BAB 24

Bab 24 : Kucing Mengejar Ekor (Dan Celana yang Hampir Melorot)

CATATAN SI JIN-WOO: PENDEKAR JALUR BELAKANG

Bab 24 : Kucing Mengejar Ekor (Dan Celana yang Hampir Melorot)

๐Ÿ—“ 21 Jul 2025 ๐Ÿ‘ 732 Views
๐Ÿ’Ž

Konten Premium

Bab ini khusus pembaca berbayar. Dukung penulis dengan membeli akses penuh.

Masuk untuk Membeli Akses

Bab 24 : Kucing Mengejar Ekor (Dan Celana yang Hampir Melorot)

Kami lari nerobos air terjun di belakang pulau. Ternyata di baliknya ada terowongan sempit yang licin dan menanjak.

Suara pertempuran Kodok vs Iblis masih kedengeran di belakang.

"Semoga Kodok Emas selamat," doa gue dalem hati. "Kalau dia mati, gue janji nggak bakal makan swike lagi seumur hidup."

Kami lari terus. Napas gue udah kayak lokomotif tua.

Tapi sialnya, tiga orang elit Sekte Iblis berhasil ngejar kami. Mereka lolos dari amukan kodok.

"JANGAN LARI!"

Salah satu dari mereka melempar pisau terbang.

SRING!

Pisau itu nancep di dinding, persis di sebelah kuping gue.

"Hampir aja jambul gue botak sebelah!"

Lorong di depan buntu. Cuma ada dinding batu terjal yang tingginya sepuluh meter, dengan lubang cahaya kecil di atasnya.

"Manjat!" perintah Ryong.

Ryong dan Tetua Wi (yang bawa Ye-in) dengan mudah loncat dan nancepin jari ke dinding batu, manjat cepet kayak cicak.

Gue? Tenaga dalem gue abis dipake main kelereng tadi!

"Woy! Tungguin!" Gue loncat, tapi cuma nyampe dua meter terus melorot lagi.

"Licin!"

Tiga musuh udah ada di belakang gue. Pedang mereka diangkat tinggi-tinggi.

"Mati kau, Bocah!"

Gue kepepet. Punggung nempel dinding.

Gue inget kitab baru di dalem baju gue. Kucing Mengejar Ekor Sendiri.

Gue belum baca isinya! Tapi dari judulnya...

Putar.

Putar poros tubuh.

Musuh menebas.

Gue merem, terus gue muter badan gue secepet mungkin di tempat, kayak gasing. Gue biarin tangan dan kaki gue 'melambai' ngikutin gaya sentrifugal.

"JURUS PUTARAN MESIN CUCI!" teriak gue ngasal.

BUK! PLAK! DUG!

Ajaib! Tangan gue yang melambai-lambai liar itu nemplok muka musuh berkali-kali dengan kecepatan tinggi. Kaki gue nyandung kaki mereka. Gaya putaran gue bikin pedang mereka mental ke segala arah karena bingung nargetin gue yang muter kayak orang gila.

Musuh mundur, pusing tujuh keliling.

"Jurus apa ini?! Dia tidak punya celah!"

Kesempatan!

Dari atas, Ryong mengulurkan sarung pedangnya. "Pegang!"

Gue nyamber ujung sarung pedang itu. Ryong narik gue ke atas dengan sekali sentak.

Kami berempat berhasil nyampe di lubang cahaya.

Gue merangkak keluar, ngehirup udara segar.

"Kita selamat... Kita selamat..."

Tapi pas gue buka mata, gue sadar kami bukan di hutan.

Kami muncul dari dalem... Sumur Tua.

Dan sumur tua itu ada di tengah-tengah pasar yang RAME BANGET.

Ratusan orang lalu lalang. Pedagang teriak-teriak. Bau sate ayam, bau rempah, bau keringat.

Gue, Ryong (yang bajunya robek-robek), Ye-in (yang basah kuyup), dan Tetua Wi (yang rambutnya makin gimbal) berdiri di bibir sumur jadi tontonan warga.

Seorang ibu-ibu yang lagi nawar sayur nengok ke kami.

"Lho? Mas? Itu sumur keramat lho. Kok dipake mandi?"

Gue nyengir kaku, melambai ke kerumunan.

"Hai, Bu. Kami... anu... Duta Kebersihan Sumur. Lagi inspeksi mendadak. Airnya bagus kok, silakan diminum."

Ryong nutup mukanya pake tangan. "Bunuh aku sekarang. Harga diriku sudah minus."

Tiba-tiba, dari kerumunan, ada seseorang yang nepuk bahu Tetua Wi.

"Wi Gwang? Kau kah itu?"

Kami nengok.

Seorang pria tua gemuk dengan baju penuh emas dan cincin akik di sepuluh jarinya natap Tetua Wi kaget.

Dia dikawal sepuluh pendekar berbadan kekar.

Tetua Wi melotot. "Waduh. Si Rentenir 'Naga Emas'. Gue lupa bayar utang 20 tahun lalu."

"TANGKAP MEREKA!" teriak si Bos Rentenir.

"LARI LAGI??!!" teriak gue frustasi.

Baru juga napas, udah jadi buronan lagi. Dunia persilatan emang nggak ada capeknya, Sob!

Bagaimana bab ini menurutmu?

Rate
← Bab Sebelumnya

Diskusi 0

G