CATATAN SI JIN-WOO: PENDEKAR JALUR BELAKANG
Bab 27 : Debut Sirkus "Rombongan Sakit Jiwa"
Konten Premium
Bab ini khusus pembaca berbayar. Dukung penulis dengan membeli akses penuh.
Masuk untuk Membeli AksesBab 27 : Debut Sirkus "Rombongan Sakit Jiwa"
Setengah jam kemudian, pintu gudang kain terbuka pelan.
Para debt collector yang udah siap nyerbu langsung berhenti. Mereka bingung.
Dari dalam gudang, keluar suara musik yang sember dan nggak enak didenger. JRENG! DUNG! JRENG!
Tetua Wi keluar duluan. Dia pake baju gombrong warna-warni (hasil lilitan kain perca), rambut gimbalnya dihiasi pita pink, dan dia lagi genjreng sitar rusak yang senarnya putus dua. Mulutnya komat-kamit nyanyi lagu daerah yang liriknya ngawur.
"Lihatlah! Saksikanlah! Rombongan Sirkus 'Langit Runtuh' telah tiba!" teriak Tetua Wi dengan suara cempreng.
Di belakangnya, muncul Suster Ye-in. Dia pake cadar dari kain biru transparan, bajunya dililit artistik. Dia nari-nari gemulai, muter-muter kipas (kipasnya dari bekas saringan tahu yang nemu di gudang). Cantik sih, tapi aneh karena dia nari diiringi musik sember Tetua Wi.
Para preman bengong. "Ini apaan woi? Orang gila darimana?"
Lalu, Main Event-nya keluar.
Gue keluar sambil bawa cambuk (dari tali tambang). Gue pake rompi kulit (bekas karung goni) dan kumis palsu dari bulu sapu ijuk.
"Hadirin sekalian! Sambutlah... RAJA KERA DARI GUNUNG BERAPI!"
Dan keluarlah Namgung Ryong.
Sumpah, gue nahan ketawa sampe perut gue kram.
Seluruh muka Ryong dicat merah menyala kayak tomat busuk. Matanya dilingkari warna item. Bajunya kuning norak (kain sisa). Dia jalan dengan pose ngangkang, tangannya garuk-garuk ketiak (sesuai instruksi gue: "Totalitas atau Mati").
Dia nggak bawa pedang. Dia bawa tongkat kayu pel.
"U-Uk... A-Ak..." Ryong mencoba bersuara kera, tapi kedengeran kayak orang keselek biji salak.
"Liat Kera ini!" gue mecut lantai CTAR! (nggak kena Ryong kok, gue sayang nyawa). "Dia bisa salto! Ayo Kera, salto!"
Ryong menatap gue dengan tatapan 'Awas lo nanti', tapi dia tetep lakuin. Dia salto ke belakang tiga kali dengan sempurna. Wush! Wush! Wush! Pendaratannya mulus, gaya superhero.
Para preman yang tadinya mau ngegebukin, malah tepuk tangan.
"Wih! Jago juga monyetnya!"
"Hebat! Lagi dong!"
Bos Naga Emas garuk-garuk kepala botaknya. "Lho? Tadi perasaan yang masuk sini si Wi Gwang sama anak-anak ingusan. Kok yang keluar sirkus?"
"Permisi, Tuan Besar," kata gue dengan logat asing yang dibuat-buat. "Kami cuma numpang lewat. Tadi ada orang tua lari lewat atap sana, kami kaget jadi sembunyi di sini. Boleh kami lewat? Kami mau tampil di alun-alun kota."
Bos Naga Emas menyipitkan mata. Dia natap Ryong si Kera Merah.
"Itu monyet matanya kok tajem banget kayak pendekar?"
Gue panik. "Oh, ini monyet emang galak, Bos. Dulu mantan petarung MMA di hutan. Suka gigit. Jangan deket-deket, nanti rabies."
Ryong (si Kera) langsung nunjukin gigi dan mendesis ke arah Bos Naga Emas. "HSSSHHH!"
Aktingnya Oscar-worthy banget. Kebencian dia ke gue dan situasi ini bikin ekspresi marahnya natural abis.
"Iya deh, bubar, bubar!" Bos Naga Emas ngibasin tangan. "Mereka cuma orang gila nyasar. Kejar si Wi Gwang ke atap!"
Para preman lari ninggalin kami, manjat ke atap gudang.
Kami berempat jalan terus dengan formasi sirkus, nembus kerumunan pasar, menuju gerbang kota.
Sepanjang jalan, orang-orang ngelempar koin ke arah kami.
"Lumayan, dapet uang jajan," bisik gue sambil mungutin koin.
Pas kami udah sampe di luar gerbang kota yang sepi, jauh dari keramaian...
Ryong langsung berenti. Dia ngebuang tongkat pel, duduk di tanah, dan nutup mukanya yang merah. Bahunya berguncang.
"Kenapa, Kak Ryong? Nangis?" tanya Ye-in khawatir.
"Dia nggak nangis, Sus," jawab gue sambil ngitung koin hasil ngamen. "Dia lagi meratapi hilangnya martabat Keluarga Namgung selama 500 tahun dalam satu siang ini."
Ryong mendongak, matanya berkaca-kaca (antara marah dan malu).
"Han Jin-woo... Kau... Kau..."
"Apa? Bilang makasih? Santai aja, Bro. Kita tim yang solid kan?" Gue nepuk punggungnya yang penuh bedak warna kuning. PLOK. Debu kuning ngebul.
Tetua Wi ketawa ngakak sambil ngebersihin cat di mukanya. "Sudah, jangan drama! Kita berhasil lolos! Sekarang, kita harus ke mana?"
Gue ngeluarin Pedang Baja Biru (yang disembunyiin di dalem gulungan kain yang dibawa Ryong tadi). Gue cabut dikit. Pantulan sinarnya lagi-lagi nunjukin peta.
"Tujuannya jelas," kata gue, nunjuk ke arah pegunungan di utara yang tertutup salju. "Ke titik X di peta ini. Katanya di sana ada 'Kuil Seribu Racun' bekas markas Iblis Langit."
"Dan tebak siapa yang nunggu kita di sana?" tambah Tetua Wi.
"Siapa?"
"Pacar lamaku. Nenek Lampir dari Lembah Hantu. Dia satu-satunya yang bisa mecahin segel peta ini."
Gue dan Ryong saling pandang.
"Nenek Lampir?"
"Pacar Kakek?"
"Berarti kita bakal ketemu... calon nenek tiri?"
Petualangan makin ngawur, Sob. Tapi setidaknya, dompet gue sekarang penuh koin receh.