BAB 3

Bab 3 : Kitab Dewa atau Buku Menu?

CATATAN SI JIN-WOO: PENDEKAR JALUR BELAKANG

Bab 3 : Kitab Dewa atau Buku Menu?

🗓 09 Jun 2025 👁 721 Views

Bab 3 : Kitab Dewa atau Buku Menu?

Malamnya, badan gue rasanya kayak habis digeprek sama raksasa. Tapi dasar otak gue emang nggak bisa diem, bukannya tidur, gue malah keluyuran.

Tujuan gue malam ini adalah Paviliun Kitab Suci.

Eits, jangan salah sangka dulu. Gue ke sana bukan mau nyuri Kitab 'Sembilan Pedang Matahari' atau 'Jurus Tapak Buddha'. Berat, Bro. Bahasanya susah, banyak istilah kuno yang bikin pusing. Gue ke sana cuma mau nyari tempat sepi buat ngadem. Asrama murid luar itu sumpek, baunya macem-macem, dan suara ngorok Si Gendut Oh itu desibelnya bisa ngeruntuhin tembok.

Paviliun Kitab Suci malam hari itu serem-serem sedap. Sepi, gelap, cuma diterangi beberapa lampion redup. Penjaganya, Paman Penjaga yang budek sebelah, biasanya udah tidur jam segini di pos depan. Jadi, aman.

Gue menyelinap masuk lewat jendela samping yang engselnya udah gue minyakin minggu lalu pake sisa minyak goreng dapur. Smooth operator.

Di dalam, bau kertas tua dan debu langsung menyambut hidung gue. Rak-rak buku menjulang tinggi sampai langit-langit. Gue jalan jinjit-jinjit di antara lorong rak, nyari spot favorit gue di pojok belakang, di bagian 'Sejarah Sekte yang Membosankan' yang nggak pernah disentuh murid lain.

Gue duduk bersila di lantai kayu, nyender ke rak. Nyaman banget. Gue ngeluarin bungkusan kacang rebus dari saku celana—cemilan wajib—dan mulai ngupas kulitnya.

"Ah, nikmat mana lagi yang kau dustakan, Jin-woo," gumam gue sambil melempar kacang ke mulut.

Lagi asik ngunyah, mata gue nangkep sesuatu di rak paling bawah, kejepit di antara buku tebal 'Biografi Ketua Sekte Ke-4'. Ada sebuah buku tipis, warnanya biru kusam, covernya udah sobek-sobek dikit.

Iseng, gue tarik buku itu. Debunya ngebul, bikin gue bersin pelan. "Hachim! Busyet, ini buku apa sarang laba-laba?"

Gue baca judulnya di cover yang udah pudar. Tulisannya cakar ayam banget, kayak ditulis sama orang mabuk.

"Langkah Kaki Kucing Mabuk di Atas Atap".

Dahi gue berkerut. Jurus macam apa ini? Kok namanya nggak elit banget? Biasanya kan nama jurus itu keren, kayak 'Naga Membelah Samudra' atau 'Harimau Turun Gunung'. Ini... Kucing Mabuk? Di Atas Atap?

Gue buka halamannya. Isinya bukan diagram aliran tenaga dalam yang rumit, tapi gambar-gambar orang lidi yang lagi pose aneh-aneh. Ada yang lagi tiduran miring, ada yang lagi jalan sempoyongan, ada yang lagi kayang sambil makan.

"Ini mah bukan kitab beladiri, ini komik jaman dinasti Ming!" kekeh gue.

Tapi pas gue baca deskripsinya, gue mulai tertarik.

Pembukaan: "Untuk kau yang malas berlatih tapi ingin hidup selamat. Jurus ini tidak butuh tenaga dalam besar, hanya butuh kelicikan dan keseimbangan. Inti dari jurus: Lari adalah kemenangan sesungguhnya."

Gila! Gue langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Ini kitab gue banget! Ini jodoh gue! Siapa pun penulisnya—mungkin pendekar tuna wisma jaman dulu—dia adalah idola gue mulai sekarang.

Gue membalik halaman selanjutnya. Gerakan Pertama: Pura-pura Mati.

"Wah, ini berguna banget pas ujian kenaikan tingkat," komentar gue.

Gue makin asik baca. Tanpa sadar, posisi duduk gue makin nylewir. Kaki gue naik satu ke atas rak, kepala gue miring-miring ngikutin gambar, dan kulit kacang udah berserakan di mana-mana. Gue bahkan nyoba niruin satu gerakan tangan yang katanya bisa bikin lawan bingung (padahal cuma gerakan ngelitikin ketiak lawan).

"Hahaha, kocak abis. Jadi kalau musuh nyerang, gue tinggal..."

"Ehem."

Suara dehem itu pelan, tapi efeknya kayak petir di siang bolong. Dingin, berat, dan berasal dari arah belakang gue.

Darah gue berdesir. Bulu kuduk gue berdiri semua, bahkan bulu kaki gue kayaknya ikutan hormat gerak.

Pelan-pelan, dengan gerakan patah-patah kayak robot kehabisan baterai, gue nengok ke belakang.

Di sana, berdiri sosok tinggi besar dalam kegelapan. Cahaya lampion remang-remang menyinari wajahnya. Jenggot putih panjang, mata setajam silet, dan aura membunuh yang bikin kulit kacang di lantai bergetar.

Tetua Baek.

Dan dia lagi ngelihatin gue.

Lalu dia ngelihatin kulit kacang yang berserakan.

Lalu dia ngelihatin kitab 'Kucing Mabuk' yang lagi gue pegang dengan posisi konyol (gue lagi nyoba pose nyakar udara).

"Murid Han..."

Suaranya lebih serem dari hantu sumur.

"Sedang apa kau di sini... dengan sampah kacang... dan kitab terlarang itu?"

Tunggu, kitab terlarang? Buku gambar orang lidi ini kitab terlarang?!

Gue nelen ludah. Akar manis di mulut gue mendadak rasanya pait banget. Otak gue berputar cepat mencari alasan.

1. Bilang lagi bersih-bersih (nggak mungkin, malah nambah sampah).

2. Bilang lagi sleepwalking (klise).

3. Jujur.

"Eh, anu, Tetua..." Gue nyengir kaku, keringat dingin segede jagung ngucur di pelipis. "Saya... saya lagi riset. Ya, riset! Mencari hubungan filosofis antara kulit kacang dan... ehem... jurus Kucing Mabuk ini untuk kemajuan sekte!"

Tetua Baek menyipitkan matanya. Tangannya perlahan bergerak ke gagang pedang di pinggangnya.

"Begitu ya? Kalau begitu, mari kita lihat apakah 'riset'-mu bisa menyelamatkanmu dari hukuman kurungan di Gua Pertobatan selama tiga bulan."

Mampus.

Gue natap jendela yang terbuka di ujung sana. Jaraknya sekitar lima meter.

Gue natap Tetua Baek yang udah siap meledak.

Gue natap buku di tangan gue. Gerakan Kedua: Langkah Seribu Bayangan (alias Kabur Sekencang-kencangnya).

"Tetua, lihat! Ada UFO!" teriak gue sambil menunjuk ke langit-langit.

Tetua Baek nggak nengok sedikitpun.

"Sial, nggak mempan," bisik gue.

Dan malam itu, jeritan gue terdengar merdu membelah kesunyian Puncak Gunung Hua.

Bagaimana bab ini menurutmu?

Rate
← Bab Sebelumnya

Diskusi 0

G