BAB 41

Bab 41 : Sultan Jin-woo dan Sindrom OKB

CATATAN SI JIN-WOO: PENDEKAR JALUR BELAKANG

Bab 41 : Sultan Jin-woo dan Sindrom OKB

πŸ—“ 24 Aug 2025 πŸ‘ 732 Views
πŸ’Ž

Konten Premium

Bab ini khusus pembaca berbayar. Dukung penulis dengan membeli akses penuh.

Masuk untuk Membeli Akses

Bab 41 : Sultan Jin-woo dan Sindrom OKB

Kami disambut kayak tamu negara. Gue dikasih kamar tamu yang luasnya ngalahin lapangan futsal, lengkap sama kasur sutra dan bathtub air anget. Pelayan-pelayan cantik lalu lalang nawarin pijet dan buah anggur.

"Gila, ini baru idup," gumam gue sambil rendeman di bathtub, kaki diangkat ke pinggiran. "Bye-bye asrama murid luar yang bau apek. Hello kehidupan Sultan."

Setelah mandi dan dandan (gue minta pelayan ambilin jubah sutra paling mahal warna merah marun biar kelihatan bold), gue keluar kamar dengan gaya jalan sok asik.

Di ruang tengah, gue ketemu Ryong yang udah balik ganteng. Rambutnya udah rapi, pake jubah biru khas Namgung. Tapi mukanya tetep asem.

"Gimana, Ryong? Bapak lo seneng nggak gue kasih 'donasi' buat perbaikan atap?"

"Kau..." Ryong mendesah. "Kau memberi ayahku cek kosong. Kau tahu betapa bahayanya itu?"

"Tenang, saldonya kan unlimited. Iblis Langit yang bilang. Kalau sampe decline, kita bangkitin aja arwahnya lagi buat komplain."

"Tuan Muda Han!" Suster Ye-in lari nyamperin kami. Dia pake gaun hijau muda yang bikin dia kelihatan kayak dewi musim semi. Cantik banget, sumpah. Gue hampir mimisan.

"Eh, Suster Ye-in. Cantik amat. Mau ke mana?"

"Kita mau ke pasar kota, kan? Katanya kamu mau beli perlengkapan baru?"

"Oh iya! Shopping Time!" seru gue semangat. "Ayo Ryong, lo jadi tour guide. Tunjukin di mana mall paling elit di kota ini."

Kami bertiga (plus Tetua Wi dan Mei Li yang ngekor di belakang sambil gandengan tanganβ€”ciee balikan) pergi ke Distrik Perdagangan Namgung.

Di sana, Sindrom OKB (Orang Kaya Baru) gue kumat parah.

Gue masuk ke Toko Senjata 'Naga Besi'.

"Pedang ini berapa, Bang?"

"100 keping emas, Tuan. Ini pedang langka."

"Bungkus. Sepuluh biji. Buat ganjelan pintu."

Gue masuk ke Toko Obat Herbal.

"Ginseng 500 tahun ada?"

"Ada, Tuan. Tapi harganya..."

"Bungkus semua stok lo. Gue mau bikin jus ginseng nanti malem."

Ryong ngikutin gue di belakang sambil bawa barang belanjaan (karena gue suruh dia jadi porter, dan dia nggak bisa nolak karena bapaknya nyuruh dia 'melayani tamu agung').

"Han Jin-woo... Kau membeli gajah sirkus buat apa?!" Ryong protes pas gue deal sama pedagang hewan eksotis.

"Buat kendaraan taktis, Bro. Kuda itu mainstream. Gajah lebih badass."

Tiba-tiba, keributan terjadi di depan Toko Perhiasan.

Seorang cowok muda dengan kipas lipat dan baju emas norak lagi marah-marah ke pelayan toko.

"Apa maksudmu kalung giok ini sudah dipesan?! Aku Moyong Hui! Tuan Muda Keluarga Moyong! Aku mau barang ini sekarang!"

"Maaf Tuan Muda Moyong," pelayan itu gemeteran. "Tapi kalung ini sudah dibayar lunas oleh Tuan Besar Namgung untuk hadiah..."

"Persetan dengan Namgung!" Moyong Hui nendang etalase kaca. PRANG! "Keluarga Namgung itu cuma kumpulan pendekar pedang otak udang! Mereka lagi bangkrut kan?!"

Gue dan Ryong nyampe di TKP.

Muka Ryong merah padam denger keluarganya dihina. Dia mau maju, tangan udah di gagang pedang.

Tapi gue nahan bahu dia.

"Eits, santai. Jangan pake kekerasan. Kita pake cara elegan."

Gue melangkah maju, kipas-kipas pake gepokan uang kertas (iya, gue tukerin duit di bank tadi).

"Permisi, ada ribut-ribut apa nih? Ganggu orang lagi shopping aja."

Moyong Hui nengok, natap gue dari atas ke bawah. "Siapa kau? Pelayan baru Namgung?"

Gue senyum miring.

"Pelayan? Sori ya. Gue yang punya jalanan ini sekarang."

Gue noleh ke pemilik toko yang ketakutan.

"Pak, toko ini harganya berapa?"

"H-Hah?"

"Gue beli toko ini. Sekarang. Beserta isinya. Beserta tanahnya. Beserta utang-utang bapak lo."

Gue lempar Kartu Emas ke meja kasir.

"Gesek, Pak. Jangan ragu."

Pemilik toko ngeliat kartu itu, langsung sujud syukur. "DEAL, TUAN SULTAN!"

Gue balik badan ke Moyong Hui.

"Nah, Mas Moyong. Toko ini punya gue sekarang. Dan gue punya aturan: No Dogs Allowed. Jadi silakan keluar sebelum gue panggil keamanan."

Wajah Moyong Hui berubah dari merah jadi ungu.

"KAU... KAU MENGHINAKU?!"

"Nggak menghina kok. Cuma ngusir. Satpam! Usir orang ini!"

Dua penjaga toko yang kekar (yang seneng dapet bos baru yang kaya) langsung nyeret Moyong Hui keluar.

"LEPASKAN! AWAS KAU! AKU AKAN ADUKAN KE AYAHKU!"

Gue ketawa puas. "Dahsyat. Ternyata duit lebih tajem dari pedang."

Ryong di belakang gue geleng-geleng kepala, tapi ada senyum kecil di bibirnya. "Kau benar-benar gila, Jin-woo. Tapi kali ini... aku setuju."

Bagaimana bab ini menurutmu?

Rate
← Bab Sebelumnya

Diskusi 0

G