BAB 38

Bab 38 : Rodeo Tulang Punggung

CATATAN SI JIN-WOO: PENDEKAR JALUR BELAKANG

Bab 38 : Rodeo Tulang Punggung

๐Ÿ—“ 18 Aug 2025 ๐Ÿ‘ 732 Views
๐Ÿ’Ž

Konten Premium

Bab ini khusus pembaca berbayar. Dukung penulis dengan membeli akses penuh.

Masuk untuk Membeli Akses

Bab 38 : Rodeo Tulang Punggung

Rencana dimulai.

Mei Li maju, rambut putihnya berkibar. "Pembekuan Abadi!"

Dia nembakin badai es ke kaki naga. Es merambat cepat, bikin gerakan naga jadi lambat dan kaku. Naga itu kepeleset-peleset kayak pake sepatu roda di lantai licin.

Tetua Iblis Racun nembakin cairan hijau pekat ke arah leher naga. CESS! Tulang leher naga mulai asep dan rapuh.

"Sekarang!"

Gue lari. Gue pake teknik Kucing Mabuk buat loncat ke ekor naga yang lagi nyabet-nyabet lantai.

HUP!

Gue berhasil nemplok di tulang ekor. Licin banget, Sob! Tulangnya dipoles apa gimana sih ini?

Naga itu sadar ada kutu (gue) di punggungnya. Dia mulai goyang-goyangin badan kayak banteng rodeo.

"Wohooo! Tahan Jin-woo! Anggap ini wahana kora-kora!"

Gue merayap naik. Lewat tulang belakang yang tajem-tajem.

Di bawah sana, Ryong masih lari-larian. Napasnya udah senin-kamis.

"CEPAT SEDIKIT BODOH! AKU SUDAH TIDAK KUAT!" teriak Ryong histeris. Celana sutranya udah robek di bagian paha, nunjukin kulit putih mulusnya. (Maaf fans Ryong, fanservice dikit).

Gue nyampe di pundak naga. Goncangannya makin gila. Gue hampir jatoh dua kali.

Gue liat ke arah kepala naga. Di tengah jidatnya, ada permata merah yang retak dikit.

Itu intinya!

"Mbah Racun! Tembak jidatnya biar retak!" teriak gue.

Tetua Iblis Racun di bawah ngarahin tongkat. "Terima ini! Ludah Iblis!"

SROT! (Namanya jorok banget sumpah).

Cairan ijo melesat, kena tepat di permata merah itu.

Permatanya mendesis, retakannya makin gede.

"Sekarang, Jin-woo! Hancurkan!" teriak Tetua Wi.

Gue udah di atas kepala naga. Gue berdiri (sempoyongan) di antara dua tanduknya.

Gue nggak bawa palu. Pedang Baja Biru ada di Ryong.

Gue cuma punya... Wajan Baja Hitam yang tadi gue pungut lagi pas Ryong ngebuang.

"Maafkan hamba, Naga," ucap gue dramatis. "Ini demi perdamaian dunia dan pelunasan utang kakek gue."

Gue angkat wajan itu tinggi-tinggi. Gue salurin sisa tenaga 'Kucing Mabuk' + sisa 'Pil Anjing' ke tangan gue. Wajan itu bergetar, bersinar item pekat.

"JURUS GEPREK WAJAN MAUT!"

DUAAANGGG!!!

Gue hantamkan pantat wajan itu sekuat tenaga ke permata di jidat naga.

Suaranya nyaring banget kayak lonceng gereja dipukul raksasa. Wajannya penyok ngebentuk cetakan permata.

Permata merah itu hancur berkeping-keping.

Cahaya biru di mata naga langsung padam.

"Graaa..." Naga itu mengerang pelan, lalu lemes.

Tubuh raksasa itu ambruk. Runtuh jadi tumpukan tulang sisa sop buntut.

Gue jatoh bebas dari ketinggian sepuluh meter.

HUP!

Untungnya, Tetua Wi sigap nangkep gue di udara (tumben berguna).

"Kerja bagus, Cucu Durhaka," puji Tetua Wi.

Kami semua ngumpul, napas ngos-ngosan, natap gunungan tulang itu.

Ryong jalan terpincang-pincang nyamperin kami, mukanya cemong, rambutnya kayak singa kesetrum.

"Kalian..." Ryong nunjuk gue pake jari gemetar. "Kalian berhutang nyawa... dan biaya laundry padaku."

Bagaimana bab ini menurutmu?

Rate
← Bab Sebelumnya

Diskusi 0

G