CATATAN SI JIN-WOO: PENDEKAR JALUR BELAKANG
Bab 45 : Jebakan Wangi Parfum
Konten Premium
Bab ini khusus pembaca berbayar. Dukung penulis dengan membeli akses penuh.
Masuk untuk Membeli AksesBab 45 : Jebakan Wangi Parfum
Perjalanan ke Villa Bunga Merah itu sunyi banget. Nggak ada suara jangkrik, nggak ada suara burung. Cuma ada bau wangi bunga mawar yang menyengat di udara.
Gue nyetir kereta kuda (isinya tumpukan kotak ayam), Ryong duduk di sebelah gue sambil waspada megang pedang.
"Perasaanku tidak enak, Jin-woo," bisik Ryong. "Tempat ini terlalu wangi. Biasanya tempat pendekar itu baunya keringat atau darah."
"Positif thinking aja, Ryong. Mungkin mereka kolektor parfum."
Sampailah kami di depan gerbang villa yang megah. Gerbangnya warna merah muda, ada lampion-lampion cantik.
Dua penjaga wanita pake baju sutra tipis menyambut kami.
"Selamat datang, Tuan Ayam," sapa salah satu penjaga dengan suara mendesah. "Nona Besar sudah menunggu di dalam. Silakan masuk... sendiri."
Dia nunjuk gue.
"Lho? Asisten saya nggak boleh masuk?" Gue nunjuk Ryong.
"Tidak. Nona Besar hanya ingin private service dari pemiliknya."
Ryong nahan lengan gue. "Jangan, Jin-woo. Ini jebakan."
Gue natap Ryong, terus natap 500 kotak ayam yang harus dibayar.
"Ryong, kalau gue nggak balik dalam satu jam... tolong apus history pencarian di buku harian gue."
Gue turun dari kereta, bawa satu kotak sampel ayam (sisanya nanti diangkut pelayan). Gue jalan masuk ke dalem villa dengan langkah gagah (padahal lutut gemeter).
Interior villa itu remang-remang, penuh kain sutra transparan yang ngegantung di langit-langit. Wangi dupa bikin kepala gue pusing, tapi pusing enak.
Di tengah ruangan utama, ada dipan besar. Di atasnya duduk seorang wanita dengan cadar merah, pake baju yang... waduh, minim bahan banget, Sob.
"Selamat malam, Tuan Han Jin-woo," sapa wanita itu. Matanya lentik, natap gue seolah gue adalah paha ayam boneless.
"Malam, Nona Yin," gue nyodorin kotak ayam. "Ini pesanan gepreknya. Level pedas 'Neraka Jahanam', sesuai request. Totalnya 5000 koin emas, belum termasuk ongkir."
Nona Yin ketawa kecil. Dia turun dari dipan, jalan mendekat pelan-pelan. Gerakannya kayak uler.
"Uang bukan masalah, Tuan Han. Tapi... aku ingin metode pembayaran lain."
Dia nempel ke badan gue. Wanginya makin kuat. Tangan halusnya meraba dada gue.
"Aku dengar... kau punya Yang (Energi Maskulin) yang sangat murni dan... liar. Campuran antara Kucing Mabuk dan Iblis Langit?"
Glek. Dia tau rahasia gue.
"Anu, Nona... Saya cuma jual ayam, bukan jual diri. Lagian saya belum mandi, bau apek lho."
"Aku suka yang apek," bisiknya di kuping gue.
Tiba-tiba, dia niup serbuk warna pink ke muka gue.
PUFF!
Gue batuk-batuk. "Uhuk! Apaan nih? Bedak bayi?"
Seketika, pandangan gue kabur. Badan gue lemes, bukan lemes sakit, tapi lemes kayak tulang gue jadi agar-agar. Gue ambruk.
Nona Yin nangkep gue dengan mudah.
"Bawa dia ke Kamar Ritual," perintah Nona Yin ke pelayannya. "Malam ini kita akan pesta. Bukan pesta ayam, tapi pesta panen energi."
Samar-samar, gue denger suara Ryong teriak di luar. "JIN-WOO! JANGAN MACAM-MACAM! AKU DOBRAK YA!"
BRAK!
Ryong nyoba masuk, tapi dia langsung dikeroyok selusin cewek cantik bersenjata selendang maut.
"Maaf Ryong... jagain resep ayam gue..."
Kesadaran gue ilang. Gelap.
...
Pas gue bangun, gue udah diiket di atas kasur bunder. Tangan dan kaki gue diborgol pake borgol bulu-bulu halus (Pink pula warnanya).
Di sekeliling gue, ada tujuh wanita cantik duduk bersila membentuk formasi bintang. Nona Yin ada di tengah, megang pisau kecil dan... kemoceng?
"Ayo kita mulai," kata Nona Yin sambil senyum licik. "Kita lihat seberapa tahan 'Kucing Mabuk' ini digelitikin sampai energinya keluar semua."
"TIDAK!!! JANGAN KEMOCENGNYA!!!" teriak gue histeris.