BAB 25

Bab 25 : Jurus Wajan Terbang dan Hujan Cabe Bubuk

CATATAN SI JIN-WOO: PENDEKAR JALUR BELAKANG

Bab 25 : Jurus Wajan Terbang dan Hujan Cabe Bubuk

๐Ÿ—“ 23 Jul 2025 ๐Ÿ‘ 732 Views
๐Ÿ’Ž

Konten Premium

Bab ini khusus pembaca berbayar. Dukung penulis dengan membeli akses penuh.

Masuk untuk Membeli Akses

Bab 25 : Jurus Wajan Terbang dan Hujan Cabe Bubuk

Pasar Kota Chengdu (kayaknya sih Chengdu, soalnya banyak yang jual mapo tofu) mendadak jadi arena tawuran massal. Di satu sisi, ada kami: Empat Buronan Lusuh yang baru keluar dari sumur. Di sisi lain, ada Pasukan Debt Collector Naga Emas yang badannya kekar-kekar, pake rompi kulit ketat yang pamer otot bisep, dan muka garang kayak abis nelen paku payung.

"Hajar mereka! Tapi jangan bunuh si Wi Gwang! Ginjalnya mau gue jadiin ganti rugi!" teriak Bos Naga Emas sambil ngupil pake cincin batu akik.

"Gawat, Kek. Ginjal Kakek lagi diincar investor asing," bisik gue sambil mundur nabrak gerobak sayur.

"Tenang, Jin-woo," Tetua Wi nyengir lebar, giginya ada sisa bayam. "Di pasar ini, senjata kita bukan cuma pedang. Liat sekelilingmu. Semuanya bisa membunuh."

"Maksud Kakek? Sawi ini bisa membunuh?" Gue ngangkat seiket sawi hijau.

"Kalau kau colok matanya pake bonggol sawi, ya buta juga, Goblok! Pake otakmu!"

Lima debt collector maju menyerbu. Mereka bawa pentungan besi.

Ryong udah siap mau cabut pedang, tapi Tetua Wi nendang tangannya. "Jangan pake pedang! Kalau ada warga sipil mati, Dosa Karma-nya mahal bayarnya! Pake tangan kosong atau alat sekitar!"

"APA?!" Ryong protes. "Aku, Namgung Ryong, tidak sudi bertarung menggunakan... terong!"

"Awas!" teriak gue.

Satu pentungan melayang ke arah kepala Ryong. Si Tuan Muda reflek ngambil benda terdekat buat nangkis.

TUNG!

Pentungan besi itu beradu dengan... Wajan Baja Hitam yang masih panas (bekas abang nasi goreng).

Ryong melongo liat dia megang gagang wajan.

"Wah, Defense-nya tinggi juga tuh wajan," komentar gue kagum.

Sementara itu, dua orang preman nyerang gue.

Gue panik. Gue lari ke lapak bumbu dapur.

"Maaf ya, Pak Cik! Pinjem bentar!"

Gue ambil toples gede isi bubuk cabe merah super pedas.

"Rasakan ini! Jurus Kabut Merah Neraka Jahanam!"

PYARR!

Gue sebarin bubuk cabe itu ke muka dua preman.

"AAAAA! MATAKUUU! PEDASSS!"

Mereka jerit-jerit sambil guling-guling, nabrak lapak ayam hidup. Ayam-ayam berterbangan, bikin suasana makin chaos. Bulu ayam di mana-mana, orang teriak, preman nangis.

"Keren kan?" Gue bangga.

Tiba-tiba, ada preman ketiga nyerang dari belakang. Dia pinter, dia nahan napas biar nggak kena cabe.

Dia mau nendang punggung gue.

Tetua Wi, yang lagi sibuk makan bakpao curian, teriak: "Jin-woo! Ikan Lele!"

Gue liat ember di sebelah kaki gue. Isinya lele jumbo yang licin dan berlendir.

Gue ambil satu lele, terus gue sabetin ke muka preman itu kayak make nunchaku.

PLAK! PLAK! SLAP!

Ekor lele itu nampar pipi kiri-kanan si preman dengan akurasi tinggi. Lendirnya bikin mata dia perih, siripnya bikin baret-baret.

"Ini namanya Jurus Naga Air Mengibas Ekor!" seru gue.

Preman itu mundur, jijik dan bingung. "Anjir, bau amis!"

Di sisi lain, Suster Ye-in ternyata jago banget adaptasi. Dia pake selendang sutra-nya buat ngiket kaki para preman, terus ditarik sampai mereka jatoh numpuk kayak sarden.

"Maaf ya, Mas. Jangan kasar-kasar dong," katanya sambil senyum manis, terus TAK! ngetok jidat preman pake sendok sayur besi sampai pingsan.

Namgung Ryong? Dia mulai menikmati perannya sebagai 'Pendekar Wajan'.

TANG! TING! TUNG!

Setiap kali pentungan musuh kena wajan, bunyinya nyaring kayak musik gamelan. Ryong nangkis sana-sini dengan gaya elegan, seolah-olah wajan itu adalah perisai Vibranium.

"Mundur! Mundur ke gang sempit!" perintah Tetua Wi setelah liat bala bantuan Naga Emas makin banyak yang dateng.

Kami lari masuk ke gang kecil di antara toko kain.

"Makasih, Pak! Lelenya saya bawa ya buat bekel!" teriak gue ke tukang ikan yang cuma bisa bengong.

Bagaimana bab ini menurutmu?

Rate
← Bab Sebelumnya

Diskusi 0

G