tank.

"Berhasil?" Gue liat tangan gue. Ada aura tipis warna abu-abu nyelimutin kulit. Perpaduan Qi emas dan Qi kucing.

"Lumayan," komentar Tetua Wi. "Kau baru saja naik ke Tingkat Menengah dalam semalam. Rekor baru, walaupun gayanya jelek banget."

Gue nyengir lebar. "Siap lawan Namgung Ryong nih!"

"Jangan sombong dulu," potong Tetua Wi. "Coba liat pedang yang kau curi itu."

Gue ngambil Pedang Baja Biru yang tergeletak di rumput. "Kenapa, Kek? Ini pedang mahal kan?"

"Cabut sarungnya. Arahkan ke sinar matahari pagi."

Gue nurut. Gue cabut pedangnya. Bilahnya bening kebiruan, tajem banget. Gue arahin ke matahari.

Tiba-tiba, ada bayangan aneh muncul di tanah. Pantulan cahaya dari pedang itu membentuk pola peta. Ada garis-garis gunung, sungai, dan tanda 'X' merah.

"Lho? Kok ada peta harta karun di dalem pedang?"

Muka Tetua Wi pucat. Baru kali ini gue liat dia ketakutan.

"Itu bukan peta harta karun biasa, Bocah. Itu Peta Makam Iblis Langit. Benda paling dicari sama Aliran Hitam dan Aliran Putih selama seratus tahun terakhir."

"Hah?"

"Dan bodohnya," lanjut Tetua Wi, "Keluarga Namgung pasti sengaja menyembunyikannya di pedang itu biar nggak dicurigai. Sekarang kau mencurinya."

Gue bengong.

Jadi gue bukan cuma nyuri pedang taruhan. Gue nyuri Kunci Nuklir Dunia Persilatan.

Tiba-tiba, dari arah luar hutan, terdengar suara sirine... eh, suara terompet tanduk yang keras banget.

TOOOOT! TOOOOT!

"Itu Tanda Bahaya Sekte Tingkat Satu," kata Tetua Wi. "Artinya ada musuh besar menyerang... atau ada pengkhianat besar yang harus diburu."

Dia natap gue.

"Dan kayaknya, pengkhianat itu elo, Jin-woo."

Gue lemes. Lutut gue geter lagi.

"Kek... saya balikin pedangnya boleh nggak? Saya bilang saya salah ambil, kirain ini tusuk gigi?"

"Telat," Tetua Wi masang kuda-kuda siaga. "Kita dikepung."

Di sekeliling danau, puluhan sosok berbaju hitam dengan topeng setan muncul dari balik kabut. Bukan murid Gunung Hua. Ini orang luar.

Dan di jubah mereka ada lambang tengkorak merah.

Sekte Iblis.

Mereka udah tau pedangnya ada di sini.

"Serahkan Peta itu," desis salah satu dari mereka, suaranya kayak parutan kelapa. "Atau kami jadikan kalian sate."

Gue liat Tetua Wi. Tetua Wi liat gue.

"Bocah," bisik Tetua Wi. "Pernah liat Kucing Mabuk ngamuk?"

"Belum."

"Bagus. Pegang erat celanamu. Kita bakal bikin keributan besar."

Bagaimana bab ini menurutmu?

Rate
← Bab Sebelumnya

Diskusi 0

G