CATATAN SI JIN-WOO: PENDEKAR JALUR BELAKANG
Bab 17 : Reuni Keluarga yang Sangat Tidak Diharapkan
Konten Premium
Bab ini khusus pembaca berbayar. Dukung penulis dengan membeli akses penuh.
Masuk untuk Membeli AksesBab 17 : Reuni Keluarga yang Sangat Tidak Diharapkan
Tepat saat gada berduri itu mau menghancurkan kepala gue jadi perkedel jagung, sebilah pedang terbang melesat dari arah hutan. Pedang itu bersinar putih menyilaukan, menghantam gada si Lemari Dua Pintu.
TING!!!
Suara benturan logam bikin kuping pengang. Gada itu mental ke samping.
Si Lemari kaget. Gue lebih kaget.
Sesosok pemuda mendarat dengan anggun di antara gue dan pasukan Iblis. Jubah sutra birunya berkibar (padahal nggak ada angin), rambutnya tetap rapi walau abis lari-larian, dan tatapannya dingin membekukan suasana.
Namgung Ryong.
Si Pangeran Kampus dateng menyelamatkan... pedangnya.
"Berani sekali tikus-tikus got menyentuh barang milik Keluarga Namgung," ucap Ryong dengan nada arogan yang khas. Sumpah, kalau bukan lagi kepepet, pengen gue timpuk dia pake sendal.
Di belakang Ryong, muncul Suster Ye-in dan dua pengawal elit murid dalam. Ye-in langsung nutup mulut kaget liat mayat-mayat bergelimpangan (dan satu orang yang pingsan megangin selangkangan).
"Kak Ryong!" teriak gue sok akrab. "Lama banget sih! Pegel nih megangin pedang situ!"
Ryong melirik gue tajem. "Diam kau, Maling. Urusan kita belum selesai. Setelah aku membereskan sampah-sampah ini, kau giliran berikutnya."
Si Lemari Dua Pintu marah besar. "Namgung Ryong dari Gunung Hua? Bagus! Dapat Peta, dapat bonus kepala Tuan Muda Namgung!"
"SERANG MEREKA SEMUA!"
Pertempuran pecah lagi, tapi kali ini levelnya beda. Ryong itu emang nyebelin, tapi skill-nya nggak bohong. Dia nari-nari di antara musuh, pedangnya (dia pake pedang cadangan) bergerak cepet banget kayak kilat. Cring! Crang! Cring! Musuh tumbang satu per satu.
Ye-in juga nggak cuma jadi pajangan. Dia ngeluarin jarum-jarum perak, melemparnya dengan akurasi tinggi buat ngelumpuhin titik saraf musuh. Girl Power!
Gue? Gue sibuk lari-larian di tengah arena sambil teriak, "Awas kiri! Awas kanan! Eh, itu tali sepatu lo lepas!"
Tiba-tiba, tiga orang musuh sekaligus ngepung gue. Ryong lagi sibuk, Ye-in kejauhan. Tetua Wi entah kemana (kayaknya lagi manjat pohon buat nyari posisi enak).
"Mati kau, Bocah Licin!"
Tiga pedang menebas barengan. Atas, tengah, bawah. Nggak ada celah buat kabur.
Di saat kritis itu, Ryong liat gue. Ada sedetik keraguan di matanya: Biarin mati atau tolongin?
Tapi harga diri dia terlalu tinggi buat ngebiarin musuh ngambil barang miliknya (termasuk nyawa orang yang dia benci, aneh kan logikanya?).
Ryong melesat, menangkis dua pedang sekaligus. Tapi pedang ketiga—yang ngincar kaki gue—lolos.
Badan gue bergerak sendiri. Energi Kucing Mabuk di perut gue bereaksi sama niat membunuh musuh.
Gue loncat, muter di udara kayak baling-baling, terus mendarat dengan satu kaki di atas bilah pedang musuh itu.
Iya, gue napak di atas pedangnya!
"Hah?!" Musuh itu melongo. Ryong juga melirik kaget.
"Pinjem bahu bentar, Bro!" Gue loncat lagi dari pedang itu, nendang muka si musuh, terus salto mundur ke sebelah Ryong.
"Gerakan apa itu tadi?" tanya Ryong tanpa nengok, sambil nangkis serangan lain. "Itu bukan ilmu dasar Gunung Hua."
"Itu ilmu... ehem... Langkah Seribu Bayangan Kucing Garong," jawab gue asal. "Keren kan? Mau diajarin? Bayarannya traktir bakso sebulan."
Ryong mendengus. "Fokus, Bodoh! Ketua mereka datang!"
Dari kegelapan hutan, muncul aura yang bikin napas sesak. Seorang pria tua bungkuk dengan tongkat tengkorak berjalan pelan. Tanahnya yang dipijak langsung layu dan item.
Tetua Iblis Racun. Levelnya beda jauh sama kroco-kroco tadi.
Ryong yang tadinya pede, mukanya langsung tegang. "Gawat. Tenaga dalamnya di atas Tetua Baek."