CATATAN SI JIN-WOO: PENDEKAR JALUR BELAKANG
Bab 39 : Harta Karun Paling Tidak Berguna
Konten Premium
Bab ini khusus pembaca berbayar. Dukung penulis dengan membeli akses penuh.
Masuk untuk Membeli AksesBab 39 : Harta Karun Paling Tidak Berguna
Tiba-tiba, suara fanfarr kemenangan terdengar.
TET TERET TET TEEEET!
Kertas confetti jatoh dari langit-langit (entah siapa yang ngelempar).
Hologram Cheon Ma muncul lagi di atas singgasana. Dia tepuk tangan sambil joget kecil.
"LUAR BIASA! AMAZING! KALIAN MENANG!"
"Hadiahnya mana, Woy?!" tagih Tetua Iblis Racun nggak sabaran. "Mana Kitab 'Penyerap Bintang'? Mana Pedang Pembelah Langit?"
"Santai, Bro. Materialistis amat," cibir Cheon Ma.
Lantai di depan singgasana terbuka. Sebuah peti harta karun emas naik perlahan. Peti itu berkilauan, ada ukiran naga dan burung phoenix. Mewah banget.
Kami semua nelen ludah.
Tetua Iblis Racun langsung lari, mau nyamber peti itu. "INI MILIKKU!"
Tapi Ryong—meskipun pincang—lebih cepet. Dia nendang kaki Tetua Iblis, terus nahan peti itu pake pedangnya. "Minggir, Tua Bangka! Ini hak kami!"
"Buka aja bareng-bareng elah!" teriak gue menengahi. "Keburu kiamat nih!"
Kami buka peti itu pelan-pelan. Cahaya emas menyilaukan keluar.
Isinya...
Cuma ada dua benda.
1. Sebuah buku tipis dengan cover warna pink norak.
2. Sebuah kartu lempengan emas tipis dengan deretan angka aneh.
Tetua Iblis Racun ngambil buku itu dengan tangan gemetar. Dia baca judulnya.
"TIPS & TRIK MENJADI IDOLA MURIM: Cara Menaklukkan Hati Wanita dan Menjaga Jambul Tetap On Point".
Karya: Cheon Ma.
Hening.
Tetua Iblis Racun mematung. Mukanya merah padam, urat lehernya mau putus.
"APA INI?! AKU TARUHAN NYAWA DEMI BUKU PANDUAN PLAYBOY?!"
Dia banting buku itu ke tanah, diinjek-injek.
"SABAR KEK! JANGAN DIINJEK!" gue nyelamatin buku itu. "Ini ilmu mahal! Siapa tau gue bisa dapet pacar pake ini!"
Terus gue ambil lempengan emasnya.
"Ini apaan?"
Cheon Ma nyahut, "Itu Black Card Bank Semesta Alam. Saldonya Unlimited. Bisa dipake di seluruh kedai arak dan rumah bordil di dataran tengah. Itu warisan sebenernya. Gue dulu Iblis Langit bukan karena jago berantem doang, tapi karena gue Kaya Raya dan Ganteng. Camkan itu."
Ryong, Ye-in, Tetua Wi, dan Mei Li melongo.
"Jadi... rahasia kekuatan Iblis Langit adalah... duit?" tanya Ryong syok berat. Prinsip hidupnya tentang kerja keras dan latihan hancur seketika.
"Yoi," jawab Cheon Ma. "Uang bisa beli pasukan, bisa beli obat dewa, bisa beli jabatan. Money is Power, Adik-adik."
Tetua Iblis Racun meraung frustasi. "AAAARGHHH! INI PENIPUAN SEJARAH!"
Tiba-tiba, gua mulai bergetar hebat. Runtuhan batu mulai jatoh.
"Ups, durasi sewa tempat abis," kata Cheon Ma sambil liat jam tangan (hantu pake jam tangan?). "Makam ini bakal hancur dalam 3 menit. Pintu keluar ada di belakang singgasana. Bye-bye!"
Hologram ilang.
Gua beneran mau runtuh.
"LARI LAGI?!" teriak kami berenam kompak.
"Ambil kartunya, Jin-woo! Itu masa depan kita!" teriak Tetua Wi.
Gue kantongin kartu emas dan buku panduan playboy itu.
Kami lari ke belakang singgasana. Ada portal cahaya putih.
Tetua Iblis Racun nyoba nyerobot masuk duluan, tapi Mei Li nendang dia sampai mental ke tumpukan tulang naga.
"Ladies first, Jelek!"
Kami loncat masuk ke portal itu tepat saat atap gua runtuh total menimbun makam (dan mungkin Tetua Iblis Racun) selamanya.
WUSH!
...
Kami mendarat di rumput empuk.
Matahari bersinar cerah. Burung berkicau.
Kami selamat.
Gue liat sekeliling. Kami ada di padang rumput hijau yang luas.
"Kita di mana?" tanya Ye-in.
Ryong ngeliat plang jalan di deket situ. Mukanya pucat.
"Ini... Perbatasan Selatan. Markas Besar Keluarga Namgung."
"Hah?" gue kaget. "Maksud lo... kita mendarat di halaman rumah bapak lo?"
Dari kejauhan, terlihat pasukan berkuda dengan bendera Namgung berlari mendekat.
Dan di depan mereka, seorang pria paruh baya yang mukanya mirip Ryong versi galak (Bapaknya Ryong) memimpin pasukan.
"RYONG! ANAK TIDAK BERGUNA! DARI MANA SAJA KAU?!" teriak Bapaknya.
Ryong nengok ke gue. Tatapannya putus asa.
"Jin-woo... pinjam buku Tips Menjadi Idola itu. Aku butuh tips menghadapi bapakku."
Gue nepuk bahu dia. "Tenang, Bro. Kita punya Unlimited Black Card. Kita sogok aja bapak lo."
Dan dimulailah babak baru petualangan kami: Orang Kaya Baru vs Keluarga Konglomerat.