CATATAN SI JIN-WOO: PENDEKAR JALUR BELAKANG
Bab 33 : The Zoomies of Destruction
Konten Premium
Bab ini khusus pembaca berbayar. Dukung penulis dengan membeli akses penuh.
Masuk untuk Membeli AksesBab 33 : The Zoomies of Destruction
Mei Li murka. Beneran murka. Rambutnya yang tadinya jatoh indah sekarang melayang-layang kayak Medusa. Suhu ruangan turun drastis sampe minus banyak derajat.
"Berani-beraninya tikus got mengancam Ratu Es!" teriaknya. Dia melayang keluar, nembus pintu tanpa dibuka (pintunya hancur jadi serbuk es).
Gue, Ryong, Ye-in, dan Tetua Wi ditinggal di dalem.
"Kesempatan!" teriak gue. "Ryong, potong tali Ye-in! Kakek, jangan bengong!"
Gue (yang tenaganya lagi overload gara-gara pil anjing) loncat ke arah kursi goyang Mei Li. Gue cakar karpet di bawahnya.
Bener aja! Ada plat besi dengan ukiran naga di lantai.
"Ini pintunya!"
Tapi di luar, suara ledakan makin rame.
DUAR! BLARR!
Gue ngintip lagi. Mei Li lagi ngamuk, nembakin ribuan jarum es ke arah pasukan Iblis. Keren sih, tapi pasukan Iblis licik. Mereka nembakin bola-bola api beracun yang bikin es Mei Li meleleh.
"Nenek itu kewalahan," kata Tetua Wi yang udah gabung sama gue. "Racun api Sekte Iblis adalah kelemahan alaminya."
Tiba-tiba, satu bola api nyasar masuk ke gubuk, ngeledakin dinding samping.
Pecahan batu melayang ke arah Ye-in.
"AWAS!" Ryong loncat, meluk Ye-in buat ngelindungin dia. So sweet, tapi punggung Ryong kena hantam batu. Dia mengerang sakit.
Darah gue mendidih liat temen gue (walaupun temen yang nyebelin) disakitin.
Ditambah lagi, efek Pil Es di perut gue mencapai puncaknya.
Badan gue rasanya panas dingin, geter-geter kayak hape mode silent. Gue ngerasa... gue butuh lari.
Gue butuh lari SEKARANG JUGA.
Ini fenomena yang dikenal para pemilik anjing sebagai: ZOOMIES.
"Guk... GUK!!!"
Gue melesat keluar gubuk.
Bukan lari biasa. Gue lari secepet kilat. Kaki gue kayak nggak napak tanah.
Gue lari muterin halaman gubuk tiga kali dalam sedetik. WUSH! WUSH! WUSH!
Pasukan Iblis bingung. "Itu apaan? Gasing?"
Tetua Iblis Racun ngarahin tongkatnya ke gue. "Bunuh makhluk itu!"
Gue nggak bisa ngerem! Otak gue bilang berenti, tapi kaki gue bilang "GAS TERUS, SOB!".
Karena nggak bisa ngerem, gue arahin aja badan gue ke kerumunan musuh.
"JURUS TABRAKAN MAUT ANJING GILA!"
Gue nerjang barisan depan pasukan Iblis.
BRAKKK!
Lima orang mental ke udara kayak pin bowling kena strike.
Gue muter balik, lari lagi ke arah meriam ijo.
Gue loncat, nendang moncong meriam itu pas dia mau nembak.
DENG!
Moncongnya bengkok ke atas.
Peluru ijo itu meluncur vertikal ke langit... terus jatoh lagi ke bawah.
Tepat ke arah Tetua Iblis Racun.
"Lho? Kok balik?" Tetua Iblis Racun melongo.
KA-BOOOM!
Ledakan racun ijo menyelimuti posisi Tetua Iblis. Pasukannya kocar-kacir.
Gue mendarat (baca: nyusruk) di tumpukan salju, napas ngos-ngosan, lidah menjulur keluar. Efek obatnya mulai ilang, diganti rasa mual yang luar biasa.
Mei Li turun dari langit, mendarat di depan gue. Dia natap gue takjub.
"Bo-Bo... kamu..."
Gue ngangkat kepala, muka penuh salju.
"Guk? (Keren nggak?)"
Tapi di tengah kekacauan itu, tanah di bawah kami mulai retak. Ledakan meriam tadi ternyata nge-trigger gempa lokal.
Lantai gubuk di belakang kami ambrol.
Lubang raksasa menuju makam bawah tanah terbuka lebar.
Dan kami semua—Gue, Ryong, Ye-in, Tetua Wi, Mei Li, dan sisa pasukan Iblis yang masih idup—tergelincir masuk ke dalem kegelapan perut bumi.
"KENAPA SETIAP BAB GUE JATOH KE LUBANG MULU SIH?!" teriak gue frustasi sebelum ditelan kegelapan.