BAB 4

Bab 4 : Hotel Prodeo Bintang Nol

CATATAN SI JIN-WOO: PENDEKAR JALUR BELAKANG

Bab 4 : Hotel Prodeo Bintang Nol

🗓 11 Jun 2025 👁 718 Views

Bab 4 : Hotel Prodeo Bintang Nol

Gua Pertobatan Gunung Hua. Namanya aja udah bikin merinding, kayak judul wahana rumah hantu di pasar malam. Tapi kenyataannya jauh lebih menyedihkan.

Tempat ini lembab, gelap, dan baunya perpaduan antara kaus kaki yang nggak dicuci sebulan sama jamur kuping yang kelamaan direndam. Fasilitasnya? Nol besar. Nggak ada kasur empuk, nggak ada bantal, apalagi layanan room service yang bisa dipanggil buat mesen nasi goreng spesial pedas. Cuma ada tikar jerami yang udah tipis banget, curiga ini jerami sisa makan kudanya Namgung Ryong.

"Dahsyat," gumam gue sambil menyandarkan punggung ke dinding batu yang dinginnya nusuk sampai ke ginjal. "Tetua Baek bener-bener nggak punya prikemanusiaan. Minimal kasih lilin aromaterapi kek, biar aura pertobatannya lebih dapet."

Pintu gua—yang terbuat dari jeruji besi setebal lengan binaragawan—sudah dikunci dari luar. KLANG! Suaranya menggema, menandakan gue resmi jadi penghuni lapas elit ini selama tiga hari ke depan (diskon hukuman, karena gue ngaku kalau gue cuma 'takjub' sama buku itu, bukan mau nyuri).

Untungnya, gue punya bakat terpendam: Tangan Pesulap.

Pas diseret ke sini tadi, gue sempet-sempetnya nyelipin buku "Langkah Kaki Kucing Mabuk" itu ke balik celana dalam. Aman sentosa. Agak gatal dikit sih kena kulit, tapi demi ilmu pengetahuan (dan hiburan), gatal dikit mah lewat.

Gue ngeluarin buku lecek itu. Cahaya di sini minim banget, cuma ada satu obor kecil di lorong luar jeruji yang nyalanya udah kayak hidup segan mati tak mau. Gue harus memicingkan mata kayak nenek-nenek masukin benang ke jarum.

"Oke, mari kita lihat, Kucing Mabuk," bisik gue. "Apa rahasia lo selain bikin orang kelihatan kayak orang ayan?"

Gue buka halaman ketiga. Judulnya: Filosofi Ekor yang Terinjak.

Deskripsi: "Saat musuh menyerang dengan nafsu membunuh, jangan dilawan dengan otot. Jadilah seperti kucing yang ekornya keinjek. Kaget, loncat random, dan bikin musuh bingung: 'Nih anak mau nyerang apa mau step dance?'"

Gue nahan ketawa. Sumpah, ini kitab sakti atau buku harian pelawak stand-up comedy?

"Hei, Bocah."

Suara serak tiba-tiba muncul dari kegelapan di sudut gua yang paling dalam.

Gue langsung loncat—beneran loncat kaget kayak kucing keinjek ekor—dan nempel ke jeruji besi. "Setan! Hantu! Ampun, Mbah! Saya cuma numpang lewat! Jangan makan saya, daging saya alot, kebanyakan makan micin!"

Dari bayang-bayang, sesosok manusia (kayaknya sih manusia) merangkak maju. Rambutnya putih gimbal panjang sampai nyapu lantai, jenggotnya udah kayak sarang burung, dan bajunya cuma kain compang-camping yang lebih banyak bolongnya daripada kainnya. Kakinya dirantai ke bola besi segede semangka.

Orang tua itu mendongak, matanya liar tapi jenaka. Giginya tinggal tiga, dua di atas satu di bawah, formasi bertahan yang solid.

"Siapa yang mau makan kamu?" kekehnya, suaranya kayak engsel pintu karatan. "Daging murid jaman now itu nggak enak. Kebanyakan skincare."

Gue bengong. Ini orang tua gaul amat tau istilah skincare.

"Kek... Kakek siapa?" tanya gue waspada, tangan masih megang erat buku Kucing Mabuk. "Penunggu sini? Alumni murid nakal angkatan Majapahit?"

Orang tua itu menyipitkan mata ke arah tangan gue. "Buku itu..." Dia menunjuk dengan jari gemetar yang kukunya hitam panjang. "Buku biru butut itu... Kau dapat dari mana?"

"Oh, ini?" Gue nyembunyiin buku ke belakang punggung. "Nemudipaviliun. Kenapa? Kakek penulisnya? Jangan minta royalti ya, saya bokek."

Orang tua itu malah ketawa ngakak. Tawanya ngeri, bergema di dinding gua. "Hahahaha! Royalti! Kata yang bagus! Royalti saya dibayar dengan rantai ini selama dua puluh tahun!"

Tiba-tiba dia berhenti ketawa dan menatap gue tajam. Aura gilanya ilang, diganti sama tatapan pendekar sakti yang bikin lutut gue lemes.

"Bocah, bawa sini bukunya. Atau kusesentil biji matamu dari sini pakai angin pukulan."

Gue nelen ludah. Jarak kami lima meter. Tapi gue yakin dia nggak becanda.

Dengan pasrah, gue melempar buku itu ke arahnya. "Nih, Kek. Jangan dirusak ya, belum kelar bacanya."

Bagaimana bab ini menurutmu?

Rate
← Bab Sebelumnya

Diskusi 0

G