CATATAN SI JIN-WOO: PENDEKAR JALUR BELAKANG
Bab 37 : Umpan Naga Beraroma Lavender
Konten Premium
Bab ini khusus pembaca berbayar. Dukung penulis dengan membeli akses penuh.
Masuk untuk Membeli AksesBab 37 : Umpan Naga Beraroma Lavender
Situasi saat ini bisa didefinisikan dengan satu kata: Runyem.
Di depan kami, Naga Tulang setinggi gedung lima lantai sedang meregangkan lehernya. Tulang-tulangnya bergemeretak, suaranya kayak ribuan kerupuk keinjek barengan.
"ROAAAARRR!"
Naga itu nyemburin api biru.
Kami semua loncat ke segala arah.
DUAR! Tempat kami berdiri tadi langsung jadi kawah gosong.
"Kek! Ini gimana cara matinya?! Eh, mateni-nya?!" teriak gue panik sambil guling-guling di balik pilar.
Tetua Iblis Racun (yang anehnya nyebelah sama gue) berteriak, "Naga Tulang itu makhluk Necromancy! Dia nggak punya organ vital! Kita harus hancurkan inti penggeraknya!"
"Intinya di mana, Mbah Dukun?!"
"Biasanya di jidat atau di dada! Tapi kulit tulangnya sekeras baja hitam! Seranganku nggak mempan!"
Tetua Wi, yang lagi gelantungan di lampu gantung, teriak dari atas. "Jin-woo! Naga ini buta! Dia melacak gerakan cepat dan... hawa murni yang menyebalkan!"
Semua mata—termasuk mata merah Tetua Iblis Racun—langsung tertuju ke satu orang.
Namgung Ryong.
Ryong, yang lagi benerin rambutnya yang kena abu, ngerasa diperhatiin.
"Kenapa? Kenapa kalian menatapku seperti itu?"
Gue nyengir lebar. Ide jahat muncul.
"Ryong, sobatku yang paling ganteng. Hawa murni lo itu lho, bersinar terang banget kayak lampu neon pasar malem. Naga itu pasti suka."
"Tunggu..." Ryong mundur selangkah. "Jangan bilang kalian mau..."
"Jadilah pahlawan, Tuan Muda!" Gue langsung nendang pantat Ryong.
"MAJU TAK GENTAR!"
Ryong terdorong ke tengah arena. Dia kaget, reflek ngeluarin pedang dan aura murninya meledak keluar.
"HAN JIN-WOO SIALAN!!!"
Naga Tulang itu langsung nengok ke arah Ryong. Sensor geraknya nangkep sinyal: Target Prioritas: Cowok Ganteng Berisik.
"ROAAAR!" Naga itu nyeruduk ke arah Ryong.
"LARI RYONG! LARI KAYAK LO DIKEJAR BANCI TAMAN LAWANG!" teriak gue ngasih instruksi.
Ryong nggak punya pilihan. Dia lari sekencang-kencangnya mengelilingi arena. Naga itu ngejar di belakangnya, nyaplok-nyaplok udara, hancurin pilar sana-sini.
"AKU AKAN MEMBUNUHMU SETELAH INI, HAN JIN-WOO!" jerit Ryong sambil salto menghindari gigitan naga.
"Oke, umpan sudah bekerja," kata gue ke Tetua Iblis dan Mei Li. "Sekarang giliran kita. Nek Mei Li, bekukan kakinya! Mbah Racun, lelehkan sambungan lehernya! Gue bakal manjat ke atas buat cari tombol OFF-nya!"
Tetua Iblis Racun mendengus. "Berani-beraninya kau memerintahku. Tapi... baiklah. Demi nyawaku sendiri."