CATATAN SI JIN-WOO: PENDEKAR JALUR BELAKANG
Bab 22 : Geometri Cinta dan Kelereng Maut
Konten Premium
Bab ini khusus pembaca berbayar. Dukung penulis dengan membeli akses penuh.
Masuk untuk Membeli AksesBab 22 : Geometri Cinta dan Kelereng Maut
Permainan 'Lontar Bola Kodok' ini ternyata bukan sekadar main kelereng di tanah lapang pas SD. Ini lebih mirip misi penjinakan bom.
Di atas meja batu, ada jalur parit yang meliuk-liuk kayak uler kekenyangan. Di jalur itu, bola-bola batu warna-warni (Merah, Biru, Hijau, Kuning) menggelinding perlahan menuju sebuah lubang hitam di ujung meja. Kalau bola itu masuk lubang, kami kalah. Kami jadi tukang pijet kodok seumur hidup.
Tugas gue: Melempar bola batu dari posisi diam buat nyocokin warna bola yang lagi jalan. Tiga warna sama = meledak/ilang.
"Gampang," kata gue sombong sambil megang bola warna merah. "Ini mah instinct."
Gue lempar.
TUNG!
Bola gue meleset jauh, malah kena jidat patung kodok di seberang ruangan.
"Bodoh!" desis Namgung Ryong di belakang gue. "Sudut lemparmu miring 15 derajat! Kau mau main atau mau ngancurin dekorasi?!"
Bola-bola di jalur makin deket ke lubang maut. Kodok Emas ketawa ngakak, suaranya ngebass. "Hahahaha! Siapkan minyak urutnya, Manusia!"
Gue mulai keringetan. Tangan gue licin. "Duh, Ryong. Gue buta arah nih. Pas pelajaran matematika dulu gue sering izin ke UKS."
Ryong menghela napas panjang, kayak orang tua yang ngadepin anak bebal. Dia maju selangkah, berdiri tepat di belakang punggung gue. Posisi kami rapet banget, kayak adegan di film Titanic, bedanya ini bukan di kapal pesiar tapi di gua lembab, dan yang dipeluk bukan Kate Winslet tapi cowok bau apek (gue).
"Dengarkan aku, Sampah," bisik Ryong tepat di kuping gue. Suaranya serius banget. "Aku akan jadi matamu. Kau jadi tangannya. Jangan banyak tanya, lakukan sesuai perintahku."
"Siap, Bos. Asal jangan bisik-bisik gitu, geli woi."
"Fokus!" Ryong menunjuk ke arah jalur bola. "Lihat bola hijau di tikungan kedua. Jarak 3 tombak. Sudut kemiringan 30 derajat. Kecepatan angin nol. Tenaga... setengah porsi nasi padang."
Gue ngikutin arahan dia. Gue bayangin nasi padang setengah porsi.
Gue lempar bola hijau di tangan gue.
TAK!
Bola itu mendarat mulus, nempel sama dua bola hijau lain.
POOF! Ketiga bola itu pecah jadi debu cahaya.
"Yesss!" seru gue.
"Jangan senang dulu!" bentak Ryong. "Bola kuning masuk! Sudut 45 derajat! Pantulkan ke dinding kiri! Cepat!"
"Siap!"
Gue lempar lagi. TUNG! TAK! POOF!
Combo!
Gue dan Ryong mendadak jadi tim paling sinkron di dunia persilatan. Ryong adalah superkomputer berjalan. Dia ngitung kalkulasi fisika, geometri, dan aerodinamika dalam hitungan detik. Gue? Gue cuma robot pelaksana yang punya skill tangan copet (akurat dan cepet).
"Merah! Kanan!"
"Biru! Lurus!"
"Hijau! Pantul ganda!"
Kami bergerak kayak satu orang. Suster Ye-in tepuk tangan heboh. Tetua Wi malah tidur lagi (dasar tua bangka beban tim).
Bola-bola di jalur makin abis. Tinggal satu rangkaian terakhir yang mau masuk lubang.
"Jin-woo!" teriak Ryong, kali ini nadanya panik. "Bola terakhir warna hitam! Kita nggak punya bola hitam di tangan!"
Gue liat tangan gue. Kosong. Stok bola lempar abis.
Sementara bola hitam di jalur tinggal sejengkal lagi masuk lubang maut.
"Pake apa aja!" teriak Ryong.
Otak gue blank. Apa yang bulet? Apa yang item?
Gue meraba saku.
Cuma ada satu benda.
"Maafkan aku, Ryong," batin gue.
Gue cabut kancing baju jubah Ryong yang dari tadi nempel di punggung gue. Kancing itu dari batu onyx hitam mahal.
"HUP!"
Gue sentil kancing itu sekuat tenaga.
CTING!
Kancing itu melesat, menghantam bola hitam tepat di bibir lubang.
DUAR!
Ledakan cahaya memenuhi ruangan. Semua bola hancur.
Kami menang.
Gue noleh ke Ryong sambil nyengir. "Hehe. Kancing lo copot satu, Bro. Tanda mata kemenangan."
Ryong ngeliat bajunya yang sekarang agak terbuka di bagian dada. Mukanya merah padam. "KAU..."