BAB 49

Bab 49 : Krisis Moneter dan Bebek Tetangga

CATATAN SI JIN-WOO: PENDEKAR JALUR BELAKANG

Bab 49 : Krisis Moneter dan Bebek Tetangga

🗓 09 Sep 2025 👁 716 Views
💎

Konten Premium

Bab ini khusus pembaca berbayar. Dukung penulis dengan membeli akses penuh.

Masuk untuk Membeli Akses

Bab 49 : Krisis Moneter dan Bebek Tetangga

Pulang ke Kedai Ayam Geprek Iblis Langit dengan harapan bisa istirahat tenang adalah sebuah kesalahan besar. Harapan itu musnah secepat duit gaji numpang lewat di rekening.

Di depan kedai kami yang biasanya rame antrian, sekarang kosong melompong. Nggak ada satu pun pelanggan. Yang ada malah barisan karyawan kami sendiri—para preman insyaf yang gue rekrut—lagi duduk-duduk di depan pintu sambil bawa spanduk dari kain lap kotor.

Tulisannya: "GAJI TELAT, KAMI MOGOK! NO MONEY, NO CRISPY!"

"Waduh," gumam gue sambil turun dari kereta kuda. "Demo buruh, Sob."

Ryong, yang udah ganti baju (tapi mukanya masih sisa-sisa bedak Nona Rara), langsung dihadang sama Kepala Koki (mantan algojo kapak merah).

"Bos Ryong! Bos Jin-woo! Mana gaji mingguan kami?! Katanya bonus Unlimited?! Istri saya di rumah butuh beli susu kuda liar!"

"Tenang, tenang, Saudara-saudara!" gue nyoba nenangin massa. "Ada kendala teknis dikit. Kartu Sultan gue lagi... ehem... maintenance sistem. Besok pasti cair!"

"BOHONG!" teriak karyawan lain. "Kami denger Bos abis foya-foya di Villa Bunga Merah!"

Gue dan Ryong saling pandang. Gosip di dunia persilatan cepet banget nyebarnya, kayak virus flu burung.

"Dan bukan cuma itu masalahnya, Bos," kata Kepala Koki sedih. Dia nunjuk ke seberang jalan. "Liat itu."

Gue nengok.

Tepat di seberang kedai kami, berdiri bangunan baru yang megah, warnanya emas mencolok. Spanduk raksasa terpasang di depannya:

"BEBEK BAKAR MOYONG - RASA SULTAN, HARGA TEMAN. GRATIS ES TEH SEUMUR HIDUP!"

Dan di depan kedai itu... SEMUA pelanggan kami ada di sana. Antriannya panjang banget.

Moyong Hui berdiri di balkon lantai dua, ngipasin diri pake kipas bulu merak, ketawa sombong.

"Hahahaha! Lihatlah, Namgung Ryong! Han Jin-woo! Ayam goreng kalian sudah kuno! Sekarang jamannya Bebek Peking ala Moyong!"

Gue ngeremes saku celana yang isinya cuma recehan sisa kembalian dan Kartu Emas yang mati suri.

"Sialan. Dia main predatory pricing. Gratis es teh seumur hidup? Itu strategi bakar duit gila-gilaan!"

Ryong menggeram. "Moyong Hui... Dia sengaja menjatuhkan kita saat kita lemah."

"Bos," tagih Kepala Koki lagi, kali ini sambil ngasah golok. "Jadi gajinya gimana? Kalau nggak cair sekarang, kami pindah kerja ke seberang. Tuan Moyong nawarin gaji dua kali lipat."

Gue nelen ludah. Skakmat.

Gue butuh duit tunai. SEKARANG.

Gue liat Ryong. Gue liat Ye-in yang baru keluar dari dapur dengan muka cemas. Gue liat Tetua Wi yang lagi nyopet dompet pelanggan di seberang (dasar tua bangka nggak guna).

"Kasih gue waktu satu jam!" teriak gue ke para karyawan. "Gue bakal cari duit cash buat bayar kalian semua, plus bonus martabak!"

"Satu jam, Bos!" ancam Kepala Koki. "Lewat semenit, kedai ini kami jadiin kandang bebek!"

Bagaimana bab ini menurutmu?

Rate
← Bab Sebelumnya

Diskusi 0

G