CATATAN SI JIN-WOO: PENDEKAR JALUR BELAKANG
Bab 28 : Sop Batu Cita Rasa Bintang Lima
Konten Premium
Bab ini khusus pembaca berbayar. Dukung penulis dengan membeli akses penuh.
Masuk untuk Membeli AksesBab 28 : Sop Batu Cita Rasa Bintang Lima
Gunung Es Utara. Tempat di mana ingus bisa beku sebelum sempet dilap, dan pipis sembarangan bisa berakibat fatal (jangan tanya kenapa, pokoknya jangan dicoba).
Kami berempat udah jalan kaki selama dua hari menembus badai salju. Bekal makanan dari pasar udah ludes dimakan Tetua Wi yang nafsu makannya kayak naga bunting. Sekarang, perut kami keroncongan, bunyinya udah harmonisasi ngebentuk orkestra sedih.
"Aku... tidak kuat lagi..." Namgung Ryong ambruk di atas batu yang tertutup salju. Wajahnya pucat, bibirnya biru. "Seorang Namgung tidak boleh mati kelaparan... Setidaknya mati saat bertarung..."
"Drama banget sih lu," cibir gue sambil ngumpulin ranting kering. "Baru nggak makan sehari juga. Dulu gue pernah puasa tiga hari cuma minum air hujan, tetep idup tuh."
"Itu karena kau punya gen kecoa," balas Ryong lemah.
Suster Ye-in duduk di sebelah Ryong, nyoba nyalurin tenaga dalam buat angetin badan si Tuan Muda. "Saudara Han, kita butuh makanan. Kalau begini terus, Kak Ryong bisa hipotermia."
Gue ngeliat sekeliling. Cuma ada salju, batu, dan pohon pinus beku. Nggak ada kelinci, nggak ada rusa.
"Tenang," kata gue sambil nyengir licik. "Gue bakal masak hidangan spesial klan pengemis. Namanya: Sop Saripati Bumi."
Mata Ryong berbinar dikit. "Saripati Bumi? Terdengar mewah. Apakah itu sejenis jamur langka?"
"Lebih langka dari itu."
Gue ambil panci penyok (hasil jarahan dari pasar). Gue isi salju, terus gue taruh di atas api unggun kecil yang baru gue nyalain.
Pas airnya mendidih, gue ambil sebuah batu sungai yang bentuknya bulet lonjong dari saku gue. Batu biasa. Beneran batu kali yang gue pungut pas di kaki gunung.
Gue cemplungin batu itu ke panci. PLUNG!
"Itu... batu?" tanya Ryong skeptis.
"Sstt! Jangan menghina!" sentak gue. "Ini adalah Telur Naga Batu. Konon, batu ini menyerap energi matahari selama seribu tahun. Kalau direbus, saripatinya keluar, rasanya gurih banget."
Ryong dan Ye-in melongo. Tetua Wi di pojokan cuma senyum-senyum (dia tau gue bohong, tapi dia diem aja karena penasaran).
Gue aduk-aduk sop batu itu. Sambil ngaduk, gue diem-diem ngeremehin sisa garem dan bubuk penyedap rasa yang gue simpen di saku celana (harta karun gue). Gue juga masukin beberapa akar-akaran liar yang gue tau aman dimakan.
"Nah, mateng!" Gue nyicipin dikit. Rasanya asin-asin hambar ada aroma tanahnya dikit. Perfect.
Gue tuang kuahnya ke mangkok (batok kelapa). Gue kasih ke Ryong.
"Silakan, Tuan Muda. Nikmati kemewahan alam."
Ryong memegang mangkok itu dengan tangan gemetar. Dia nyium aromanya.
"Hmm... baunya... mineral sekali."
Dia nyeruput kuahnya.
Gue nahan napas.
Mata Ryong membelak. "Ini... rasanya..."
Dia nyeruput lagi, kali ini lebih rakus.
"Enak! Rasanya asin, gurih, dan ada sensasi... purba! Wah, Han Jin-woo! Aku tidak sangka kau bisa masak bahan tingkat tinggi begini!"
"Iya dong," gue nahan ketawa sampe perut sakit. "Abisin, Bos. Jangan sisain batunya, batunya keras, takut gigi lo rontok."
Ryong makan dengan lahap, ngerasa bangga bisa makan 'Telur Naga Batu'.
Ye-in nyicipin juga. Dia natap gue, sadar kalau itu cuma air garem, tapi dia senyum dan ngedip.
"Makasih, Koki Han. Enak sekali."
Ah, senyum Ye-in lebih ngenyangin daripada sop batu manapun.