BAB 40

Bab 40 : Bertamu ke Rumah Mertua (Eh, Bapaknya Temen)

CATATAN SI JIN-WOO: PENDEKAR JALUR BELAKANG

Bab 40 : Bertamu ke Rumah Mertua (Eh, Bapaknya Temen)

๐Ÿ—“ 22 Aug 2025 ๐Ÿ‘ 732 Views
๐Ÿ’Ž

Konten Premium

Bab ini khusus pembaca berbayar. Dukung penulis dengan membeli akses penuh.

Masuk untuk Membeli Akses

Bab 40 : Bertamu ke Rumah Mertua (Eh, Bapaknya Temen)

Situasi di depan gerbang Keluarga Namgung ini canggungnya ngalahin momen pas lo salah sapa orang di mall.

Di depan kami, berdiri Namgung Jin, Kepala Keluarga Namgung sekaligus bokapnya Ryong. Kumisnya baplang, matanya tajem kayak elang yang lagi PMS, dan di tangannya ada Pedang Besar yang konon beratnya setara dosa koruptor. Di belakangnya, ratusan pasukan elit berbaju zirah biru berbaris rapi.

Di sisi kami?

Gue (Han Jin-woo) pake baju compang-camping sisa perang, leher masih dikalungin rante besi bertuliskan "Bo-Bo".

Namgung Ryong (Tuan Muda) pake sisa kain kuning norak bekas kostum kera, mukanya cemong, rambutnya kayak sarang tawon.

Tetua Wi dan Nenek Mei Li lagi debat bisik-bisik soal siapa yang harus nyapa duluan.

Suster Ye-in satu-satunya yang masih kelihatan agak bener, walau bajunya lecek parah.

"RYONG!" Suara Namgung Jin menggelegar, bikin burung-burung di pohon pada jatuh pingsan. "Jelaskan penampilanmu! Kau terlihat seperti badut sirkus yang gagal audisi!"

Ryong maju selangkah, lututnya gemeteran. "Ayah... ini... ini adalah bentuk latihan mental tingkat tinggi. Latihan... Menahan Malu."

Namgung Jin mendengus kasar. "Latihan? Bersama gembel-gembel ini?" Dia nunjuk gue dan Tetua Wi pake ujung pedangnya. "Siapa mereka? Penculikmu? Atau babumu?"

Gue tersinggung, Bro. Gembel sih gembel, tapi gue gembel high class sekarang.

Gue maju, benerin kerah baju gue yang sobek.

"Permisi, Om. Kenalin, saya Han Jin-woo. Manajer Investasi Pribadi Tuan Muda Ryong. Dan ini..." gue nunjuk Tetua Wi dan Mei Li, "...ini konsultan spiritual dan bodyguard magis kami."

"Manajer Investasi?" Namgung Jin menyipitkan mata. "Kau pikir aku bodoh? Kalian pasti cuma pengemis yang menipu anakku!"

"Tangkap mereka semua! Masukkan ke kandang macan!" perintah Namgung Jin.

Pasukan elit mulai maju. Tombak-tombak diarahkan ke kami.

Ryong panik. "Ayah! Tunggu! Mereka teman-temanku!"

"Temanmu adalah pedang! Bukan sampah!"

Gue ngeliat situasi makin panas. Ini saatnya ngetes 'warisan' Iblis Langit.

Gue rogoh saku celana. Gue ambil Kartu Emas (Black Card) itu.

"Tahan, Om!" teriak gue sambil ngacungin kartu itu tinggi-tinggi. Sinar matahari memantul di permukaan emasnya, bikin silau satu kompi pasukan.

Namgung Jin kaget. Dia nahan langkahnya. Matanya terpaku pada lambang naga kembar di kartu itu.

"Itu... Lambang Bank Semesta Alam? Kartu Emas Hitam?!"

"Yoi, Om," gue nyengir lebar. "Tuan Muda Ryong baru aja menang lotre... eh, maksudnya nemu harta karun. Kartu ini Unlimited. Om mau apa? Renovasi gerbang? Beli kuda impor? Atau mau lunasin cicilan istana?"

Suasana hening. Angin berhembus pelan.

Namgung Jin natap kartu itu, lalu natap Ryong, lalu natap gue.

Ekspresinya berubah drastis. Dari sangar jadi... ramah yang dipaksakan (serem abis).

"Ehem," Namgung Jin nyarungin pedangnya. "Ternyata... Teman-teman Ryong sangat... bonafit. Kenapa tidak bilang dari tadi? Ayo, silakan masuk. Kita bicara di dalam sambil minum teh ginseng kelas satu."

Gue nyenggol sikut Ryong. "Liat tuh. Money talks, Bro. Bapak lo matre juga ternyata."

Ryong cuma bisa mijit pelipisnya. "Aku ingin menghilang dari muka bumi."

Bagaimana bab ini menurutmu?

Rate
← Bab Sebelumnya

Diskusi 0

G