BAB 2

Bab 2 : Romansa Ember Bocor

CATATAN SI JIN-WOO: PENDEKAR JALUR BELAKANG

Bab 2 : Romansa Ember Bocor

🗓 07 Jun 2025 👁 732 Views

Bab 2 : Romansa Ember Bocor

Hukuman di dunia persilatan itu nggak kreatif. Kalau nggak disuruh push-up seribu kali, ya disuruh bawa air dari sungai di kaki gunung ke asrama di puncak. Dan tebak siapa yang hari ini jadi kurir air dadakan? Yap, gue.

Jalur pendakian Gunung Hua itu curamnya minta ampun. Namanya 'Tangga Seribu Penyesalan'. Pas banget namanya, soalnya baru naik sepuluh anak tangga aja gue udah nyesel kenapa tadi pagi nggak pura-pura sakit perut aja.

Di pundak kanan dan kiri gue, ada dua ember kayu berisi air penuh. Beratnya? Jangan ditanya. Rasanya kayak manggul dosa masa lalu.

"Aduh, pinggang gue. Remuk redam ini mah," keluh gue sambil menyeka keringat yang udah banjir di jidat. Jambul kebanggaan gue udah lepek nggak berbentuk. "Ini kalau gue jadi pendekar hebat nanti, hal pertama yang gue lakuin adalah bikin sistem pipa ledeng. Biar nggak ada lagi murid yang menderita kayak gini."

Lagi asik-asik ngedumel sambil ngunyah sisa akar manis yang udah hambar, tiba-tiba gue denger suara langkah kaki ringan dari arah atas.

Derap langkahnya halus, kayak nggak napak tanah. Baunya juga wangi, bukan bau keringat apek kayak gue. Wangi bunga melati campur teh hijau.

Gue mendongak. Jantung gue langsung dag-dig-dug-ser, kayak lagi dengerin lagu rock kapak tapi versinya dangdut koplo.

Itu Suster Ye-in.

Primadona Sekte Gunung Hua. Wajahnya ayu, matanya bening kayak telaga, dan senyumnya... aduh, manisnya ngalahin gula biang. Dia lagi turun tangga sambil bawa keranjang obat-obatan. Jubah putihnya berkibar pelan. Bidadari turun dari kayangan, Sob!

Gue langsung panik. Pose, Jin-woo! Pose! Jangan kelihatan kayak kuli panggul yang mau pingsan!

Gue menegakkan punggung (bunyi krek dikit di tulang belakang, bodo amat), masang muka sok tegar, dan menyisir jambul lepek gue pake jari yang gemetaran.

"Eh, Suster Ye-in," sapa gue dengan suara diberat-beratin, biar kedengeran maskulin. "Mau ke mana nih? Tumben turun gunung sendirian. Bahaya lho, banyak serigala... atau cowok buaya."

Ye-in berhenti, tersenyum ramah. "Ah, Saudara Han. Kamu dihukum lagi?"

Jleb. Pertanyaan polos yang menohok ulu hati.

"Oh, ini?" Gue ngelirik ember di pundak. "Bukan hukuman, Suster. Ini... latihan beban. Inisiatif sendiri. Biar otot bahu makin jadi. Tau sendiri kan, cowok macho itu butuh bahu bidang buat sandaran masa depan." Gue ngedip genit. Gagal total karena keringat masuk mata, jadi gue malah kelihatan kayak orang kelilipan debu.

Ye-in tertawa kecil, nutup mulutnya pake lengan baju yang panjang. Sopan banget, beda sama gue yang kalau ketawa mulutnya lebar kayak kudaniluap. "Kamu ini ada-ada saja, Saudara Han. Keringatmu banyak sekali. Ini..."

Dia merogoh saku bajunya, mengeluarkan sapu tangan warna biru muda dengan bordiran bunga plum kecil di pojoknya. Dia menyodorkannya ke gue.

"Pakailah. Nanti masuk angin kalau dibiarkan basah begitu."

Gue bengong. Ini nyata nggak sih? Tangan gue gemetar mau ngambil sapu tangan itu. Ini bukan sekadar sapu tangan, ini relik suci! Kalau gue bingkai terus gue pajang di kamar asrama, pasti anak-anak lain pada ngiri tujuh turunan.

"Makasih, Sus... Suster..." Gue mau ngambil sapu tangan itu. Tangan gue udah hampir nyentuh ujung kainnya yang halus.

Tiba-tiba... SWUSH!

Angin kencang berhembus. Bayangan putih melesat melewati kami, mendarat dengan gaya superhero di anak tangga bawah.

Siapa lagi kalau bukan Namgung Ryong. Si Perusak Suasana.

Dia nggak bawa ember kayak gue. Dia bawa dua gentong besar—yang ukurannya dua kali lipat ember gue—tapi dia bawanya santai banget, kayak lagi nenteng tas belanjaan. Dan yang bikin gue mau muntah paku, dia nggak keringetan sama sekali.

"Adik Ye-in," sapa Namgung Ryong dengan suara bariton yang stabil. "Sedang apa di sini? Jangan terlalu dekat dengan murid yang sedang dihukum, nanti auramu tercemar kemalasan."

Heh, Lampu Neon! Maksud lo gue virus?! teriak batin gue.

Ye-in menoleh, senyumnya tetap sopan tapi agak kaku. "Kakak Ryong. Saya hanya menyapa Saudara Han."

Namgung Ryong menatap gue dengan tatapan merendahkan, seolah gue ini cuma kerikil di dalam sepatu mahalnya. "Han Jin-woo. Kalau kau punya tenaga untuk menggoda Suster Seperguruan, seharusnya kau sudah sampai di puncak dari tadi. Minggir, kau menghalangi jalan."

Dia kemudian melompat—beneran melompat, Sob, pake ilmu meringankan tubuh 'Langkah Awan'—melewati kepala gue sambil membawa dua gentong itu. Pamer banget.

"Sampai jumpa di atas, Han," katanya dingin tanpa noleh.

Gue cuma bisa melongo. Momen romantis gue hancur lebur berkeping-keping. Sapu tangan Ye-in masih di tangannya, dia kayaknya lupa ngasih karena kaget lihat atraksi sirkus si Namgung.

"Wah, Kakak Ryong hebat sekali ya," gumam Ye-in kagum.

Gue mendengus kencang. "Halah, itu mah trik, Sus. Pasti gentongnya isinya gabus. Mana ada air enteng begitu."

Ye-in cuma senyum maklum. "Semangat ya, Saudara Han. Saya duluan." Dia pamit, menyimpan kembali sapu tangan itu ke sakunya.

NOOO! SAPU TANGAN GUE!

Gue menatap punggung Ye-in yang menjauh, lalu menatap ember air gue yang rasanya makin berat.

"Awas lo, Namgung Ryong," gerutu gue sambil mulai melangkah lagi dengan terseok-seok. "Liat aja nanti. Gue bakal nemuin cara bawa air tanpa capek. Tunggu aja tanggal mainnya. Gue bakal ciptain... lift bambu!"

Ide jenius. Tapi sekarang, gue harus nyeret kaki gue yang udah gemeteran kayak agar-agar ini sampai ke puncak.

Bagaimana bab ini menurutmu?

Rate
← Bab Sebelumnya

Diskusi 0

G