CATATAN SI JIN-WOO: PENDEKAR JALUR BELAKANG
Bab 42 : Buku Panduan "Buaya Darat" Langit
Konten Premium
Bab ini khusus pembaca berbayar. Dukung penulis dengan membeli akses penuh.
Masuk untuk Membeli AksesBab 42 : Buku Panduan "Buaya Darat" Langit
Malamnya, Keluarga Namgung ngadain pesta besar buat menyambut "Tamu Agung" (Gue) dan merayakan kembalinya Ryong. Seluruh tokoh penting dunia persilatan selatan diundang. Aula pesta penuh makanan enak, arak wangi, dan musik tradisional.
Gue duduk di meja utama bareng Namgung Jin, Ryong, dan Ye-in. Tetua Wi dan Mei Li duduk di meja VIP lain (lagi suap-suapan anggur, bikin tamu lain mual).
Masalahnya, gue nggak tau tata krama meja makan orang kaya.
Gue makan ayam goreng pake tangan, kaki diangkat satu ke kursi.
Namgung Jin ngeliat gue dengan tatapan judging, tapi dia nahan diri karena gue "sumber dana".
"Jadi, Nak Han," Namgung Jin basa-basi. "Dari mana asal usul kekayaanmu? Bisnis tambang? Perkapalan?"
"Bisnis... Jasa Pembersihan Makam, Om," jawab gue asal sambil ngunyah paha ayam. "Sangat profitable."
Tiba-tiba, pintu aula terbuka kasar.
Rombongan Keluarga Moyong masuk. Dipimpin oleh Bapaknya Moyong Hui (Moyong Ba) dan Moyong Hui sendiri yang masih dendam sama gue.
"Namgung Jin!" teriak Moyong Ba. "Kudengar kau punya tamu yang berani mempermalukan anakku di pasar!"
Musik berhenti. Suasana tegang.
Namgung Jin berdiri. "Moyong Ba. Jaga sopan santunmu di rumahku."
"Sopan santun?!" Moyong Ba nunjuk gue. "Bocah itu! Dia memperlakukan anakku seperti binatang! Aku menantang duel kehormatan!"
Waduh. Duel lagi. Gue baru aja makan enak.
Ryong bisik ke gue. "Moyong Ba itu ahli Kipas Besi Maut. Tenaga dalamnya tinggi. Hati-hati."
Gue panik. Tenaga dalem gue masih belum stabil, kebanyakan dipake buat lari tadi siang.
Gue butuh trik. Gue butuh bantuan.
Gue inget buku pink norak di saku gue.
"Tips & Trik Menjadi Idola Murim".
Gue buka buku itu diem-diem di bawah meja.
Bab 1: Menghadapi Lawan yang Marah.
Tips: "Jangan dilawan dengan otot. Lawan dengan Karisma. Tatap matanya dengan intensitas 1000 watt. Senyum misterius. Dan ucapkan kalimat sakti: 'Kau marah karena kau peduli padaku, kan?'"
Hah? Ini buku sesat apa gimana?
Tapi gue nggak punya pilihan.
Gue berdiri pelan-pelan. Gue lap mulut gue yang berminyak pake serbet sutra.
Gue jalan mendekati Moyong Ba yang lagi ngos-ngosan nahan emosi.
Semua orang nunggu gue ngeluarin pedang.
Tapi gue malah... masang pose cool (sok cool). Gue nyisir jambul gue ke belakang. Gue tatap mata Moyong Ba dalem-dalem tanpa kedip.
Moyong Ba bingung. "Apa... apa yang kau lakukan? Kenapa kau menatapku begitu?"
Gue maju selangkah lagi, masuk ke personal space dia.
Gue senyum miring (senyum buaya).
"Paman Moyong," suara gue diberat-beratin ala dubber iklan rokok. "Kenapa Paman marah-marah? Nanti kerutan di wajah Paman nambah lho. Sayang kan, wajah segagah ini jadi tua sebelum waktunya."
Hening.
Satu aula hening total.
Moyong Ba melongo. Anaknya, Moyong Hui, mau muntah. Ryong nutup muka pake tangan.
"A-Apa maksudmu?!" Moyong Ba gagap. Auranya goyah.
"Paman sebenernya bukan marah sama saya," lanjut gue, ngikutin instruksi buku (Improvisasi dikit). "Paman cuma... kesepian. Paman butuh perhatian. Butuh teman ngobrol yang mengerti beban seorang pemimpin."
Gue nepuk bahu Moyong Ba pelan.
"Tenang, Paman. Saya di sini. Kita bisa bicarakan ini baik-baik sambil minum teh. Atau kalau Paman mau, saya traktir belanja di toko saya yang baru?"
Moyong Ba, yang seumur hidup cuma tau kekerasan dan intrik politik, nggak siap ngadepin serangan psikologis softboy kayak gini. Otaknya error. Dia ngerasa... dimengerti?
"A-Aku..." Moyong Ba nurunin kipas besinya. Matanya berkaca-kaca. "Memang... menjadi pemimpin itu berat... Tidak ada yang mengerti..."
"Nah, kan," gue rangkul bahu dia. "Yuk, duduk dulu. Kita ngobrol dari hati ke hati. Om Namgung, tolong ambilin arak terbaik buat sobat baru saya ini!"
Gue bawa Moyong Ba duduk. Dia nurut aja kayak kerbau dicocok hidung.
Moyong Hui bengong liat bapaknya dijinakkan dalam 30 detik tanpa pukulan.
Ryong natap gue horor.
"Buku itu... buku itu sihir hitam..." desisnya.
Ye-in malah tepuk tangan kecil. "Wah, Saudara Han hebat! Diplomasi Kasih Sayang!"
Gue duduk sambil ngedip ke Ryong.
"Ilmu Iblis Langit emang beda, Bro. Love is the new weapon."
Tapi di kejauhan, di sudut gelap atap aula, sesosok bayangan mengamati kami.
Seorang wanita bercadar hitam dengan lambang Bunga Merah di bahunya.
"Menarik," gumamnya. "Bocah itu menguasai 'Seni Penggodaan Iblis'. Dia target yang sempurna untuk Sekte Tantra Yin-Yang."
Mampus. Gue baru aja menarik perhatian sekte yang lebih sesat lagi.