CATATAN SI JIN-WOO: PENDEKAR JALUR BELAKANG
Bab 26 : Makeover Buronan di Toko Kain
Konten Premium
Bab ini khusus pembaca berbayar. Dukung penulis dengan membeli akses penuh.
Masuk untuk Membeli AksesBab 26 : Makeover Buronan di Toko Kain
Gang itu sempit, becek, dan buntu.
Di ujung gang cuma ada pintu belakang sebuah bangunan kayu tua. Bau pewarna tekstil menyengat idung.
"Masuk!" Tetua Wi nendang pintu itu sampai jebol engselnya.
Kami berhamburan masuk. Ternyata ini gudang pewarnaan kain sutra. Ada gentong-gentong gede isi cairan warna-warni: Merah, Nila, Kuning, Hitam. Kain-kain panjang digantung di langit-langit buat dikeringin.
"Tutup pintunya, ganjel pake gentong!" perintah Ryong. Dia masih megang wajan nasi goreng dengan erat, kayaknya udah bonding sama tuh alat masak.
Gue dan Ryong ngegeser gentong kayu berat buat nahan pintu.
Dari luar kedengeran gedoran dan teriakan Bos Naga Emas. "KELUAR LO WI GWANG! BAYAR UTANG LO ATAU GUE BAKAR GUDANG INI!"
"Gila, Kakek utang apaan sih sampe dikejar segitunya?" tanya gue sambil ngos-ngosan, ngelap keringet yang nyampur sama bubuk cabe.
Tetua Wi duduk santai di atas tumpukan kain. "Ah, biasalah. Dulu aku pinjem duit buat beli arak legendaris 'Embun Surga'. Terus aku lupa bayar bunganya selama... yah, dua dekade. Bunganya nge-gulung jadi seharga satu istana kekaisaran."
Gue dan Ryong tepok jidat barengan.
"Jadi nyawa kita terancam cuma gara-gara Kakek hobi mabuk?!" Ryong emosi jiwa.
"Sudah, sudah," Ye-in menengahi, dia lagi meres ujung bajunya yang basah. "Yang penting sekarang gimana kita keluar dari kota ini? Gerbang pasti dijaga anak buah Naga Emas. Belum lagi kalau Sekte Iblis nyusul ke sini."
Gue ngintip dari celah jendela. Di luar emang udah dikepung. Wajah-wajah sangar di mana-mana.
"Kita nggak bisa keluar dengan tampang begini," kata gue. "Muka Ryong terlalu ganteng, gampang dikenalin. Muka Kakek terlalu jelek, gampang diinget. Muka Ye-in terlalu cantik. Muka gue... yah, terlalu pasaran sih sebenernya aman."
"Kita butuh penyamaran," simpul Ryong.
Mata gue tertuju pada kain-kain warna-warni dan gentong pewarna di sekitar kami.
Ide jahil (baca: ide brilian) muncul di otak gue.
"Gue punya rencana," gue nyengir lebar, senyum yang biasanya bikin temen-temen asrama gue langsung waspada. "Tapi ini butuh pengorbanan harga diri tingkat tinggi. Terutama buat lo, Tuan Muda Namgung."
Ryong mundur selangkah, meluk wajannya defensif. "Firasatku buruk. Sangat buruk. Jangan bilang kau mau menyuruhku jadi..."
"Bukan, bukan jadi badut," potong gue. "Tapi... jadi Rombongan Seni Topeng Keliling."
"Rombongan Seni?"
"Iya! Liat kain-kain ini!" Gue narik kain merah panjang. "Kita bikin kostum norak. Kita coret-coret muka pake pewarna tekstil biar nggak dikenalin. Kakek Wi jadi Pemain Musik Gila. Ye-in jadi Penari Kipas Misterius. Gue jadi Pawang Hewan."
"Dan aku?" tanya Ryong curiga.
"Lo..." Gue menahan tawa. "Lo jadi Hewannya. Maksud gue, lo jadi Aktor Pantomim yang meranin Siluman Kera Sakti. Muka lo kita cat merah total, jadi nggak ada yang ngenalin ketampanan lo."
"TIDAK SUDI!" Ryong nolak mentah-mentah. "Aku lebih baik mati bertarung daripada jadi kera!"
"Oke, silakan keluar lewat pintu depan," gue nunjuk pintu yang lagi digedor-gedor. "Semoga sukses lawan 50 preman plus utang kakek. Jangan lupa, Sekte Iblis juga ngincer pantat lo."
Ryong terdiam. Dia liat Ye-in.
Ye-in natap Ryong dengan mata berbinar (akting doang sih kayaknya). "Kak Ryong... demi keselamatan kita..."
Ryong menggeram frustasi. Dia ngebanting wajannya ke lantai. TRANG!
"BAIKLAH! Tapi kalau ada yang tahu soal ini di Gunung Hua, aku akan memotong lidah kalian semua!"
"Sip! Operasi 'Sirkus Gembel' dimulai!"
Gue langsung nyampur warna.
"Sini Ryong, deketan. Gue makeup-in. Mau style Smokey Eyes atau Angry Monkey?"