CATATAN SI JIN-WOO: PENDEKAR JALUR BELAKANG
Bab 44 : Grand Opening yang Chaos
Konten Premium
Bab ini khusus pembaca berbayar. Dukung penulis dengan membeli akses penuh.
Masuk untuk Membeli AksesBab 44 : Grand Opening yang Chaos
Seminggu kemudian, Grand Opening kedai pertama "Ayam Geprek Iblis Langit" digelar di pusat kota.
Gue nggak main-main soal promosi. Gue sewa seratus merpati pos buat nyebarin brosur diskon 50% ke seluruh penjuru kota.
Depan kedai udah rame antrian ular naga. Bau ayam goreng yang gurih nyebar kemana-mana, bikin orang yang lagi diet langsung tobat.
Di dapur, suasananya kayak medan perang.
"RYONG! POTONG AYAMNYA! JANGAN BENGONG!" teriak gue pake toa.
Namgung Ryong, pake apron gambar ayam lucu di atas jubah birunya, menghunus Pedang Baja Biru. Matanya fokus.
"Jurus Pedang Namgung: Tebasan Hujan Bunga Plum!"
SRING! SRING! SRING!
Sepuluh ekor ayam melayang di udara, dan mendarat di baskom udah terpotong rapi presisi milimeter.
"Bagus! Sekarang goreng!"
Di bagian penggorengan, ada Tetua Wi dan Moyong Hui (yang dipaksa bantuin bapaknya).
"Moyong Hui! Gunakan Kipas Besi-mu buat jaga suhu api tetep stabil!" perintah gue.
"Sialan kau Han Jin-woo! Aku Tuan Muda Moyong, bukan kipas angin kompor!" gerutu Hui, tapi tangannya tetep ngipas rajin banget.
Tetua Wi bagian nyemplungin ayam. "Hup! Hup! Wah, baunya sedap! Nyicip satu ah!"
"JANGAN DICOMOT MULU KEK! ITU BUAT PELANGGAN!"
Di depan kedai, Suster Ye-in lagi ngelayanin pembeli dengan senyum bidadarinya.
"Selamat datang, Kakak Pendekar. Mau dada atau paha? Level pedasnya mau level 'Dicuekin Gebetan' atau level 'Ditinggal Nikah'?"
Para pendekar cowok langsung leleh.
"Paha, Nona! Level Ditinggal Nikah! Tambah nasi dua bakul!"
Bisnis meledak. Koin emas mengalir deras ke laci kasir (yang dijaga ketat sama Mei Li, karena dia paling galak).
Gue duduk di lantai dua, ngeliatin keramaian sambil minum es teh manis.
"Ah, indahnya kapitalisme," gumam gue.
Tiba-tiba, seorang pelayan (mantan preman pasar yang gue rekrut) lari naik ke atas.
"Bos! Bos Gawat!"
"Kenapa? Ayam abis? Minyak tumpah?"
"Bukan! Ada pesanan besar! Delivery Order!"
"Ya bagus dong. Kirim aja."
"Masalahnya, Bos..." si pelayan gemeteran. "Alamat pengirimannya ke Villa Bunga Merah di bukit terlarang. Dan pemesannya minta diantar khusus oleh 'Pemilik Kedai yang Ganteng'."
Gue keselek es batu.
Villa Bunga Merah? Itu kan rumornya tempat angker yang isinya cewek-cewek cantik pemakan jiwa.
"Siapa nama pemesannya?"
"Nona... Yin."
Gue merinding. Yin? Jangan-jangan Sekte Tantra yang kemaren ngincer gue?
Tapi di sisi lain, pesanannya banyak banget: 500 Paket Ayam Geprek Spesial. Nilainya ribuan koin emas.
Jiwa mata duitan gue bergejolak melawan insting bertahan hidup.
"500 paket... Tip-nya pasti gede..."
Gue berdiri. Gue benerin jambul.
"Siapkan gerobak kuda. Ryong! Ikut gue! Kita COD!"
"Aku sibuk goreng!" teriak Ryong dari bawah.
"Gue naikin gaji lo 10%!"
"SIAP BOS!" Ryong langsung lepas apron, lari ke atas. Dasar, ternyata dia juga butuh duit buat beli skincare.