CATATAN SI JIN-WOO: PENDEKAR JALUR BELAKANG
Bab 29 : Badai Asmara di Gua Sempit
Konten Premium
Bab ini khusus pembaca berbayar. Dukung penulis dengan membeli akses penuh.
Masuk untuk Membeli AksesBab 29 : Badai Asmara di Gua Sempit
Malamnya, badai salju makin ngamuk. Anginnya kayak teriakan emak-emak nagih utang. Kami terpaksa nyari perlindungan di sebuah gua kecil di lereng tebing.
Gua itu sempit banget. Cuma muat buat empat orang duduk dempet-dempetan.
Tetua Wi, dengan alasan "mau meditasi jaga pintu", duduk di mulut gua yang paling dingin.
Di dalem, ada gue, Ye-in, dan Ryong.
Ryong, abis kenyang makan sop batu, langsung ketiduran pules di pojok kanan. Dia ngorok halus, sesekali ngigau: "Jangan... jangan cat muka saya merah lagi..."
Kasihan, trauma mendalam kayaknya.
Itu ninggalin gue dan Ye-in duduk sebelahan di tengah, deket api unggun kecil.
Suasana canggung parah.
"Dingin ya, Saudara Han," Ye-in memecah keheningan, suaranya lembut. Dia gosok-gosok telapak tangannya.
"Eh, iya Sus. Dingin. Namanya juga kulkas alam," jawab gue kaku. Aduh, Jin-woo. Keluarin gombalan maut lo! Masa kalah sama kodok!
Ye-in ketawa kecil. "Kamu selalu punya jawaban lucu. Tau nggak, dulu waktu pertama liat kamu di asrama, saya pikir kamu cuma murid nakal yang nggak punya masa depan."
Jleb. Jujur banget sih, Sus.
"Tapi," lanjutnya, natap api unggun. "Setelah liat kamu nyelamatin kami di danau, ngalahin kodok, dan mimpin kami kabur... saya sadar. Kamu bukan nakal. Kamu cuma... beda. Kamu punya cara sendiri buat bertahan hidup."
Hati gue mekar kembang api.
Gue memberanikan diri nengok ke dia. Cahaya api bikin wajah cantiknya makin bersinar, pipinya agak merah karena dingin.
"Yah, hidup itu kan kayak main kartu, Sus," kata gue sok bijak. "Kadang kita dapet kartu jelek. Pilihannya cuma dua: nyerah, atau main curang biar menang. Gue pilih opsi kedua."
Ye-in tersenyum, lalu nyandar sedikit ke arah gue. Bahu kami bersentuhan.
DAG-DIG-DUG-SER!
Sistem syaraf gue konslet.
"Saudara Han... boleh pinjam bahunya sebentar? Saya ngantuk."
"Boleh! Boleh banget! Sewa seumur hidup juga boleh! Gratis ongkir!" jawab gue kecepetan.
Ye-in terkikik, lalu beneran nyandarin kepalanya di bahu gue. Wangi rambutnya... campuran antara melati dan asep api unggun. Wangi surga.
Gue kaku kayak patung. Tangan gue bingung mau ditaruh di mana. Akhirnya gue taruh di lutut sendiri, megang erat celana.
"Nyaman..." gumam Ye-in pelan.
Ini dia. Momen romantis gue.
Gue mau ngelingkarin tangan gue ke bahu dia... pelan-pelan...
Tiba-tiba...
PLAK!
Tangan seseorang nampar pipi gue dari arah kanan.
Gue kaget. Ye-in juga kaget bangun.
Ternyata itu tangan Namgung Ryong. Dia masih tidur, tapi tangannya gerak-gerak liar kayak lagi nangkis lalat.
"Pergi... Pergi kau Kodok Emas..." igau Ryong, lalu kakinya nendang kayu bakar.
Api unggun padam seketika.
Gua jadi gelap gulita.
"Aduh! Mata gue kelilipan abu!" teriak gue.
"Ada serangan musuh?!" Ryong bangun kaget, langsung cabut pedang dan muter-muter nggak jelas di kegelapan.
BUG!
Dia nendang tulang kering gue.
"ADUH! SIALAN LO RYONG!"
Momen romantis hancur lebur.
Terima kasih, Tuan Muda Namgung. Anda memang perusak suasana sejati.