BAB 21

Bab 21 : Kasino Kodok dan Taruhan Nyawa

CATATAN SI JIN-WOO: PENDEKAR JALUR BELAKANG

Bab 21 : Kasino Kodok dan Taruhan Nyawa

🗓 15 Jul 2025 👁 720 Views
💎

Konten Premium

Bab ini khusus pembaca berbayar. Dukung penulis dengan membeli akses penuh.

Masuk untuk Membeli Akses

Bab 21 : Kasino Kodok dan Taruhan Nyawa

Gue dan Ryong mengendap-endap mendekati danau. Ternyata ada jembatan batu menuju pulau itu.

Kami sembunyi di balik patung jamur batu raksasa, ngintip situasi.

Ini tempat aneh banget. Ada sekitar sepuluh Kodok Raksasa. Kulitnya berlendir, warnanya macem-macem (merah, biru, polkadot). Mereka pake rompi kecil yang kekecilan buat perut buncit mereka.

Tetua Wi dan Ye-in bukan tawanan biasa. Mereka kayak tamu VIP. Tetua Wi lagi nikmatin pijatan punggung dari Kodok Ijo, sementara Ye-in lagi dikipasin pake daun talas sama Kodok Pink.

"Selamat datang di Kerajaan Kodok Bawah Tanah!" Tiba-tiba, seekor Kodok Emas—ukurannya paling gede, pake mahkota dari tutup botol bekas—muncul di depan kami.

Gue dan Ryong kaget, langsung loncat mundur sambil pasang kuda-kuda.

"Jangan mendekat! Gue alergi amfibi!" teriak gue ngacungin pedang (yang masih dalam sarung).

Kodok Emas itu ketawa. Suaranya ngebass banget, kayak penyiar radio malem.

"Tenang, Manusia Muda. Kami adalah Klan Kodok Cendekia. Kami tidak memakan manusia. Daging kalian terlalu banyak kolesterol."

"Wi Gwang!" panggil si Kodok Emas ke arah pulau. "Murid-muridmu sudah sampai!"

Tetua Wi membuka mata, ngelap ilernya. "Wah! Jin-woo! Ryong! Masih idup kalian? Sini gabung! Pijetannya mantap, rasanya kayak tulang punggung dirakit ulang!"

"Tetua!" Ryong maju dengan wajah bingung campur marah. "Apa-apan ini?! Kita sedang dikejar Sekte Iblis, dan Anda malah... spa?!"

"Rileks, Anak Muda," kata si Kodok Emas. "Di sini aman. Sekte Iblis tidak tahu jalan masuk kemari. Tapi... ada syarat untuk keluar."

"Syarat?" tanya gue curiga. "Jangan bilang harus cium kalian biar jadi pangeran?"

Kodok Emas itu melotot jijik. "Ih, najis. Siapa juga yang mau sama kamu."

Kodok itu menunjuk ke meja batu di tengah pulau. Di situ ada tumpukan dadu dan kartu.

"Kami, Klan Kodok, mencintai perjudian," kata Kodok Emas dramatis. "Kakek tua itu kalah taruhan dariku tadi. Dia mempertaruhkan 'Murid Berbaju Pink' (itu gue maksudnya) dan 'Murid Sombong' (itu pasti Ryong) sebagai budak pijat kami selama sepuluh tahun."

"APA?!" teriak gue dan Ryong barengan.

"Kek! Kakek jual kami ke kodok?!"

Tetua Wi nyengir tanpa dosa. "Sori, Bro. Tangan lagi sial tadi. Kartu jelek semua."

"Jadi," lanjut Kodok Emas. "Kalau kalian mau bebas, dan mau bawa teman-teman kalian ini keluar... kalian harus mengalahkanku dalam satu permainan."

Ryong maju selangkah, gagah berani. "Aku ahli strategi militer. Permainan catur? Go? Aku pasti menang."

"Bukan, bukan," Kodok Emas menggoyangkan jari webbed-nya. "Itu permainan orang tua. Kami main yang lebih seru."

Kodok itu menepuk tangan. Dua kodok kroco membawakan sebuah papan kayu dengan lubang-lubang dan bola warna-warni.

"Zuma," kata Kodok Emas. "Atau versi kami: Lontar Bola Kodok."

Gue bengong. Zuma? Game nembak-nembak bola warna itu?

"Yang kalah," mata Kodok Emas berkilat licik, "Harus menyerahkan benda paling berharga yang dia bawa. Dan aku mencium bau... Peta Kuno dari pedangmu itu, Bocah Pink."

Gue memeluk pedang erat-erat. Dia tau!

Ryong berbisik ke gue, "Jin-woo, kau ahli main curang. Kau saja yang maju."

"Enak aja! Lo kan pinter!"

"Aku pintar taktik perang, bukan main kelereng!" desis Ryong. "Lakukan sesuatu! Atau kita jadi tukang pijat kodok seumur hidup!"

Gue liat Tetua Wi yang lagi ngasih kode 'semangat' sambil makan lalat goreng. Gue liat Ye-in yang natap gue penuh harap. Gue liat Ryong yang... yah, mukanya asem tapi butuh bantuan.

"Oke," kata gue, maju ke depan meja batu. "Gue terima tantangannya, Dok. Tapi kalau gue menang... gue minta satu hal tambahan selain kebebasan kami."

"Apa itu?" tanya Kodok Emas.

"Itu," gue nunjuk ke sudut ruangan, di mana ada tumpukan barang rongsokan. Di situ, tergeletak sebuah benda yang bikin mata gue melotot. Sebuah Kitab Kulit Kambing yang covernya bergambar cakar kucing.

Jilid Kedua dari Jurus Kucing Mabuk!

"Deal," kata Kodok Emas. "Mari kita mulai."

Bagaimana bab ini menurutmu?

Rate
← Bab Sebelumnya

Diskusi 0

G