BAB 47

Bab 47 : Meditasi Batu Kali vs Kemoceng Maut

CATATAN SI JIN-WOO: PENDEKAR JALUR BELAKANG

Bab 47 : Meditasi Batu Kali vs Kemoceng Maut

๐Ÿ—“ 05 Sep 2025 ๐Ÿ‘ 732 Views
๐Ÿ’Ž

Konten Premium

Bab ini khusus pembaca berbayar. Dukung penulis dengan membeli akses penuh.

Masuk untuk Membeli Akses

Bab 47 : Meditasi Batu Kali vs Kemoceng Maut

Kembali ke kamar eksekusi (baca: kamar tidur Nona Yin).

Gue masih terikat tak berdaya. Nona Yin udah siap dengan kemoceng bulu angsa di tangan kanan dan pisau kecil di tangan kiri.

"Kita mulai pemanasan dulu ya, Sayang," bisik Nona Yin. "Tujuan kita adalah membuat energimu meluap keluar karena... ekstasi yang berlebihan."

Dia mulai ngegelitikin telapak kaki gue pake kemoceng.

"PFFFTT! HAHAHA! JANGAN NEK! GELI!"

Gue langsung ketawa ngakak. Badan gue kejang-kejang. Sumpah, gue nggak tahan geli. Ini lebih parah daripada disiksa pake besi panas.

"Bagus... tertawalah..." Nona Yin senyum puas. Dia liat aura emas (Qi Iblis Langit) mulai rembes keluar dari pori-pori gue. "Energi murninya mulai keluar."

Gue sadar gue dalam bahaya. Kalau energi gue abis, gue bakal jadi mayat kering.

Gue harus ngelawan! Gue butuh fokus!

Tetua Wi pernah bilang: "Kalau pikiranmu kacau, jadilah seperti Batu Kali. Cuek, dingin, nggak peduli meski dikencingin ikan."

Gue merem. Gue tarik napas.

Gue bayangin hal-hal paling nggak banget di dunia ini buat ngilangin rasa geli dan godaan Nona Yin yang sekarang mulai meraba paha gue.

Bayangin Tetua Wi lagi ngupil.

Bayangin utang kartu kredit.

Bayangin muka Namgung Jin pas marah.

Bayangin soal matematika: Jika kereta A berangkat jam 7 dengan kecepatan 80km/jam...

"Hhgg..." Gue nahan ketawa. Muka gue merah padam.

Nona Yin bingung. "Lho? Kok berhenti ketawanya? Padahal aku sudah gelitikin ketiakmu."

Gue buka mata. Tatapan gue kosong melompong.

"Maaf Nona," kata gue datar, niruin suara Google Translate. "Syaraf geli saya sedang offline. Silakan coba lagi nanti."

Nona Yin kesel. "Oh, main tahan-tahanan ya? Baik. Kita naikkan levelnya."

Dia melempar kemocengnya. Dia mendekatkan wajahnya ke wajah gue, bibirnya cuma berjarak satu senti. Wangi parfumnya bikin pusing.

"Bagaimana kalau aku menciummu sampai napasmu habis?"

Pertahanan "Batu Kali" gue goyah.

Waduh. Ini serangan fatal. Jomblo karatan kayak gue mana kuat!

Jantung gue dag-dig-dug lagi. Aura emas gue bocor deres banget.

"Kena kau!" seru Nona Yin. Dia siap-siap nyedot energi gue lewat ciuman maut.

Gue panik. Gue butuh pengalihan!

"TUNGGU! NONA! ADA KECOA DI RAMBUT NONA!"

"Hah?! Mana?!" Nona Yin jerit, langsung mundur dan nepuk-nepuk rambut indahnya. Cewek tetep cewek, mau pendekar sesat juga takut kecoa.

Bagaimana bab ini menurutmu?

Rate
← Bab Sebelumnya

Diskusi 0

G