BAB 46

Bab 46 : Nona Ryong-Ryong yang Berotot Kekar

CATATAN SI JIN-WOO: PENDEKAR JALUR BELAKANG

Bab 46 : Nona Ryong-Ryong yang Berotot Kekar

๐Ÿ—“ 03 Sep 2025 ๐Ÿ‘ 719 Views
๐Ÿ’Ž

Konten Premium

Bab ini khusus pembaca berbayar. Dukung penulis dengan membeli akses penuh.

Masuk untuk Membeli Akses

Bab 46 : Nona Ryong-Ryong yang Berotot Kekar

Sementara gue lagi diiket kayak paket kurban di dalem, Namgung Ryong lagi ngadepin krisis identitas di luar tembok villa.

"Tidak mungkin," gumam Ryong sambil ngumpet di balik semak-semak mawar berduri. "Aku adalah Tuan Muda Namgung. Pewaris Pedang Bunga Plum. Aku tidak akan merendahkan diriku lagi setelah insiden 'Kera Sakti' kemarin."

Dia ngintip ke gerbang. Penjaganya cewek-cewek semua, galak-galak, dan mereka baru aja nendang keluar seorang pedagang cowok yang mau nganter galon air.

"Maaf Mas, cowok dilarang masuk area dalam! Taruh di luar aja!"

Ryong sadar. Dia nggak bisa masuk pake cara kekerasan karena (1) Musuhnya cewek (pantang mukul cewek), dan (2) Jumlah mereka banyak banget.

Satu-satunya cara adalah... menyamar.

Ryong ngeliat jemuran di samping pos satpam. Ada beberapa baju pelayan wanita yang lagi diangin-anginin.

Dia nelen ludah. Harga dirinya retak (lagi).

"Demi Jin-woo... Demi resep ayam... Demi hutang budi..."

Lima menit kemudian.

Sesosok "wanita" jangkung berjalan menuju gerbang. Tingginya hampir dua meter. Bahunya bidang banget kayak atlet binaraga. Dia pake cadar pink, dan gaun sutra hijau yang... SANGAT kekecilan. Bagian lengan gaunnya robek dikit karena nggak muat nampung otot bisep Ryong. Dia jalan dengan gaya aneh, kayak orang nahan boker biar kelihatan feminin.

"Berhenti!" bentak penjaga gerbang. "Siapa kamu? Anggota baru?"

Ryong berdehem, nyoba ninggiin suaranya.

"Ehem... I-Iya, Kakak. Nama saya... Rara. Saya baru dimutasi dari cabang dapur. Saya disuruh nganter... tisu toilet darurat buat Nona Yin."

Penjaga itu menyipitkan mata, curiga. Dia ngeliat dada Ryong yang rata (tapi bidang).

"Kok dadamu bidang banget, Ra? Sering bench press?"

Ryong panik. "O-Oh, ini... genetik, Kak. Dulu saya sering bantuin bapak manggul beras di desa. Wanita tangguh gitu lho. Girl Power."

Penjaga itu manggut-manggut kagum. "Wah, bagus. Kita butuh tenaga kasar buat mijit Nona Yin. Masuklah."

Ryong masuk sambil nahan napas. Dia jalan jinjit-jinjit.

Setiap kali dia lewat, pelayan-pelayan lain pada bisik-bisik.

"Itu anak baru gede banget ya."

"Iya, betisnya berbulu lagi. Eksotis."

Ryong ngebatin nangis. Ayah... maafkan anakmu. Pedangku menangis melihat ini.

Bagaimana bab ini menurutmu?

Rate
← Bab Sebelumnya

Diskusi 0

G