CATATAN SI JIN-WOO: PENDEKAR JALUR BELAKANG
Bab 35 : Cerdas Cermat Maut
Konten Premium
Bab ini khusus pembaca berbayar. Dukung penulis dengan membeli akses penuh.
Masuk untuk Membeli AksesBab 35 : Cerdas Cermat Maut
"Ronde Pertama: Uji Wawasan!" seru Cheon Ma. Musik tegang ala kuis "Who Wants to Be a Millionaire" bergema di ruangan (entah darimana sumber suaranya).
"Pertanyaan untuk Peserta Nomor 4, Si Muka Gosong!" Cheon Ma nunjuk Tetua Iblis Racun.
Tetua Iblis keringetan. "Hamba siap, Paduka."
"Sebutkan filosofi utama dari Jurus 'Tapak Penghancur Langit' yang aku ciptakan 500 tahun lalu!"
Tetua Iblis tersenyum lebar. Ini makanan dia. "Mudah! Filosofinya adalah: Kekuatan mutlak untuk menghancurkan musuh tanpa ampun, mendominasi dunia dengan ketakutan, dan meminum darah lawan!"
Cheon Ma diem bentar. Terus dia pencet tombol imajiner.
TEOT! (Suara buzzer salah).
"SALAH!"
"Hah?! Tapi itu tertulis di kitab suci sekte!" protes Tetua Iblis.
"Itu karena muridku yang nulis bego semua!" seru Cheon Ma. "Jawabannya adalah: Biar bisa mecahin batok kelapa tanpa golok! Gue ciptain jurus itu pas lagi haus di pantai, dodol!"
KLAK!
Lantai di bawah salah satu anak buah Tetua Iblis terbuka.
"AAAAaaaaaa!" Anak buah itu jatoh ke kolam lava. Bunyi CSSSS terdengar singkat.
Kami semua merinding. Ini hantu nggak becanda. Humornya receh, tapi hukumannya real.
"Pertanyaan selanjutnya! Peserta Nomor 2, Si Ganteng Kaku!" Cheon Ma nunjuk Ryong.
Ryong nelen ludah. "S-Saya siap."
"Apa senjata terkuat di dunia persilatan?"
Ryong mikir keras. "Pedang Naga Langit? Tidak... Kitab Iblis? Bukan..." Dia natap gue, minta contekan. Gue cuma angkat bahu.
"Jawabannya adalah... Tekad yang kuat!" jawab Ryong mantap.
TEOT!
"Salah! Klise banget jawaban lo kayak motivasi pagi di grup WhatsApp!" ejek Cheon Ma.
Ryong pucat. Lantai di bawahnya bergetar dikit.
"Lemparan pertanyaan ke Peserta Nomor 1, Si Jambul Anjing!"
Gue kaget. "Eh? Gue?"
Gue mikir. Senjata terkuat? Kalau menurut pengalaman gue selama jadi buronan...
"Uang, Kek?" jawab gue ragu. "Atau... Koneksi Orang Dalem?"
Cheon Ma nepuk tangan heboh. TING TING TING!
"BENAR! Dengan uang dan orang dalem, lo bisa suruh pendekar sakti buat ngelindungin lo! Cerdas! 10 Poin buat Gryffindor... eh, buat Si Jambul!"
Ryong natap gue nggak percaya. "Dunia ini sudah gila."
"Pertanyaan terakhir di babak ini!" Cheon Ma natap kami semua. "Apa syarat utama menjadi Pemimpin Dunia Persilatan?"
Tetua Iblis Racun (masih penasaran): "Kekejaman!"
Mei Li: "Kecantikan abadi!"
Tetua Wi: "Stok arak yang banyak!"
Ryong: "Keadilan!"
Gue diem aja, males mikir. Gue lagi sibuk ngelupasin kutek di kuku gue (kapan gue pake kutek?).
"Peserta Nomor 1, lo diem aja. Jawab!"
"Hah?" Gue garuk kepala. "Syarat jadi pemimpin? Hmm... Tahan Malu, Kek? Soalnya pemimpin kan sering dihujat tapi harus tetep senyum."
Hening.
Cheon Ma diem lama banget. Dia ngelepas kacamata itemnya. Matanya berkaca-kaca.
"Sumpah..." katanya terharu. "Selama 500 tahun gue nunggu, baru lo yang ngerti perasaan gue. Bener banget! Tahan Malu adalah kunci! Lo Lolos ke babak final!"
"APA??!!" Tetua Iblis dan Ryong teriak barengan. "INI TIDAK ADIL! INI SETTINGAN!"
"Protes ditolak!" Cheon Ma melambaikan tangan.
KLAK!
Lantai di bawah Tetua Iblis dan Ryong terbuka setengah. Kaki mereka ngegantung. Mereka harus pegangan pinggiran lantai biar nggak jatoh.
"Babak Kedua: Dansa Sampai Mati!"