CATATAN SI JIN-WOO: PENDEKAR JALUR BELAKANG
Bab 16 : Pesta Dansa Para Tengkorak
Konten Premium
Bab ini khusus pembaca berbayar. Dukung penulis dengan membeli akses penuh.
Masuk untuk Membeli AksesBab 16 : Pesta Dansa Para Tengkorak
Suasana di Danau Hitam mendadak berubah jadi ajang tawuran antar kampung, tapi bedanya yang tawuran ini bawa senjata tajam dan niat membunuh level dewa. Pasukan Topeng Tengkorak dari Sekte Iblis mulai merangsek maju.
"Bunuh si Tua! Tangkap si Bocah! Ambil Pedang!" perintah si Ketua Regu, suaranya cempreng kayak kaleng rombeng diseret aspal.
"Waduh, instruksinya padat dan jelas ya, Bos," komentar gue sambil mundur teratur ke balik punggung Tetua Wi. "Tapi maaf, saya lagi cuti mati hari ini."
"SERANG!"
Lima orang berbaju hitam melompat serentak. Pedang mereka menyala merah, dialiri Qi beracun. Ngeri, Sob. Kalau kena gores dikit, bisa-bisa gue pulang tinggal nama, itu pun namanya salah tulis di nisan.
Tetua Wi cuma terkekeh. Dia mengambil batang bambu sisa latihan gue tadi.
"Lihat baik-baik, Jin-woo! Ini namanya: Kucing Mabuk Mengusir Lalat!"
Tetua Wi bergerak. Gerakannya kacau, sempoyongan kayak orang abis minum lima galon tuak. Tapi setiap kali pedang musuh mau nancep, dia 'nggak sengaja' kepeleset atau miringin badan.
WUSH! Pedang musuh lewat.
PLAK! Bambu Tetua Wi mendarat mulus di jidat musuh.
DUG! Bambu itu nyodok ulu hati musuh kedua.
Dalam sekejap, dua orang Iblis Ijo... eh, Iblis Hitam itu guling-guling di tanah sambil megangin perut.
"Giliranmu, Bocah! Jangan jadi penonton bayaran!" teriak Tetua Wi sambil nendang satu musuh masuk ke danau.
Sialnya, satu kroco Sekte Iblis ngeliat gue yang lagi bengong. Dia lari ke arah gue sambil teriak, "MATI KAU!"
Gue panik. Gue pegang Pedang Baja Biru yang sarungnya masih nempel (susah dicabut, keras banget kayak tutup toples lebaran).
Gue inget latihan tadi malem. Rileks. Jangan mikir. Jadi males.
Musuh menusuk lurus ke dada.
Gue ngehela napas panjang, "Hahh... capek..."
Badan gue lemes, lutut gue nekuk, dan gue jatoh duduk bersila tepat sebelum pedang itu nyentuh baju gue.
WUSS!
Tusukan itu meleset di atas kepala. Si Kroco kaget karena targetnya mendadak ilang (baca: duduk di bawah). Dia kehilangan keseimbangan dan nubruk ke depan.
Gue, yang posisinya pas banget di bawah selangkangan dia yang terbuka lebar, secara naluriah mengangkat sarung pedang lurus ke atas.
"HUP!"
CRASS! (Bukan suara darah, tapi suara masa depan yang hancur).
Si Kroco menjerit dengan nada sopran yang sangat tinggi, matanya melotot, lalu dia ambruk pingsan dengan mulut berbusa.
"Gila..." gue natap pedang di tangan gue. "Jurus Tusuk Sate Masa Depan. Maaf ya, Bang. Nanti saya rekomendasiin tukang urut yang bagus."
Tetua Wi yang lagi sibuk ngelawan tiga orang sekaligus sempet-sempetnya nengok. "Jahat! Gerakanmu kotor sekali! Aku suka!"
Tapi kebahagiaan itu nggak berlangsung lama. Dari balik kabut, muncul lebih banyak lagi pasukan bertopeng. Kali ini ada yang badannya gede kayak lemari dua pintu.
"Serahkan Peta itu!" Si Lemari Dua Pintu menggeram, mengayunkan gada berduri yang ukurannya nggak ngotak.
Gue nelen ludah. "Kek... kayaknya kita butuh bala bantuan. Atau minimal asuransi jiwa."