BAB 30

Bab 30 : Lembah Hantu dan Mantan Terindah

CATATAN SI JIN-WOO: PENDEKAR JALUR BELAKANG

Bab 30 : Lembah Hantu dan Mantan Terindah

🗓 02 Aug 2025 👁 732 Views
💎

Konten Premium

Bab ini khusus pembaca berbayar. Dukung penulis dengan membeli akses penuh.

Masuk untuk Membeli Akses

Bab 30 : Lembah Hantu dan Mantan Terindah

Besok paginya, kami sampai di tujuan. Lembah Hantu.

Sesuai namanya, tempat ini horor abis. Kabutnya warna ungu tipis, pohon-pohonnya item dan nggak berdaun, rantingnya kayak jari nenek sihir yang mau nyakar. Di gerbang masuk lembah, ada gapura dari tulang belulang raksasa (kayaknya tulang dinosaurus atau naga obesitas).

"Ini tempat tinggal pacar Kakek?" tanya gue ngeri. "Selera Kakek... unik ya. Gothic banget."

Tetua Wi kelihatan gugup. Dari tadi dia nyisirin rambut gimbalnya pake jari, benerin baju perca-nya, bahkan sempet kumur-kumur pake salju.

"Penampilan itu penting, Bocah. Kesan pertama menentukan apakah kita bakal disuguhi teh atau disuguhi racun."

"Kek, kalian kan udah putus 20 tahun lalu. Emang dia masih peduli?" tanya Ryong polos.

"Cinta sejati itu tidak mengenal kadaluarsa," jawab Tetua Wi puitis, tapi kakinya gemeteran.

Kami melangkah masuk.

Di tengah lembah, ada sebuah gubuk reot yang dikelilingi taman bunga... bunga bangkai. Dan ada banyak patung es berbentuk cowok-cowok ganteng dengan pose ketakutan.

"Itu patung es atau..." gue nggak berani ngelarin kalimat gue.

"SIAPA YANG BERANI MENGINJAK HALAMANKU?!"

Suara melengking terdengar dari dalem gubuk.

Angin dingin berhembus kencang, membawa jarum-jarum es yang tajam.

WUSH! WUSH!

Ryong dan gue sibuk nangkis pake pedang dan wajan.

"Permisi! Paket!" teriak gue.

Pintu gubuk terbuka.

Keluar sesosok wanita.

Gue nyangka bakal liat nenek-nenek keriput bungkuk.

Ternyata... yang keluar adalah wanita cantik banget! Kulitnya putih pucat, rambutnya hitam panjang sampai tumit, bibirnya merah darah. Dia kelihatan kayak umur 30-an, padahal kalau dia mantannya Tetua Wi, harusnya umurnya udah 60-an.

Ini dia Nenek Lampir? Atau cucunya?

Wanita itu melayang—beneran melayang, kakinya nggak napak tanah—mendekati kami. Matanya dingin, penuh kebencian.

Dia natap Tetua Wi.

"Kau..." desisnya. "Wi Gwang. Si Bajingan Penipu Hati."

Tetua Wi nyengir kuda. "Hai, Mei-Mei. Kamu makin awet muda aja. Pake serum apa? Formalin?"

Wanita itu (namanya Mei Li, berjuluk Ratu Es Lembah Hantu) mengibaskan rambutnya. Rambut itu memanjang dan berubah jadi cambuk tajem, nyamber leher Tetua Wi.

KEK!

Tetua Wi dicekik di udara.

"Aku sudah bersumpah," kata Mei Li dingin. "Jika kau muncul lagi di depanku, aku akan membekukanmu jadi pajangan teras!"

"Tunggu, Nenek Cantik!" gue maju memberanikan diri (demi nyelamatin peta dan nyawa kami). "Jangan bunuh dia dulu! Dia... dia bawa oleh-oleh!"

Mei Li nengok ke gue. Tatapannya bikin darah gue beku.

Dia mendekat ke wajah gue. Mengendus-endus.

"Bau ini..." katanya pelan. "Bau... Kucing Mabuk?"

Dia melepaskan Tetua Wi (yang jatuh gedebuk ke tanah), lalu ganti mencengkeram kerah baju gue, ngangkat gue sampai kaki gue gantung.

"Kau murid si tua bangka ini?" tanyanya.

"Bukan! Saya cuma... korban salah pergaulan!" elak gue.

Mei Li menatap mata gue dalem-dalem. Tiba-tiba ekspresinya berubah. Dari marah jadi... terharu?

Dia meraba pipi gue dengan tangannya yang dingin banget.

"Mata ini... Hidung ini... Jambul konyol ini..." gumamnya.

"Kau mirip sekali dengan Bo-Bo."

"Bo-Bo?" tanya gue bingung. "Siapa itu? Cinta pertama Nenek?"

"Bukan," jawab Mei Li sendu. "Bo-Bo adalah anjing kesayanganku yang mati sepuluh tahun lalu karena keselek tulang ayam."

Gue: "..."

Ryong: (Nahan ketawa di belakang).

"Karena kau mirip Bo-Bo," kata Mei Li, "Aku tidak akan membunuhmu. Tapi sebagai gantinya... kau harus tinggal di sini selamanya menemaniku. Dan pakai kalung ini."

Dia ngeluarin kalung rantai besi berduri.

"WADUH! JANGAN NEK! SAYA MANUSIA, BUKAN ANJING!" teriak gue panik.

"Sstt. Bo-Bo anak baik, jangan gonggong," kata Mei Li sambil siap-siap makein kalung itu ke leher gue.

Gue liat Ryong dan Tetua Wi. Mereka bukannya nolongin, malah mundur pelan-pelan.

Sialan! Solidaritas macam apa ini?!

Bagaimana bab ini menurutmu?

Rate
← Bab Sebelumnya

Diskusi 0

G