CATATAN SI JIN-WOO: PENDEKAR JALUR BELAKANG
Bab 48 : Tragedi Gaun Robek dan Kabur Cantik
Konten Premium
Bab ini khusus pembaca berbayar. Dukung penulis dengan membeli akses penuh.
Masuk untuk Membeli AksesBab 48 : Tragedi Gaun Robek dan Kabur Cantik
Saat Nona Yin lagi sibuk nyari kecoa imajiner, pintu kamar didobrak dari luar.
BRAKKK!
"HENTIKAN PERBUATAN HINA INI!"
Suara bariton yang berat menggelegar.
Masuklah sosok raksasa bergaun hijau yang kekecilan. Cadarnya udah miring.
Nona Yin melongo. "Siapa makhluk jadi-jadian ini?!"
Ryong (Nona Rara) berpose heroik.
"Aku adalah... Pembela Kebenaran! Nona Rara!"
Dia melangkah maju, tapi...
KREK!
Suara jahitan robek terdengar nyaring. Gaun di bagian punggung Ryong menyerah terhadap otot punggungnya. Gaun itu robek terbelah dua, nunjukin punggung kekar penuh bekas luka.
Nona Yin: "..."
Gue: "..."
Para pelayan tantra: "..."
"Anu... itu model backless, lagi tren," kata Ryong kikuk.
"ITU COWOK! SERANG!" teriak Nona Yin sadar.
Lusinan selendang sutra melesat nyerang Ryong.
"Pedang Bunga Plum!" Ryong (karena pedangnya disita di luar) ngambil kemoceng yang jatoh di lantai. Dia alirin tenaga dalam ke kemoceng itu. Bulu-bulu kemoceng jadi tajem kayak jarum.
WUSH! WUSH!
Ryong nangkis selendang-selendang itu pake kemoceng. Aksi yang sangat... domestic warrior.
"Jin-woo! Kabur!" teriak Ryong sambil melempar pisau kecil ke arah gue.
Pisau itu motong tali ikatan gue.
Gue bebas!
"Makasih, Nona Rara! Love you full!"
Gue loncat turun dari kasur. Tapi gue nggak langsung lari keluar.
Jiwa kapitalis gue berteriak.
Gue lari ke meja rias Nona Yin. Di situ ada kantong koin emas (bayaran ayam tadi).
HAP! Gue sakuin duitnya.
"Uang ayam aman! Ayo cabut!"
Nona Yin murka. "KEMBALIKAN UANGKU DAN ENERGIMU!"
Dia mau ngejar, tapi Ryong ngehalangin jalan dia sambil muter-muter kemoceng.
"Lawanmu adalah aku, Nenek Sihir!"
"Nenek?! Aku baru 25 tahun!" Nona Yin ngamuk, ngeluarin jurus 'Tarian Bunga Beracun'.
Ryong kewalahan. "Jin-woo! Bantu aku!"
Gue liat ada gentong bedak di meja rias.
"Ryong! Tutup mata!"
Gue tendang gentong bedak itu ke arah Nona Yin.
PYAR!
Debu bedak warna putih meledak memenuhi ruangan. Nona Yin dan pelayannya batuk-batuk, pandangan mereka kabur.
"Sekarang!"
Gue tarik tangan Ryong. Kami lari nabrak jendela.
PRANG!
Kami loncat keluar dari lantai dua, mendarat (agak sakit) di semak-semak bawah.
"Lari ke kereta kuda!"
Kami lari terbirit-birit. Ryong lari sambil megangin gaunnya yang udah robek parah, gue lari sambil megangin celana (karena sabuk gue ketinggalan di dalem).
Kami loncat ke kereta kuda. Gue pecut kudanya.
"HYAAH! JALAN, KUDAL! JALAN!"
Kuda itu meringkik kaget dan langsung lari kenceng ninggalin Villa Bunga Merah.
Di belakang, terdengar teriakan histeris Nona Yin. "AWAS KALIAN! AKU AKAN VIRALKAN KALIAN DI DUNIA PERSILATAN!"
Di atas kereta yang berguncang, gue dan Ryong napas lega.
Ryong nyopot cadarnya, mukanya merah padam nahan malu. Gaun hijaunya compang-camping.
"Jin-woo," kata Ryong dingin. "Kalau kau cerita soal gaun ini ke siapapun... termasuk Suster Ye-in... aku akan memotong itu-mu dan menggorengnya jadi ayam geprek."
"Siap, Bos. Rahasia aman," gue nyengir sambil ngitung koin emas. "Tapi lo cantik juga pake ijo. Cocok sama warna mata lo."
Ryong mau nonjok gue, tapi dia terlalu capek.
"Kita pulang," katanya lelah. "Aku butuh mandi tujuh kembang buat ngebersihin aib ini."
Tapi... masalah belum selesai.
Gue ngeliat Kartu Emas di saku gue. Kartunya... berasap?
Dan ada tulisan menyala di permukaannya:
PERINGATAN: TRANSAKSI MENCURIGAKAN DI TEMPAT HIBURAN MALAM TERDETEKSI. KARTU DIBEKUKAN SEMENTARA SAMPAI PEMILIK MELAKUKAN VERIFIKASI WAJAH DI KANTOR PUSAT.
"Waduh," gumam gue.
"Kenapa?" tanya Ryong waspada.
"Kartu saktinya... keblokir. Kita nggak bisa bayar gaji karyawan besok."
Ryong natap gue. Gue natap Ryong.
"HAN JIN-WOO!!!"