CATATAN SI JIN-WOO: PENDEKAR JALUR BELAKANG
Bab 18 : Jalan Tikus Menuju Neraka
Konten Premium
Bab ini khusus pembaca berbayar. Dukung penulis dengan membeli akses penuh.
Masuk untuk Membeli AksesBab 18 : Jalan Tikus Menuju Neraka
Tetua Iblis Racun itu ketawa, suaranya kayak gesekan kapur di papan tulis. "Hyehyehye... Tuan Muda Namgung. Dan... Wi si Gila? Lama tak jumpa."
Tetua Wi (yang ternyata beneran lagi nangkring di pohon) melompat turun di sebelah gue. Mukanya serius. Nggak ada cengengesan lagi.
"Tikus Racun," sapa Tetua Wi dingin. "Masih idup aja lo. Kirain udah mati keselek biji duren."
"Kek," bisik gue. "Kakek kenal dia? Ini reuni angkatan berapa sih sebenernya?"
"Dia musuh bebuyutanku," jawab Tetua Wi pelan. "Namgung, Bocah, dengerin baik-baik. Kita nggak bakal menang lawan dia sekarang. Racunnya bisa bikin kulit kalian meleleh dalam hitungan detik."
"Lalu kita harus apa? Menyerah?" tanya Ryong geram, genggamannya pada pedang mengerat.
"Bukan. Kita kabur," kata Tetua Wi.
"Kabur? Keluarga Namgung tidak pernah membelakangi musuh!" protes Ryong.
"Yaelah, kaku amat idup lo!" potong gue. "Membelakangi musuh itu strategi, biar bisa nyerang lagi besok! Kalau mati sekarang, lo cuma jadi pupuk kandang!"
Tetua Iblis Racun mengangkat tongkatnya. Kabut hijau mulai keluar dari mulut tengkorak di tongkat itu.
"Mati lah kalian semua... Kabut Pelebur Tulang!"
Kabut hijau itu bergerak cepet banget ke arah kami. Pohon bambu yang kena kabut itu langsung kering dan hancur jadi debu.
"SEKARANG!" Teriak Tetua Wi.
Dia bukan lari ke hutan. Dia malah lari ke arah danau hitam.
"LOMPAT!"
"Ke danau?! Ada piranha, Kek!" teriak gue.
"Lebih baik digigit piranha daripada jadi bubur ijo! AYO!"
Tetua Wi nyemplung duluan. BYUR!
Gue nggak pake mikir dua kali. Gue tarik tangan Suster Ye-in (modus dikit boleh lah di saat genting). "Maaf ya Sus, tahan napas!"
Gue dan Ye-in lompat. BYUR!
Namgung Ryong dan dua pengawalnya ragu sedetik. Tapi liat kabut ijo udah tinggal semeter di depan muka, Ryong akhirnya membuang harga dirinya.
"SIALAAAAN!" teriaknya sambil lompat nyusul gue.
Kami semua masuk ke dalem air yang dingin dan gelap.
Piranha-piranha langsung dateng, mata mereka merah menyala di kegelapan air.
Gue udah pasrah pantat gue bakal abis.
Tapi tiba-tiba, Tetua Wi di dalem air melakukan gerakan tangan aneh. Dia menempelkan telapak tangannya ke sebuah batu besar di dasar danau.
Batu itu bergeser.
Ternyata itu bukan batu biasa. Itu mekanisme pintu air.
GROOOOK!
Sebuah lubang besar terbuka di dasar danau. Air langsung tersedot masuk ke dalem kayak pusaran di flush toilet raksasa.
Arusnya kuat banget! Kami semua—Gue, Ye-in, Ryong, Tetua Wi, dan ikan-ikan piranha sialan itu—kesedot masuk ke dalem lubang item itu.
Gue ngerasa badan gue diputer-puter kayak lagi di mesin cuci mode spin. Pusing, mual, napas abis. Tangan Ye-in lepas dari genggaman gue.
"GLUBUK... GLUBUK... (TOLONG... MAK... SAYA BELUM KAWIN...)"
Pandangan gue gelap.
Hal terakhir yang gue inget adalah wajah Namgung Ryong yang melotot ke gue di dalem air, seolah bilang: "Awas lo, kalau kita selamat, gue gantung lo di pohon toge!"
Dan Pedang Baja Biru itu... entah kenapa malah bersinar terang banget di tangan gue, seolah nunjukin jalan di lorong bawah tanah yang gelap gulita ini.
Selamat tinggal Gunung Hua.
Halo, Petualangan Nyasar.