BAB 34

Bab 34 : Selamat Datang di "Murim Idol"

CATATAN SI JIN-WOO: PENDEKAR JALUR BELAKANG

Bab 34 : Selamat Datang di "Murim Idol"

🗓 10 Aug 2025 👁 732 Views
💎

Konten Premium

Bab ini khusus pembaca berbayar. Dukung penulis dengan membeli akses penuh.

Masuk untuk Membeli Akses

Bab 34 : Selamat Datang di "Murim Idol"

Jatuh itu ada seninya. Kalau jatuhnya di kasur, itu namanya istirahat. Kalau jatuhnya di pelukan pacar, itu namanya romantis. Tapi kalau jatuhnya di lantai batu keras setelah meluncur turun 500 meter di perut bumi, itu namanya encok permanen.

GEDEBUK! BRUK! KREK!

Kami mendarat di tumpukan... emas?

Bukan. Tumpukan tulang belulang yang dilapisi emas. Fancy banget kuburannya.

"Aduh, pinggang gue geser ke leher," keluh gue sambil berusaha bangun. Kalung 'Bo-Bo' masih nempel di leher gue, bikin gue berasa kayak rapper gagal.

Gue liat sekeliling. Kami berada di aula bawah tanah yang luasnya ngalahin stadion bola. Langit-langitnya tinggi banget, dipenuhi permata bercahaya yang disusun kayak rasi bintang. Di ujung ruangan, ada singgasana raksasa yang terbuat dari pedang-pedang hitam yang dilelehkan.

"Kita... kita masih hidup?" tanya Namgung Ryong, dia lagi ngecek tatanan rambutnya (prioritas utama dia).

"Sayangnya iya," jawab suara serak di pojok. Tetua Iblis Racun bangkit berdiri. Jubahnya sobek-sobek, mukanya gosong kena ledakan meriam sendiri. Di belakangnya, sisa-sisa pasukannya juga mulai bangun.

Suasana langsung tegang. Ryong dan Tetua Wi langsung pasang kuda-kuda. Mei Li (yang rambutnya masih agak kusut) udah siap nembakin es.

"Cukup main-mainnya," geram Tetua Iblis Racun. "Tempat ini akan jadi kuburan kalian!"

Baru aja dia mau nyemburin racun, tiba-tiba terdengar suara feedback mic yang nyaring banget.

NGIIIIING!

Kami semua tutup kuping.

"Tes, tes. Satu, dua, tiga. Cek sound. Halo? Mic-nya nyala nggak nih?"

Suara itu bergema dari segala penjuru.

Tiba-tiba, di atas singgasana pedang hitam, muncul hologram—iya, hologram arwah—seorang pria paruh baya yang ganteng, pake jubah hitam mewah, dan... kacamata hitam bulat?

"SELAMAT DATANG DI MAKAM IBLIS LANGIT!" teriak arwah itu dengan gaya MC kondangan. "Saya tuan rumah kalian, Cheon Ma yang Asli, Sang Legenda, Sang Mitos, Sang Idola!"

Gue melongo. "Ini hantu Iblis Langit? Kok gayanya kayak presenter kuis?"

"Siapa yang berani menista leluhur!" Tetua Iblis Racun sujud gemetar. "Hamba adalah pengikut setia Sekte Iblis! Hamba datang untuk mewarisi ilmu Paduka!"

Arwah Cheon Ma nurunin kacamata hitamnya, natap Tetua Iblis dengan jijik.

"Kamu? Mewarisi ilmuku? Muka kamu aja nggak simetris. Aku nyari pewaris yang good looking dan good attitude, Bro."

Ryong langsung benerin kerah bajunya. "Saya good looking, Kek."

"Diam kalian semua!" Arwah Cheon Ma jentikin jari.

CLING!

Tiba-tiba, lantai di bawah kami berubah. Muncul garis-garis kotak bercahaya. Kami semua terpisah-pisah, masing-masing berdiri di atas satu kotak podium.

Gue di podium 1. Ryong di podium 2. Ye-in di podium 3. Tetua Iblis di podium 4. Dan seterusnya.

"Kalian masuk ke sini rame-rame, bikin brisik, ngerusak atap rumah gue," kata Cheon Ma santai. "Jadi, gue nggak bakal kasih warisan gue gitu aja. Kita bakal main game."

"Game?" tanya gue.

"Yap. Nama acaranya: SIAPA BERANI MATI!" Cheon Ma merentangkan tangan. "Aturannya simpel. Jawab pertanyaan gue, atau lakuin tantangan gue. Kalau bener, dapet poin. Kalau salah... lantai di bawah kalian bakal bolong, dan di bawah sana ada kolam lava. Have fun!"

Gue nengok ke bawah podium. Beneran ada cahaya merah membara dan hawa panas.

"Gila. Ini bukan Murim Idol. Ini Squid Game versi wuxia!"

Bagaimana bab ini menurutmu?

Rate
← Bab Sebelumnya

Diskusi 0

G